Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 9


__ADS_3


Jadilah sandaran, ketika istrimu sedang rapuh dan jadilah support terbaik, ketika istrimu mulai merasa lelah. ~Khali Mateen~


****


Tak lama, pelayan datang menyuguhkan minuman dan cemilan di atas meja. Aqila tersenyum, melihat kue kesukaannya tersaji disana.


"Mama masih ingat kue yang Qila suka?" tanya Aqila dengan binar mata bahagia. 


"Masih dong. Kesukaan anak Mama kok dilupain," ujar Mama Angel.


"Makasih ya, Ma."


"Sama-sama, Nak. Dimakan yah." Aqila mengangguk.


Semua yang dilakukan oleh Aqila, tak luput dari penglihatan Khali. Dia tak menyangka istrinya begitu bahagia diajak pulang ke Indonesia. Ada perasaan menyesal, kenapa tak dari dulu dia melakukan hal itu.


Namun, Khali berharap. Walau ini sudah begitu terlambat, semoga mampu mengobati rasa sakit di hati istrinya. Mengobati luka tentang kejadian kemarin perihal telat datang bulan. Mengobati segala harapan yang pupus dan semoga bisa diganti dengan kebahagiaan dari keluarganya.


Untuk bahagiamu, aku berjanji akan melakukan apapun itu, Sayang, batin Khali menatap sang istri. 


Tak lama, langkah kaki dengan suara ocehan yang begitu dia kenali, membuat Aqila mendongak. Matanya langsung menatap ke arah kakak dan kakak iparnya.


Matanya berkaca-kaca, menatap wajah bahagia yang tercetak jelas pada Kakaknya.


"Adikku," panggil Axel bahagia.


Adik dan kakak itu segera berpelukan. Bahkan Axel sampai menjatuhkan ciuman di kepala Aqila. Dia tak menyangka keinginannya selama ini bisa terwujud. Melihat adiknya dan memeluknya seperti ini benar-benar nyata.

__ADS_1


"Terima kasih sudah pulang kesini untuk, Kakak," bisik Axel membuat Aqila semakin mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama, Kak."


Tak lama, terdengar suara tangisan kecil seorang bayi, yang membuat pelukan keduanya terlepas. Aqila menatap bocah kecil itu, manis dan begitu menggemaskan.


"Hmm putri ayah kenapa, Nak?" goda Axel sambil menciumi wajah sang putri. 


Aqila bisa melihat bagaimana harmonisnya keluarga sang kakak. Ditambah kebahagiaan yang terpancar jelas dari raut wajah Axel dan istrinya, semakin membuat sesuatu dalam hati Aqila berdenyut.


Bagaimanapun dia bersikap.


Bagaimanapun dia menerima.


Bagaimanapun dia mencoba mengalahkan rasa di hatinya, pasti akan ada sedikit rasa iri dan sakit. 


Apalagi pernikahannya yang lebih lama dari sang Kakak, semakin membuat Aqila merasa insecure. Namun, dengan begitu pandainya, wanita itu mampu menutupi segala kesedihan dalam dirinya dengan senyuman.


Aqila tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi sang ponakan. Matanya berkaca-kaca. Namun, sebaik mungkin dia menahan agar ari mata itu tak tumpah.


Tangannya kembali bergetar ketika bersentuhan dengan seorang bayi tak berdosa. Jiwa keibuannya spontan keluar mengambil ahli hati dan pikirannya.


Tanpa mereka sadari, ada wajah seorang wanita yang sudah begitu tua menatap putrinya dengan sedih. Air matanya bahkan sudah menetes melihat bagaimana nasib putrinya itu. 


Sebagai seorang ibu, Mama Angel begitu tahu apa yang dirasakan Aqila kali ini. Walau dia tak melihat anaknya itu menangis, Mama Angel paham jika putrinya itu sedang menahan sesuatu dalam hatinya.


"Pasti Aqila sama menantu Mama capek 'kan?" 


Khali langsung menoleh. "Iya, Ma."

__ADS_1


"Yaudah. Qila, bawa menantu Mama istirahat dulu, Nak. Kasihan Nak Khali capek," ucap Mama Angel membuat Aqila mengangguk.


"Nanti kita main lagi ya, Manis." Aqila menjatuhkan ciuman di pipi ponakannya dan dia segera mengajak sang suami ke kamarnya.


"Makasih banyak, Ma," ucap Khali ketika dia di dekat mertuanya.


Sungguh sejak tadi Khali sudah gelisah. Apalagi melihat istrinya hanya diam, membuatnya mengerti apa yang ada dipikiran Aqila. Namun, untung saja, mertuanya begitu peka sehingga membuatnya memiliki alasan untuk mengajak sang istri pergi dari suasana yang begitu menyakiti hati Aqila.


****


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Khali ketika mereka baru saja sampai di kamar.


Aqila tersenyum. Dia mendudukkan dirinya di samping sang suami dan memeluk tubuh kekar itu.


"Apa aku bisa berbohong untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja, By?" tanya Aqila dengan tubuh bergetar.


Tak ada yang bisa menahannya lagi. Tak ada yang bisa menutupi kesedihan yang sejak tadi dia tahan.


Seperti inilah Aqila. Dia akan berusaha kuat untuk semua orang. Namun, ketika berdua bersama sang suami, dirinya tetap seperti Aqila yang apa adanya.


Sedikitpun dia tak bisa menutupi apapun dari sang suami. Dua orang itu sudah begitu terbuka sehingga selalu mengatakan kata jujur di antara satu dengan yang lain. 


"Katakan sejujurnya padaku, Sayang. Jangan menutupi apapun. Lepaskan segala kesakitan itu dan percayalah, bila akan ada waktu dimana kita ada di posisi mereka." Khali menguatkan. Dia adalah seorang penopang tubuh sang istri ketika rapuh. 


Dia harus menjadi tim support bila Aqila terjatuh. Dia harus menjadi sosok pria tegas dan penyayang. Suami yang begitu sempurna bukan?


Disaat di luar sana, banyak pria yang sudah pergi ketika tak mendapatkan keturunan dalam pernikahannya, tapi tidak dengan Khali. Pria itu benar-benar begitu setia dan bertekad akan selalu berada di samping Aqila untuk menguatkan dan berjalan mengarungi rumah tangganya bersama.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like, aku ingetin like yah.


Karena like cuma tinggal pencet hiks.


__ADS_2