
Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kenyataan disembunyikan, pasti akan tercium bangkai dan muncul di permukaan. ~JBlack~
****
Berbeda tempat berbeda suasana.
Jika dibelahan yang lain terdapat kemarahan, maka disini hanya ada ketenangan. Tak ada ponsel, tak ada televisi dan tak ada hal apapun yang berbau elektronik. Semua ini dilakukan untuk menjaga mental Aqila dari serangan luar.
Semua keluarga bahkan begitu mensupport saran dari Kakek Abdullah dan Paman Salim. Dua pria itulah yang meminta agar semua keluarga tak memegang ponsel sampai masalah ini selesai.
Tak ada yang membantah dan menolak. Semua menyerahkan ponselnya dan dikumpulkan kepada Paman Salim. Pria itu tersenyum melihat kekompakan keluarganya hingga dia selalu berdoa semoga kekompakan ini akan terus sampai berlanjut sampai ke cucu-cucunya.
"Apakah adonan ini sudah sempurna, Ma?" tanya Adel dengan tangan menguleni adonan untuk membuat kue donat.
"Belum sayang. Itu kurang ulen," ujar Mama Angel sambil menyiapkan coklat untuk isi dalaman donat.
Hari ini memang kegiatan mereka adalah piknik di taman belakang istana. Para wanita berkumpul bersama untuk menyiapkan cemilan, makanan dan minuman untuk mereka. Sedangkan para pria, bertugas untuk menyiapkan segala kebutuhan untuk berpiknik.
"Bagaimana keadaan di luar, Khal?" tanya Paman Salim ketika mereka selesai menggelar tikar di atas rumput.
"Kacau, Paman. Semua sudah balik menyerang dia. Video yang tersebar sudah menjadi bukti bahwa dia seorang wanita yang menyukai suami orang," ujar Khali sambil mengingat tingkah Rafiena ketika di Istana.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa tahan sama sikap dia? Padahal kamu itu anti banget biasanya sama cewek begitu," tanya Kakek Abdullah menatap suami cucunya itu.
"Kalau bukan karena aku melihat rekaman CCTV dia mengajak taruhan istriku, pasti aku tak akan mau, Kek. Aku menahan agar tak terlalu dekat tapi dia memang sudah keterlaluan," ucap Khali dengan balas memandang kakek dari sang istri.
"Kakek mengerti, Nak. Kakek percaya kamu bakalan setia dan menjaga hati Aqila," ucap Kakek Abdullah begitu yakin.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Kek."
Akhirnya hari itu. Semua keluarga Aqila dan Khali berkumpul di taman istana. Mereka saling berbagi, bercanda ria dan menghibur. Tak ada satu orang pun yang tahu bagaimana kekacauan yang sudah dilakukan Khali di luar sana.
Pekerjaan yang secara diam-diam dan tersembunyi. Tentu berjalan begitu mulus dan tinggal menunggu waktu untuk mereka bertindak.
****
Bahkan berita yang dibuat oleh Rafiena seakan tenggelam dengan berita tentang dirinya. Gadis itu marah bahkan dia begitu yakin bila yang melakukan ini adalah Aqila. Wanita yang merebut cinta pertamanya itu.
"Apa yang harus aku lakukan!" gumamnya sambil mengacak-acak rambutnya.
Rafiena tak tenang, dia segera keluar dari kamar untuk menemui seseorang yang ia yakini mau membantunya keluar dari semua masalah ini. Namun, saat dirinya baru saja sampai di tangga paling bawah. Suara teriakan dari seorang wanita yang ia kenal membuatnya menoleh.
"Um…"
Sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga membuat pipinya menoleh.
__ADS_1
Plak.
"Dasar anak tak tau diuntung!" seru seorang wanita dengan kemarahan di puncak.
Jantung Rafiena berdetak kencang. Baru kali ini dia diperlakukan seperti ini selama hidupnya oleh kedua orang tuanya. Namun, sekarang pertama kalinya umi yang begitu dia cintai menamparnya dan berteriak di depannya.
"Apa maksud, Umi?" tanya Rafiena pelan.
"Apa yang sudah kamu lakukan anak pungut? Kenapa kamu mencari masalah dengan Kerajaan Arab?" seru Umi Raida, ibu dari Ammar, Raja Malaysia.
Deg.
~Bersambung~
Hyaaa gantung, hahaha.
Aku yakin bakalan pada kepo maksud Umi Raida yekan? hihi.
Aku gak janji up lagi yah. Anak aku sakit dari kemarin sore, jadi aku belum ngetik buat nanti siang.
Tapi insya allah aku usahain buat ngetik nanti.
Jangan lupa like, komen dan vote kalau mau aku up lagi hehe~~~
__ADS_1