
Aku percaya, jika setiap usaha akan ada hasil yang memuaskan. Bila kita memang bersungguh-sungguh dalam meraihnya. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Saat pembicaraan empat lelaki itu terlihat begitu serius. Tiba-tiba terdengar ponsel dari saku Ammar yang berbunyi nyaring. Pria itu langsung meminta maaf dan izin untuk mengangkat panggilan itu.
Merogoh saku celananya, dia mengerutkan kening melihat nama yang tertera di sana. Tanpa berpikir panjang, segera Ammar mengangkat panggilan itu dengan tenang. Terlihat wajah tampannya sedikit bingung. Namun, tiba-tiba dia mengangguk setelah mendengar jawaban dari seberang.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang."
Setelah mengatakan itu, panggilan terputus dan Ammar kembali ke tempat semula.
"Ada apa, Raja Ammar?" Tanya Khali ketika melihat raut berubah dari wajah Ammar.
"Sebenarnya saya mendapatkan telepon dadakan dan diminta segera kembali ke Malaysia," ucap Ammar hati-hati.
"Apa ada masalah, Raja?" Tanya Datuk Wan serius.
"Ibunda sedang sakit. Jadi kita diminta cepat pulang," ujar Ammar membuat Datuk Wan mengerti.
Ibunda yang dimaksud adalah ibu dari Ammar dan Rafiena. Hingga kabar tak mengenakkan ini, tentu membuat keduanya harus kembali.
Segera Ammar dan Datuk Wan kembali ke dalam Istana dan memberikan kabar kepada sang adik, Rafiena.
"Terima kasih atas segala jamuannya, Raja Khali. Kami juga minta maaf, bila ada salah kata atau perbuatan salah selama disini," ujar Raja Ammar sambil berjabat tangan dengan Raja Khali.
"Sama-sana, Raja Ammar."
__ADS_1
"Kami pamit ya, Tuan Malik," ucap Datuk Wan dan berpelukan dengan ayah dari Khali.
Begitupun dengan Rafiena. Gadis itu mencium punggung tangan Umi Mayra dan memeluk wanita yang melahirkan cintanya itu.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Ibunda selama Rafiena disini," ucap Rafiena lalu melepaskan pelukan keduanya.
"Sama-sama, Putri. Semoga Putri Rafiena tak kecewa dan kapok untuk datang kesini."
"Rafiena gak kecewa, Umi. Malah nyaman tinggal disini," ucap Rafiena melirik Aqila sambil tersenyum penuh maksud.
Bergeser, dia berhadapan dengan lawan musuhnya. Tanpa ragu, Rafiena memeluk Aqila tanpa ragu.
Dia mengusap punggung wanita itu dan berbisik lirih di telinganya.
"Jangan bahagia dulu. Aku hanya pergi sejenak dan akan kembali untuk merebut segalanya."
Aqila tersenyum, "dan aku akan menunggu kapan waktu itu tiba."
Setelah itu, Khali mulai menggandeng tangan istrinya dan mereka menuju ruang keluarga. Namun, saat Aqila hendak duduk. Dia merasa ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya hingga membuatnya tak nyaman.
"Aku ke kamar dulu ya, Abi, Umi, Hubby." Izin Aqila dengan wajah panik.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Khali ikut beranjak dari duduknya.
"Anu, By. Sebentar aku ingin memastikan sesuatu."
Aqila mulai melangkah cepat menuju kamarnya diikuti Khali. Dia merasakan jantungnya berdebar kencang. Pikirannya mulai berkelana dan berharap semoga apa yang ada di otaknya sekarang, benar-benar terjadi.
Memasuki kamar mandi. Aqila seger mengecek dan akhirnya,
__ADS_1
Air matanya mengalir. Dia menatap cairan merah yang menandakan bahwa dia datang bulan, dan baru hari ini. Dia bisa kedatangan tamu bulanan tanpa telat begitu lama.
Doa penuh syukur dia panjatkan hingga Aqila tersentak dengan gedoran dari pintu kamar mandi.
"Sayang kamu baik-baik aja?" Ujar Khali sambil menggedor pintu.
"Sayang!"
"Iya, By. Sebentar," sahut Aqila membuat gedoran itu berhenti.
Wanita itu segera mengambil pembalut yang selalu ada di kotak lemari didalam kamar mandi dan memakainya. Setelah selesai, Aqila segera keluar dengan mata basah dan senyuman lebar.
"Kamu menangis, Sayang?" Tanya Khali panik.
"Aku bahagia, By. Aku bahagia." Aqila berhambur ke dalam pelukan Khali hingga membuat pria itu kebingungan.
"Bahagia? tapi kenapa kamu menangis?"
Aqila melepas pelukan keduanya kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya. Ditatapnya mata sang suami, lalu di cangkupnya kedua pipi Khali hingga wajah mereka berdekatan.
"Hari ini aku halangan, By. Itu tandanya bahwa waktu halangan aku mulai normal."
"Alhamdulillah."
Khali melakukan sujud syukur, kemudian dia berdiri dan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Diciumnya pucuk kepala sang istri karena Khali merasa begitu bahagia.
Sungguh semoga ini adalah awal dari perjalanan usaha mereka. Semoga apa yang mereka lakukan kali ini akan membuahkan hasil membahagiakan untuk mereka semua.
~Bersambung~
__ADS_1
Si Raflesia dah balik. Apakah sudah mulai aman?
Maafkan telat update yah. Tadi siang aku malah tidur dan lupa ngetik, hehe.