
Pejuang garis dua hanya membutuhkan support terbaik dari orang terdekatnya dan menutup telinga untuk mereka yang ingin menghujat. ~Khali Mateen~
****
Di dalam kamar, sepasang suami istri saling diam dengan posisi berpelukan. Tak ada yang bersuara satu pun, hanya deru nafas mereka yang terdengar saling bersahutan membuat kamar itu tak begitu sunyi.
Aqila, wanita yang tak suka rasa sepi akhirnya mendongakkan kepalanya. Dia mengelus rahang kokoh suaminya hingga membuat Khali sedikit menunduk.
"Kenapa kamu diam, By?" tanya Aqila dengan lembut.
Khali menggeleng. Dia hanya merespon dengan mencium hidung istrinya dan mencoba memejamkan mata. Mengabaikan tatapan istrinya yang penuh tanya. Sungguh Khali takut Aqila akan bertanya hal-hal yang membuatnya bingung untuk menjawab.
"Hubby," panggil Aqila pelan sambil meletakkan kepalanya di dada sang suami. "Ayo kita program hamil lagi, By."
Deg.
Degup jantung Khali semakin berdegup kencang. Pertanyaan dan pernyataan yang dia hindari, benar-benar ditanyakan 'kan?
Tapi tunggu dulu, pertanyaan kali ini membuatnya membuka mata dan mendongakkan wajah sang istri.
"Kenapa hmm?"
"Aku ingin kita program lagi, By. Mungkin usaha kita kali ini tak sia-sia. Apa kita akan bayi tabung lagi?"
Perkataan ini tentu bukan hal pertama untuk mereka. Tiga tahun lalu keduanya pernah menjalani program bayi tabung. Namun, lagi-lagi Allah tak berkehendak dan proses itupun gagal.
"Apa kamu yakin, Sayang? Program bayi tabung membuatku tak kuasa melihatmu menyuntik perutmu sendiri setiap malamnya," ucap Khali.
Masih teringat jelas, bagaimana pengorbanan istrinya dulu. Setiap malam menyuntik perutnya sendiri, meminum vitamin yang dianjurkan dokter dan tak boleh kecapean.
Sungguh, melihat jarum suntik keluar masuk di perut istrinya, selalu membuat Khali menangis sedih. Ternyata perjuangan untuk memperoleh keturunan begitu diperjuangkan oleh istrinya, Aqila.
"Lihat aku, By." Aqila mengelus pipi sang suami. "Semua yang Qila lakukan untuk kebahagiaan kita, By. Perjuangan mendapatkan Khali junior," ucap Aqila dengan senyuman manis di wajahnya.
__ADS_1
Wanita itu sudah terbiasa akan keadaan ini hingga membuatnya sedikit kebal. Perkataan dari orang saja mulai dianggap angin lalu oleh Aqila dan Khali. Keduanya hanya bisa berdoa dan berjuang tanpa terpengaruh oleh perkataan orang yang tak tahu apa-apa.
"Baiklah. Besok kita ke rumah sakit dan cek yah. Ayo tidur."
"Iya, By. Selamat tidur. I Love You."
"Love You too, Sayang."
****
Pagi-pagi sekali, suasana rumah terlihat begitu ramai. Meja makan kali ini begitu penuh dengan kehadiran sepasang suami istri yang terlihat begitu romantis.
Semua keluarga menatap kagum ke arah Khali dan Aqila. Keduanya terlihat semakin lengket walau tanpa anak di antara mereka. Mama Angel saja bersyukur, dia memiliki menantu yang begitu tepat untuk putrinya.
"Kalian mau kemana, Nak? Kok rapi banget?" tanya Mama Angel setelah acara sarapan itu selesai.
"Kami ingin ke rumah sakit, Ma," sahut Aqila setelah menelan air putih yang diminumnya.
"Siapa yang sakit?"
"Gak ada yang sakit, Ma. Kami ingin periksa."
"Periksa apa, Dek?" tanya Adel yang sudah penasaran.
"Aku ingin program hamil lagi, Kak."
"Masya allah. Serius?" tanya Adel begitu bahagia.
"Iya, Kak." Aqila mengangguk.
"Kakak punya rekomendasi Dokter terbaik di sini, Dek. Gimana mau?" tanya Adel meminta persetujuan.
"Apa tidak merepotkan?"
"Nggak lah. Gimana?"
__ADS_1
Sebelum menjawab, Aqila menatap suaminya. Bagaimanapun dia tak boleh egois, semua yang akan dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Istri adalah hak sang suami. Jadi, apa yang dilakukan istri, harus diketahui oleh suaminya.
"Boleh, Kak. Kami menerimanya," sahut Khali menjawab hingga membuat Aqila tersenyum bahagia.
Keduanya tak menyangka banyak orang yang mendukungnya. Bahkan Mama Angel adalah orang paling bahagia di antara yang lain. Aqila juga bisa melihat Kakaknya Adel langsung mengotak atik ponselnya menghubungi seseorang.
Tak lama, terdengar suara panggilan di ponsel dan membuat mereka semua menatap Adel yang sedang berbincang dengan seseorang di seberang telepon.
"Kau yakin"?
"..."
"Baiklah. Terima kasih. Tolong jadwalkan untuk adikku. Namanya Aqila Kanaira, suaminya Khali Mateen."
"..."
"Iya lah. Yaudah berarti nanti sore yah?"
"..."
"Oke thanks."
Adel menutup panggilannya dan menatap keduanya bersamaan.
"Kalian sudah mendengar jawabannya 'kan? Jadi nanti bersiaplah dan temui Dokternya," ucap Adel penuh perhatian.
"Oke, Kak. Terima kasih banyak."
Semua orang saling tersenyum bahagia. Apalagi melihat bagaimana sikap Aqila dan Khali yang tak pantang menyerah. Sikap berjuangnya dan tak patah arang tentu membuat semua keluarga merasa kagum.
Meski sering kali dikecewakan oleh keadaan. Dihujat oleh banyak orang tapi semua itu tak membuat rumah tangga keduanya berantakan.
Apalagi sekarang Aqila dan Khali tak hanya sendirian. Melainkan support dari keluarga Aqila begitu penuh hingga membuat mereka mulai kembali semangat melakukan semuanya dari awal.
~Bersambung~
__ADS_1
Usaha lagi yaw, doain nih author kagak julid dan kasih sesuatu, hahaha.
Jangan lupa like~~~