Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 34


__ADS_3


Orang yang membencimu tak membutuhkan kebahagiaanmu. Yang mereka inginkan hanyalah kelemahan dan keburukan yang ada padamu saja. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Setelah makanan tertata rapi di meja makan. Aqila memanggil semua keluarga dan para tamunya menuju kesana. Mereka segera memenuhi kursi berderet dengan corak emas begitu mewah dan mulai duduk dengan tenang.


Aqila dengan sigap mengambilkan makanan untuk sang suami Khali, setelah Umi bergerak melayani Abi Malik. Pemandangan ini tentu membuat Rafiena kesal bukan main. Tetapi, merasakan elusan di tangannya, membuat dia mengangguk dan melanjutkan mengambil makanan.


"Sudah, Sayang," ucap Khali membuat Aqila segera duduk.


Perempuan itu mulai menyiapkan makanannya dibantu oleh Umi dan Khali. Antara anak dan menantu itu, mulai saling berebut perhatian hingga membuat Aqila geleng-geleng kepala.


"Ya Allah. Aku makan sendirian, Umi, Hubby. Kenapa menunya banyak sekali?" tanya Aqila melihat piringnya terisi penuh.


Nasi dengan porsi sedikit, ditambah ikan, dan sayuran yang begitu dijamin gizinya terhidang sempurna di atas piringnya. Aqila menelan salivanya menatap makanannya ini.


"Habiskan saja, Nak. Kamu harus makan-makanan sehat," ucap Umi membuat Aqila mengangguk.


Rafiena yang melihat piring lawan musuh ya itu juga mendadak heran. Kenapa makanan yang ada di meja Aqila begitu sehat. Sayuran direbus lalu ikan digoreng beda dari yang lain, tentu membuat pikiran Rafiena melalang buana. Namun, dia hanya acuh tak acuh. Tak peduli hingga mereka semua mulai sarapan pagi dengan tenang. 


Tak ada lagi percakapan disana. Mereka mulai makan tanpa suara dan hanya bunyi denting sendok yang terdengar. 


****


Setelah sarapan selesai. Khali membawa Datuk Wan, Abi Malik dan Raja Ammar menuju sebuah tempat yang berada di taman istana. Bangunan berbentuk rumah pondok kecil itu, terlihat begitu sejuk dan nyaman. Hingga membuat keempat pria yang duduk santai di sana, merasa dimanjakan mata dengan keindahan bunga dan aroma yang mengharumkan.


Saat mereka mulai mengobrol ringan. Tiba-tiba pertanyaan dari Datuk Wan membuat Khali terdiam.

__ADS_1


"Sebelumnya saya ingin bertanya pada Anda, Raja Khali. Namun, saya takut bila pertanyaan ini menyakiti hati, Anda."


"Tidak apa-apa, Datuk. Selagi saya bisa menjawab, pasti akan saya jawab," ucap Khali ramah dengan tersenyum.


"Raja Khali 'kan sudah lama menikah. Tapi maaf, apakah Anda masih menunda memiliki anak?" tanya Datuk Wan hati-hati.


Menteri dari Malaysia itu langsung meminta maaf dengan menunduk karena melihat perubahan wajah Khali.


"Santai saja, Datuk. Sungguh saya tidak tersinggung," ucap Khali membuat Datuk Wan sedikit lega. Dia mendongakkan  kepalanya dan menatap Raja dari Brunei itu saksama.


"Sebenarnya saya dengan istri tak menunda kehadiran anak. Tapi, Allah saja yang masih belum memberikan rezekinya kepada kami," ucap Khali membuat Datuk Wan begitu paham.


"Emm tapi, apakah kalian berdua sama-sama sehat, Raja Khali?" tanya Ammar penasaran membuat Khali mengalihkan pandangannya.


"Alhamdulillah. Saya dengan istri saya sehat. Tapi memang belum rezekinya saja." 


Khali serta keluarga juga akan menutup semua informasi tentang sakit yang diderita oleh Ratu Aqila. Karena menurut mereka, untuk apa membahas tentang pengobatan yang dijalani istrinya kepada orang lain. Semua itu tak ada gunanya dan Khali takut bila ada orang lain yang memperburuk keadaan dengan mengatakan hal yang tidak-tidak. 


****


Di sisi lain.


Terdapat dua orang wanita berbeda usia tengah berdiri di dekat kulkas yang berada di dapur. Mereka adalah Umi Mayra dan Aqila. Dua wanita itu sedang mencari dan memilah buah apa yang akan dimakan oleh Ratu dari Brunei, serta menyiapkan obat untuk diminum. 


"Cukup apel sama alpukat saja, Umi. Perutku terlalu banyak makan nasi tadi," ujar Aqila meringis melihat buah yang sedang dipilih oleh mertuanya.


"Kamu harus makan buah ini supaya sehat, Nak. Tidak perlu berfikir tentang sakit itu. Umi nyiapin ini biar kamu sehat dan makan makanan yang bergizi."


Mata Aqila berkaca-kaca. Dia tak menyangka Allah masih memberikan mertua yang begitu baik kepadanya. Akhirnya setelah buah itu dicuci, dikupas dan diletakkan di atas piring. Segera Umi Mayra dan Aqila duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


"Diminum dulu obatnya, Nak," ucap Umi Mayra yang langsung dilaksanakan oleh Aqila.


Setelah menelan tiga buah pil, Aqila segera memakan buah itu pelan-pelan. Menikmati rasa yang tersimpan didalamnya serta serat-serat yang terasa sekali di lidah.


"Kapan jadwal cek up lagi, Sayang?" 


"Sepertinya besok, Umi."


"Apakah bulan ini sudah halangan?" tanya Umi Mayra hati-hati.


"Belum, Umi." Aqila menggeleng. 


"Telat atau memang belum jadwalnya, Nak?" 


"Masih telat satu hari," ujar Aqila membuat Umi mengusap punggung tangan menantunya itu. 


"Jangan putus asa. Tetap berdoa dan berusaha. Minta sama Allah semoga dilancarkan segala pengobatan kamu, Nak. Umi yakin kamu akan sembuh dan bisa mengandung buah hati kalian."


"Aamiin. Terima kasih banyak, Umi. Sudah mau menerima menantu yang cacat ini," ujar Aqila menangis.


Umi Mayra memeluknya. Dia mengusap punggung Aqila yang bergetar. Mereka selalu saling menguatkan ketika Aqila seperti ini, karena memang tugas keluarga ya begitu. Menguatkan, menggenggam dan mensupport antara satu dengan yang lain.


"Kamu nggak cacat, Nak. Kamu wanita sempurna. Hanya Allah belum memberikan rezekinya kepada kalian berdua."


Tanpa disadari keduanya. Sejak tadi pembicaraan mereka didengar oleh seorang gadis yang tengah tersenyum jahat. Seakan ada ide baru yang sedang ia pikirkan untuk menghancurkan lawan musuhnya.


~Bersambung~


Jangan lupa like dan votenya yah~~~

__ADS_1


__ADS_2