
Sedikit apapun celahnya. Aku yakin itu takdir dari Allah yang memberikan restu padaku agar bisa memenangkan hati Khali Mateen. ~Rafiena Yuwana~
****
Tangan Rafiena mengepal kuat. Dia tak terima dan menganggap ini adalah penghinaan. Gadis itu benar-benar bertingkah dan semakin berpikir untuk merubah segalanya.
Yang pasti, Rafiena hanya ingin tujuannya selesai. Dia hanya ingin Khali menjadi miliknya. Hingga gadis itu berusaha mati-matian agar tak terpancing perkataan pria itu barusan.
Sungguh Rafiena tak pernah bisa menebak jalan pikiran Khali. Pria itu benar-benar sulit ditebak dan dijebak. Seakan Allah benar-benar menjaganya dari godaan syetan yang terkutuk, hahaha.
Saat Rafiena hendak mengeluarkan suara. Kedatangan Kakaknya, Ammar membuat dia mengurungkan niatnya. Gadis itu bersikap seakan tak ada hal apapun walau diberikan kode oleh Kakaknya.
Tak lama, suara adzan mulai terdengar. Khali segera mengajak para tamunya untuk keluar dari museum dan mencari masjid terdekat. Pria dengan ketaatan luar biasa itu, selalu ingin menjalankan ibadah dengan berjamaah. Karena Khali tahu, bila pahala pria berjamaah lebih besar daripada shalat sendirian.
Setelah menemukan masjid, mereka segera berpencar untuk menjalankan ibadah umat muslim. Ammar yang notabenenya seorang pria pun, begitu kagum dengan sikap Khali.
Pria tampan rupawan, dengan sikap tegas, baik dan cara kerjanya cekatan, begitu pantas dipuji. Ammar tak kecewa dan menyesal telah melakukan kerja sama ini. Dia juga menjadi gelap mata dan berdoa semoga adiknya, Rafiena bisa memenangkan hati Khali karena pria itu baik.
Uhhh sepertinya Ammar lupa. Bila untuk kebahagiaan adiknya, dia rela menyakiti kebahagiaan wanita lain. Dirinya juga lupa, bila pria yang diharapkan menjadi suami dari adiknya adalah pria yang paling cinta dan bucin akut kepada istrinya. Hingga pasti membutuhkan rencana yang kuat bila ingin memisahkan cinta suci keduanya.
****
"Kita kembali ke Istana?" tawar Khali saat keduanya baru sampai di depan masjid.
__ADS_1
"Iya, Tuan.
"Baiklah. Mari,"
Saat ketiganya sudah memasuki mobil. Kendaraan roda empat itu mulai berjalan meninggalkan masjid. Suasana malam tentu membuat cuaca mulai dingin.
"Apakah kalian menginap di hotel?" tanya Khali dengan menengok ke belakang untuk menatap lawan bicaranya, Raja Ammar.
"Ya, Tuan Khali. Kami sengaja menyewa kamar hotel untuk penginapan beberapa hari kedepan," sahut Ammar cepat.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan. Namun, baru lima menit mereka berkendara. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi mobil dan jalanan.
Cuaca seakan tak mudah ditebak hingga tak lama air hujan mengguyur dengan deras. Supir begitu berhati-hati dalam berkendara hingga membuat Khali berdoa dan bershalawat.
Hujan yang begitu deras, tentu membuat kaca pandang supir sedikit berembun dan buram. Namun, dengan entengnya Khali mengambil kain yang ada di dashboard mobilnya dan membersihkan kaca itu.
"Fokuslah menyetir. Jangan berkata apapun dalam keadaan bahaya seperti ini," peringat Khali.
Setelah berkendara begitu pelan, akhirnya iring-iringan mobil sudah memasuki istana. Di depan sana, sudah banyak pengawal yang membawa payung untuk Raja mereka.
Khali juga bisa melihat istrinya yang berdiri di depan pintu Istana sambil membawa kain putih yang ia yakini adalah handuk. Dia bisa melihat dengan jelas, raut wajah Aqila yang khawatir.
"Assalamualaikum, Sayang," ujar Khali setelah berada di dekat Aqila.
"Waalaikumsalam." Aqila meriah punggung tangan Khali dan menciumnya.
__ADS_1
Setelah itu, dia langsung memberikan handuk kecil itu pada rambut sang suami yang sedikit basah.
"Pakaian kamu juga basah, By?"
"Iya, Istriku. Mungkin waktu barusan jalan kesini pakai payung," ujar Khali membuat istrinya mengangguk.
"Ya udah. Ayo cepat ke kamar. Mandi dan ganti baju! Biar kamu gak masuk angin, By," ucap Aqila mengingatkan.
Sebelum masuk, Khali mendekati Ammar yang sedang berbicara dengan Datuk Wan. Sepertinya keduanya sedang berbicara serius hingga telinga Khali mendengar kata hotel.
"Apakah kalian akan kembali hotel?" tanya Khali setelah mengucapkan salam.
"Ih, iya Raja Khali. Kamu tidak mungkin 'kan menginap disini," ucap Datuk Wan sedikit menunduk.
"Kata siapa tidak mungkin, Datuk? Karena cuaca deras seperti ini. Lebih baik menginap di Istanaku, karena gak mungkin juga jika kalian berkendara di cuaca yang begitu deras," ucap Khali menunjuk air hujan yang tak berhenti turun.
Bahkan tak lama terdengar suara petir membuat Datuk Wan dan Ammar setuju untuk menginap. Hal ini tentu menjadi satu langkah untuk Rafiena bertindak.
Gadis itu benar-benar berpikir bila Tuhan memberikan celah untuknya berusaha dan mengambil hati Khali. Tanpa dia sadari, jika apa yang akan Rafiena lakukan, tak akan berdampak apapun kepada seorang Khali Mateen. Tuhan seakan melindungi pria itu agar bisa menjaga kehormatan demi keluarganya.
~Bersambung~
Ada typo bilang ya geng. Ngetiknya sambil ngantuk dan aku gak bisa revisi karena udah gak kuat.
Bilangnya di komen aja.
__ADS_1
Jangan lupa di Like dan Vote yah~~