
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari covernya saja. Karena luar tak bisa mencerminkan bagaimana sikap asli seseorang. ~Khali Mateen~
****
Tengah malam, ketika dua insan sedang asyik bergelung di dalam selimut. Seorang pria bergerak meregangkan ototnya sambil membuka mata. Diusapnya wajah begitu pelan dan dia mendudukkan dirinya.
Walau cahaya di kamar begitu temaram. Khali masih mampu melihat dengan jelas bahwa jam di dinding menunjukkan pukul satu malam. Menoleh ke nakas samping ranjang, Khali menghembuskan nafas kecewa mendapati gelas minumnya kosong.
Segera dia menyibak selimut dan membenarkannya lagi, karena takut istrinya itu terbangun. Tanpa banyak kata, Khali melangkahkan kakinya menuju dapur istana dalam kesunyian malam.
Hingga tanpa sengaja, saat melewati depan kamar tamu, dia berpapasan dengan seorang pengawalnya.
"Apa ada yang Anda butuhkan?" tanya Pengawal itu setelah memberikan salam hormat.
"Ya. Saya ingin mengambil air putih."
"Biar saya ambilkan, Tuan," ujar Pengawal itu yang langsung dijawab gelengan olehnya.
"Tidak perlu. Biar saya sendiri."
Khali segera meneruskan langkahnya menuju dapur karena tenggorokannya begitu kering. Sesampainya di sana, diambil teko dengan corak emas dan menuang isinya ke dalam gelas. Lalu dia segera membawanya ke meja makan.
Khali segera meneguk air putih itu sambil duduk, hingga tak lama suara gesekan sandal membuatnya menoleh.
"Oh. Maaf Raja Khali. Saya kira tak ada orang di dapur."
__ADS_1
Khali spontan beranjak berdiri. "Tidak apa-apa, Putri Rafiena."
"Apa Anda sendirian disini?" tanya Rafiena mendekat.
"Ya. Saya cuma haus jadi mengambilnya air kesini," ucap Khali menunjukkan gelas kosong.
"Lalu istri Anda?"
"Istri saya tidur, Putri," sahut Khali sambil bergerak ke belakang ingin meletakkan gelas.
"Istri macam apa itu, Raja. Suaminya haus dia malah asyik dengan tidurnya."
Khali spontan berhenti. Dia membalikkan tubuhnya menatap Putri Rafiena dengan tajam.
"Anda tidak perlu repot-repot menilai bagaimana sikap istri saya, Putri. Bagaimanapun hanya saya yang mengenal sikap istri saya dengan baik," ujarnya penuh penekanan.
"Maksud saya bukan-bukan…"
"Saya tidak butuh pendapat Anda. Lain kali, jangan pernah melihat dan menilai seseorang bila Anda tidak mengenalnya," ucap Khali sambil menunjuk Putri Rafiena. "Karena tidak semua cover seseorang, melambangkan kepribadiannya."
"Ada yang jelek luarnya, tapi baik di dalam. Begitupun sebaliknya. Ada yang baik, tapi dalamnya begitu busuk."
Setelah mengatakan itu, Khali segera meletakkan gelas itu di meja makan dan pergi meninggalkan Rafiena sendirian.
Jujur Khali begitu marah, bila ada orang yang menilai istrinya dengan sesuka hati. Bagaimanapun, mereka belum mengenal Aqila dengan baik. Toh tugas istri juga, bukan melulu melayani sang suami.
Selagi Khali bisa melakukan sendiri, kenapa harus mengganggu kegiatan tidur istrinya. Tak mau emosinya semakin memuncak, Khali segera naik ke atas ranjang dan memeluk Aqila dengan erat.
__ADS_1
Hingga pergerakannya itu membuat Aqila yang tidur menjadi terusik dan terbangun.
"Kamu bangun, By?" tanya Aqila dengan suara serak khas orang bangun.
"Iya, Sayang. Kenapa kamu bangun?" tanya Khali mencium dahi Aqila membuat gadis itu tersenyum.
Pandangan keduanya memang tak begitu jelas karena cahaya yang temaram. Namun, untuk melihat wajah mereka dengan samar, Khali dan Aqila masih bisa.
"Hubby peluk Aqila erat banget. Jadinya Qila kaget."
"Maafkan Hubby yah."
Aqila mengangguk. Lalu keduanya mulai tidur kembali agar bisa bangun pukul tiga pagi untuk menyelesaikan shalat malam di waktu terakhir. Khali seakan melupakan gadis yang sudah dia tinggal di meja makan sendiri.
****
Di sisi lain.
Gadis dengan wajah merah padam tengah mengamuk. Dia melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak abrik selimut beserta spreinya. Sungguh Rafiena begitu tak terima dengan perkataan Khali tadi. Seakan perkataannya berupa sindiran itu ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Lihat saja. Akan aku buktikan kalau kamu bisa menjadi milikku. Akan kubuat kamu bertekuk lutut di kakiku, dan akan kutendang istrimu itu keluar dari istana ini."
~Bersambung~
Mimpilah selagi mimpi itu indah Putri, hahaha.
Jangan lupa like dan votenya yah~~~
__ADS_1