
Aku begitu yakin bila suamiku selalu bisa menjaga kehormatannya untuk istrinya sendiri. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Hampir selama satu jam mereka berbincang dengan Rafiena yang harus menahan sikap bencinya ke arah Aqila. Tak lama, Umi Mayra berpamitan pada menantu dan putri dari Malaysia untuk ke kamar mandi.
"Apa Umi butuh bantuan Qila?" tawar Aqila membantu mertuanya beranjak dari tempat duduk.
Umi menggeleng. "Kamu temenin tamu istimewa kita saja, Nak. Umi akan meminta pelayan untuk membantu, Umi."
Baiklah, kali ini Aqila mengalah. Wanita itu segera membantu Umi Mayra kembali ke dalam istana memastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Setelah itu, dia segera kembali ke tempat duduknya.
Menarik nafas begitu dalam. Aqila yakin akan ada drama kecil sebentar lagi. Sikap seperti ini tentu sudah menjadi makanan Aqila setiap hari.
Memiliki suami tampan dan resiko dengan tatapan mendamba para wanita sudah menjadi hal biasa untuk Aqila. Bahkan dulu sebelum Khali menjadi raja, ada seorang wanita yang mengaku hamil anak suaminya. Namun, tetap saja, Aqila hanya akan percaya pada ucapan Khali sendiri daripada orang lain.
"Silahkan dinikmati," ujar Aqila membuka pembicaraan.
Dia meraih gelas berisi jus jeruk dan meneguknya begitu anggun. Tentu semua yang dilakukan Aqila tak luput dari lirikan Rafiena. Namun, gadis itu masih enggan untuk menjawab.
"Jika berkenan menjawab. Berapa usia Anda, Putri?" tanya Aqila ramah sambil memberikan senyuman lembutnya.
"20 tahun," sahut Rafiena cuek sambil mengusap kutek muslim yang menempel pada kukunya.
"Wah masih muda yah. Apakah Anda sudah memiliki pasangan?" tanya Aqila dengan tatapan lembutnya.
Setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Aqila, tak ada nada emosi sedikitpun. Perempuan itu benar-benar tenang dan santai dalam menanggapi hal seperti ini.
"Belum," sahut Rafiena sambil memiringkan tubuhnya menatap lawan bicaranya itu, "tapi aku memiliki seseorang yang memenuhi pikiran dan hatiku."
__ADS_1
"Masya allah. Bagus dong. Dihalalkan lebih baik," ujar Aqila santai.
"Kau benar, Ratu. Aku harus menghalalkannya," ujar Rafiena menjeda. "Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir."
"Wah apa?"
Rafiena diam. Dia menatap penuh Aqila sinis. Bibirnya tersenyum miring dan sedikit memajukan kepalanya.
"Anda tak mau berbagi suami," ucapnya sambil tersenyum.
Aqila tersenyum. Dia tak menyangka bila gadis muda, cantik dan berwibawa seperti Rafiena begitu berani mengatakan semua dengan terang-terangan.
Bahkan bisa Qila lihat, ada pancaran menghina dari raut wajah lawan bicaranya. Namun, hal itu tentu tetap ditangani baik oleh dirinya.
"Apa Tuan Putri Malaysia sedang meminta restu untuk melamar suami saya?" tanya Aqila dengan tenang.
"Tentu saja," ujar Rafiena menatap sinis. "Akan tetapi, mendapatkan izin atau tanpa izinmu, aku akan meraih hati suamimu...ups yang betul calon suamiku," ujarnya dengan tatapan mencemooh.
"Apakah perilaku seorang putri serendah itu?"
"Kau!" seru Rafiena dengan tangan terkepal.
Dia tak menyangka bila wanita di depannya masih bisa bersikap tenang, meski mulutnya begitu pedas. Bahkan tak ada emosi sedikitpun dalam diri Aqila.
Niat hati memancing emosi dan pertengkaran dengan istri Khali, menjadi batal total.
Gadis ini begitu santai hingga membuatku begitu geram, batin Rafiena kesal.
"Apakah perkataan saya salah, Putri?" tanya Aqila semakin gencar dengan raut wajah tanpa dosa.
"Menurut saya, apa yang saya katakan benar. Seharusnya anda memilih pria yang masih perjaka," ujarnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Tapi aku menginginkan suamimu!" seru Rafiena menunjuk Aqila.
Emosinya sudah meletup. Menggebu-gebu hingga membuat wajah putri dari Malaysia sedikit memerah.
"Namun, sayang sekali, suamiku hanya menginginkan aku," ujar Aqila dengan tersenyum.
"kau yakin?"
"Tentu saja. Saya yakin Khali hanya menginginkan saya," ucap Aqila tegas.
"Bagaimana kalau kita bertaruh?" tawar Rafiena dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Bertaruh apa?"
"Jika suamimu tergoda denganku, maka lepaskan Khali untukku."
Aqila terdiam. Dia menatap lekat wajah Rafiena yang yakin dengan idenya. Bahkan Aqila sampai tak habis pikir dengan gaya pikir Rafiena.
Ide yang dikatakan oleh Putri Malaysia, tentu seperti menjatuhkan harga dirinya sendiri. Aqila sampai geleng-geleng kepala tak menyangka bila cinta bisa berubah menjadi obsesi.
Tapi lagi-lagi, Aqila menjadi mengerti. Bahwa cinta dan obsesi itu sama. Hanya berbeda dalam pelaksanaan. Bila cinta, walau dia bahagia bukan dengannya, ia akan merasa ikhlas. Sedangkan obsesi, apapun cara dan mendapatkannya, dia harus bersama dirinya.
Namun, tanpa sedikit keraguan. Aqila menjabat tangan Rafiena dengan sejuta doa di dalam hati.
"Aku terima tantangan, Anda. Bila suamiku tak tergoda, Anda harus pergi dari kehidupan keluarga saya."
"Deal."
~Bersambung~
Loh Aqila kok dilawan, haha.
__ADS_1
Dia udah dari kecil ditarget menjadi kuat loh.
Jangan lupa like dan vote~~~