
Terkadang naluri bisa menjadi pertanda bila kita harus lebih berhati-hati. ~JBlack~
****
Pagi-pagi sekali. Istana Brunei terlihat mulai ramai. Banyak pelayan dan pengawal keluar masuk sambil membawa beberapa bahan makanan untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Terlihat semua orang saling bergotong royong dan membantu satu dengan yang lain. Hingga membuat pekerjaan yang banyak, bisa segera diselesaikan.
"Apakah semuanya cukup?" tanya seorang wanita dengan gamis dan kerudung berwarna hitam polos.
"Sudah, Ratu. Kami sudah menyusunnya dan siap dibawa," sahut salah satu pengawal sambil menunduk.
"Terima kasih."
Setelah mengatakan itu. Wanita yang kecantikannya semakin terpancar, berjalan masuk ke dalam Istana. Dia harus menemani suaminya sarapan sebelum menuju ke Panti Asuhan.
Ya, hari ini adalah jadwal kunjungan Aqila setiap bulannya ke panti asuhan. Dia selalu membawa bahan makanan untuk disumbangkan ke setiap panti yang ada di Brunei. Ratu dari Kerajaan Brunei ini benar-benar memiliki hati yang bersih dan baik. Hingga tak ayal, banyak sekali orang di luar sana yang menyayanginya begitu tulus.
"Apakah semuanya siap, Humairah?" tanya Khali setelah memberikan ciuman di dahi sang istri.
"Sudah, By. Semua sudah siap," sahut Aqila sambil mengambilkan makanan sang suami.
"Kamu yakin gak mau nungguin aku ke panti asuhan?" tanya Khali untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Aqila menggeleng. Dia tak mengerti ini sudah pertanyaan keberapa kalinya dari sang suami. Namun, tetap saja jawaban darinya masih sama.
"Yakin, By. Aku cuma ke panti asuhan. Setelah itu pasti langsung pulang." Aqila begitu meyakinkan suaminya yang terlihat cemas. Dia tersenyum lalu meletakkan sepiring nasi dan lauk pauk di hadapan Khali.
"Aku bakalan selalu hubungin kamu, By. Aku janji, Sayang. Doakan saja istrimu ini di setiap langkahmu."
Khali menatap dalam kedua mata istrinya itu. Entah kenapa sejak bangun tidur hatinya selalu merasa gelisah. Namun, kembali lagi ia tak tahu apa yang sedang ia cemaskan itu.
Mendengar nasehat dari istrinya pun. Khali hanya bisa mengaminkan perkataan Aqila. Tanpa dimintapun, dia selalu mendoakan setiap langkah istrinya. Semoga apa yang dilakukan olehnya akan lancar dan direstui oleh Allah.
Setelah acara sarapan pagi yang sedikit terlambat. Akhirnya Aqila mulai berjalan bergandengan bersama suaminya. Wanita itu benar-benar diantar oleh suaminya sampai ke depan pintu.
Senyuman terbit di bibir Aqila ketika melihat sahabatnya Dini sudah ada disana.
"Ikut dong."
"Yaudah. By aku berangkat ya," pamit Aqila sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati ya, Sayang," ujar Khali lalu mencium kening istrinya.
Pria itu seakan tak memperdulikan sekitar karena rasa cemasnya kembali menyeruak.
Astagfirullah, gumamnya dalam hati sambil memejamkan matanya sebentar.
"Selamat sampai tujuan, Sayang. Jangan lupa berdzikir yah," bisik Khali yang langsung dihadiahi sebuah kecupan di pipinya.
__ADS_1
"Iya, Sayang." Pelukan itu terlepas walau Khali keberatan.
Dia membukakan pintu untuk istrinya dan menyuruh Aqila segera masuk.
"Jaga istriku baik-baik!" perintah Khali pada sopir kerajaan.
"Baik, Raja."
"Kamu di mobil satunya ya, Din!" ucap Aqila pada Dini yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil sisi kanannya.
"Kenapa gak jadi satu aja sih?" tanya Dini dengan mencebikkan bibirnya.
"Tuh lihat. Di sebelahku juga ada sembako," sahut Aqila membuat Dini menghela nafas pelan.
"Baiklah. Aku akan mengikuti dari belakang."
Perlahan tiga buah mobil iring-iringan mulai keluar dari Istana. Walau sebentar, Aqila menyempatkan melambaikan tangan pada sang suami sebelum hilang pandangan.
Tak ada yang tahu apapun yang akan terjadi selanjutnya. Namun, hati Aqila hanya bisa berdoa dan meminta perlindungan dari Allah atas setiap langkah yang ia lakukan sekarang.
~Bersambung~
Hmm Hmm Hmm. Ada yang kepikiran juga macem Raja Khali gak?
Jangan lupa like dan komen yak.
__ADS_1