Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 27


__ADS_3


Orang iri akan merasa kepanasan bila melihat orang yang ia benci begitu bahagia. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Di dalam sebuah kamar. Terdapat seorang wanita tengah menengadahkan kedua tangannya meminta pertolongan pada Allah. Dia, Aqila Kanaira selalu bercerita keluh kesahnya dalam sujud syukurnya. 


Menurut pemikiran Aqila, bercerita ketika selesai shalat adalah waktu paling nyaman untuknya. Hatinya akan merasa tenang dan nyaman ketika selesai mencurahkan segala keluh kesah di dalam hatinya. 


Bila engkau menakdirkan aku bersama Khali hingga nafas kami berdua berhenti. Maka aku percaya, apapun masalahnya, kami akan selalu bersama dalam ikatan halalmu, batin Aqila sebelum menutup doanya.


Bersamaan dengan melipat mukena, Khali datang memasuki kamar mereka berdua. Dia menunggu sang istri sampai Aqila duduk disampingnya.


"Ada apa hmm?" tanya Aqila sambil merapikan rambutnya.


Khali menggeleng, lalu dia memegang tangan istrinya hingga tatapan keduanya beradu.


"Apa ada masalah?" tanya Khali menatap dalam kedua bola mata istri yang begitu dicintai itu. 


Benar bukan?


Khali adalah sosok pria peka yang seperti bisa membaca pikiran Aqila. Bahkan tanpa mengatakan pun, Khali seakan ikut merasakan keresahan istrinya itu.


"Gak ada, By."


"Yakin?" 


Menghela nafas berat, Aqila selalu tak bisa membohongi suaminya ini. Mungkin karena selama pernikahan, keduanya selalu mengatakan kejujuran dan hanya sekarang, Aqila mencoba menutupi sesuatu.


"Yakin, By. Berikan  aku waktu, untuk memberikan waktu bagi mereka yang perlu pembuktian cinta kita," ujar Aqila membuat Khali terdiam.


Pria itu tak membutuhkan desakan atau paksaan untuk istrinya lagi. Dia percaya apa yang akan dilakukan Aqila pasti untuk kebaikan semua orang. 

__ADS_1


"Baiklah. Tapi jika kamu membutuhkan bantuan, katakan padaku!" 


"Iya, By. Aku bakalan selalu cerita sama suamiku yang tampan ini."


Seperti itulah pasangan Khali dan Aqila ketika ada masalah menerpa. Keduanya seakan mengontrol emosi agar tak mengambil kejernihan otak, dan memakai ketenangan agar permasalahan ini tidak semakin melebar dan cepat selesai. 


"Ya udah. Ayo kita makan siang," ajak Khali membuat Aqila mengangguk.


Sebelum meninggalkan suaminya. Dia memberikan kecupan singkat di pipi dan bibir Khali hingga membuat pria itu semakin tak tahan.


Diraihnya tangan sang istri dan mendudukkan di pangkuannya, lalu Khali kembali mencumbu bibir yang selalu menjadi teman dan candu untuknya selama ini.


"Jangan pernah pergi dari Qila, selain karena Allah, By," ujar Aqila ketika ciuman mereka terlepas.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Jangan tinggalkan aku walaupun aku berbuat salah."


Aqila mengangguk. Bagaimana bisa dia meninggalkan suami seperti Khali. Pria dengan paket komplit pemberian Allah, tentu akan selalu dia jaga dan dia layani sepenuh hati.


Ah untuk siapapun yang baru melihat pasti akan merasa kecemburuan. Seakan dunia milik mereka berdua memang, jika sudah saling bersama.


Sesampainya di dapur, Umi Mayra yang terbiasa melihat kelakuan putra dan menantunya pun akhirnya menggoda.


"Istri satu, ditahan dan dikawal terus. Takut ilang yah?" 


Khali dan Aqila tertawa kecil. Pelayan yang biasa membantu menyediakan makanan di atas meja juga ikut tertawa walau ditahan mati-matian. Semua yang ada di istana ini tentu sudah biasa dengan pemandangan dua insan di mabuk cinta.


"Harus dong, Mi. Gak ada lagi wanita seperti istriku ini. Paket komplit," ujar Khali membuat pipi Aqila memerah.


Dia menepuk tangan Khali menandakan jika di sana terdapat tamu dari Kerajaan Malaysia. 


"Maafkan kelakuan putraku dan ibunya ya, Nak Ammar. Kebiasaan sebelum makan pasti akan dilewati dengan seperti ini," ujar Abi Malik menatap Ammar.


"Tidak apa-apa, Tuan Malik. Saya malah senang melihat keharmonisan kalian," ujar Ammar tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah. Mari dimakan," ucap Umi Mayra dengan baik. "Putri Rafiena juga silahkan makan."


"Iya, Umi."


Saat semua sudah mengambil makanan dan memulai makan siang. Tiba-tiba Datuk Wan mengomentari masakan yang menurutnya begitu enak. 


"Hmm masya allah. Rasa ambuyat ini begitu enak," ucap Datuk Wan ketika mencoba sekali suapan makanan Ambuyat.


Ambuyat adalah kuliner bubur sagu khas Brunei yang menyerupai Papeda jika di Nusantara. Sama halnya seperti Papeda, makanan tradisional khas Brunei ini juga disantap bersama sup ikan dengan kuah kuning yang memiliki cita rasa gurih ataupun opor ayam dan lauk-lauk pendamping lainnya.


"Kalau itu sudah pasti, Datuk. Jangan diragukan lagi jika mencoba ambuyat disini," ucap Abi Malik sambil tersenyum.


"Apakah ada pelayan khusus yang membuat makanan ini?" tanya Datuk Wan menatap Abi Malik.


"Tidak ada, Datuk. Yang membuat makanan ini adalah menantuku sendiri."


"Oh maafkan aku, Ratu. Perkataanku yang tak…."


"Tidak apa-apa, Datuk," potong Aqila dengan tersenyum. Dia bisa melihat raut wajah penyesalan dalam diri Datuk Wan. "Saya juga tidak tersinggung."


"Terima kasih, Ratu," ujar Datuk sambil menundukkan sedikit kepalanya. "Makanan ini benar-benar lezat."


"Terima kasih. Jika mau, nanti saya akan membawakan untuk, Datuk."


Tanpa disadari oleh semua orang. Bila ada salah satu gadis yang sudah mencengkram sendok dan garpunya dengan erat. Mata tajam dengan kobaran emosi di dalamnya. Dia begitu benci ketika mendengar segala pujian yang dilontarkan untuk Ratu Aqila.


Tunggu saja. Aku akan mengambil semuanya darimu, batinnya menatap wajah Aqila yang bahagia. 


~Bersambung~


Ada yang panas kayak kompor, hahahha.


Jangan lupa like dan vote~~~

__ADS_1


__ADS_2