
Terkadang obat dari sebuah ujian adalah keadaan sekitar kita. Bila kita bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang, maka ujian itu seakan tak begitu terasa dalam hidup kita. ~Khali Mateen~
****
Setelah melakukan serangkaian cek, akhirnya pasangan suami istri itu segera kembali ke rumah. Keduanya mendapatkan kabar, bila Xalena kembali rewel hingga tak ada yang mampu menenangkannya. Maka dari itu, akhirnya hasil dari semua yang sudah dilakukan oleh Aqila akan keluar besok.
"Kami minta maaf sebesar-besarnya, Dok. Tidak bisa menunggu hasilnya karena keponakan saya sudah begitu rewel," ucap Aqila penuh sesal.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Besok hasil Anda akan keluar," ucap Dokter Tia dengan lembut.
"Iya, Dok. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Aqila beranjak dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Aqila dan Khali segera keluar dari ruang pemeriksaan. Pasangan suami istri itu selalu terlihat romantis dari pandangan mata orang lain. Sepasang manusia yang dianugerahi wajah tampan dan cantik, begitu terlihat cocok ketika berjalan bersama.
Tentu siapapun yang melihat pasti akan ada rasa kagum dan iri secara bersamaan. Maka dari itu, terkadang baik Aqila maupun Khali meminimalisir keromantisan keduanya saat berada di luar.
"Kita langsung pulang berarti, Sayang?"
__ADS_1
"Iya, By. Xalena nangis lagi. Aku jadi kepikiran sama dia," ucap Aqila yang berkali-kali mengotak-atik ponselnya saling berkabar dengan kakak kandungnya, Adel.
Perjalanan yang singkat, terasa begitu lama untuk keduanya. Mungkin karena keadaan keduanya yang panik dan bingung, membuat jalan yang tampak dekat, terasa begitu lama.
Hingga tak lama, akhirnya perjalanan panjang itu berakhir dan Aqila segera keluar dari mobil menuju ke dalam rumah.
Baru saja Aqila memasuki rumah. Suara tangisan Xalena terdengar begitu kencang. Dengan bergegas, wanita itu menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya dan kembali ke ruang keluarga.
"Sini aku bantu, Kak," ujar Aqila kepada istri Axel.
"Maafin Mbak ya, Dek. Mbak ngerepotin adek banget," sesalnya sambil menepis air mata yang hampir jatuh.
"Jangan katakan itu, Mbak. Aku sudah anggap Xalena seperti putriku sendiri," ungkap Aqila sambil menimang bayi mungil itu.
Dia membawa bayi itu menjauh dari keramaian menuju teras rumah. Waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, tentu membuat udara sedikit lebih dingin.
Mungkin karena kelelahan menangis, akhirnya tak sampai sepuluh menit, Bayi Xalena mulai tertidur di gendongan Aqila. Wanita itu begitu gemas dan merasa kesepiannya sedikit terhapus dengan kehadiran anak dari kakaknya itu.
"Doakan Aunty bisa punya yang seperti kamu ya, Nak," ucap Aqila dengan pelan.
__ADS_1
Tanpa disadari olehnya, Khali yang mengikuti istrinya itu menjadi tersenyum getir. Akan tetapi, dia tetap mengaminkan doa Aqila karena bagaimanapun harapan keduanya tetap sama.
"Aamiin."
Aqila tersentak kaget. Dia menoleh dan mendapati sang suami tengah tersenyum manis kepadanya. Tentu dirinya tahu betul, sepertinya sang suami mengetahui doanya.
"Apa Hubby mendengar doa Qila?" tanyanya setelah Khali ada di dekat mereka dan mengusap dahi bayi mungil itu.
"Tentu saja. Semoga Allah segera menitipkan bayi mungil seperti Xalena di perut, Umma."
Mata Aqila berkaca-kaca. Dia tak menyangka suaminya tahu betul sapaan yang ingin Aqila gunakan ketika mereka memiliki seorang anak.
"Jangan menangis, Umma," ucap Khali menghapus air mata yang sudah menetes di pipi istrinya. "Nanti kita pasti bisa merasakan menggendong bayi mungil kita sendiri."
Aqila mengangguk. Dia menghambur ke pelukan sang suami walau ditahan dengan keberadaan Xalena. Kebahagiaan seperti ini saja sudah begitu berarti untuk Aqila. Dia bersyukur diberikan suami yang selalu ada untuknya, keluarga yang mensupport dirinya dan juga Allah yang selalu bersamanya hingga membuatnya kuat menjalani semuanya sampai di titik ini.
~Bersambung~
Jangan lupa like~~~
__ADS_1