Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 42


__ADS_3


Ingatlah bahwa tak selamanya kita berada di atas. Akan ada masa dimana kita dibawah dan hancur karena tingkah kita sendiri. ~JBlack~


****


Saat semua pelayan sedang asyik menggosok punggung Rafiena dengan lembut. Teriakan dan panggilan dari suara yang begitu dia kenal membuat semua pelayan beranjak berdiri. Gadis yang namanya dipanggil tentu berdecak kesal karena waktu bersantainya diganggu.


Dengan kekesalan yang bercokol. Rafiena segera beranjak dari kolam mandinya dan keluar dari sana.


"Kalian boleh pergi. Nanti aku panggil jika membutuhkan bantuan," ucap Rafiena dengan angkuh.


Semua pelayan segera keluar dan menunduk hormat ketika melihat kedatangan Raja Ammar di kamar Rafiena. Gadis itu dengan santai keluar dengan mengenakan jubah mandi.


"Ada apa sih, Kak?" ujar Rafiena dengan nada tinggi. "Kakak tau gak? Kakak itu ganggu waktu berendam aku." sambungnya dengan berjalan menuju meja rias.


"Ganggu kamu bilang? Apa kamu gak lihat berita hah?" seru Ammar marah.


"Berita?" tanya Rafiena menatap wajah Kakaknya dari cermin. "Aku sudah melihatnya tadi dan begitu puas."


"Puas katamu?" seru Ammar menarik lengan adiknya.


"Aww." Rafiena meringis sakit. Dia menghempaskan tangan kakaknya yang begitu erat menariknya. "Ada apa sih, Kak? Tarikan kakak sakit tau!" 


Ammar menatap tajam adiknya. Dengan tegas dia mengambil remot televisi dan menghidupkan benda elektronik itu.

__ADS_1


Saat layar sudah hidup jelas. Berita dan suara yang keluar dari sana membuat Rafiena terbelalak. Matanya memerah dengan kedua tangan terkepal melihat berita yang muncul di sana.


"Apa-apaan ini, Kak!" teriaknya murka. 


Nafasnya menderu. Rafiena menatap wajah Ammar dan menggoyang lengannya.


"Apa maksud semua ini, Kak?" teriaknya membuat Ammar menghempaskan tangan Rafiena.


"Seharusnya Kakak yang tanya sama kamu. Apa maksud semua ini?" ujarnya menunjuk layar yang masih memperlihatkan sikap buruk Rafiena.


"Apa kamu gak sadar, kalau itu adalah Istana mereka dan pasti CCTV bertebaran dimana saja," ujar Ammar menunjuk wajah Rafiena.


"Aku...aku…" 


Dia tak pernah melihat kakaknya semarah ini. Bahkan membentaknya saja tak pernah. Namun, sekarang sepertinya Ammar sudah hilang kendali dan membuatnya takut setengah mati.


"Kalau sampai nama baik kita tercemar, maka kamu yang harus menanggungnya!" 


"Tapi, kakak juga ikut andil dalam hal ini!" teriak Rafiena murka saat Ammar hendak pergi ke kamarnya.


"Kakak sudah bilang mau bantu Rafiena. Tapi kenapa sekarang Kakak malah marah-marah!"


"Kenapa Kakak nyalahin aku!" 


"Karena kamu bertindak bodoh. Karena kamu tidak melihat tempat untuk bertingkah, dan sekarang. Selamatkan sendiri harga dirimu dihadapan publik." 

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ammar meninggalkan Rafiena dalam emosi yang memuncak. Gadis dengan amarah di ubun-ubun langsung melampiaskan semua amarahnya pada barang di dekatnya.


Tangannya menghempaskan semua make up yang berjajar rapi di meja rias dan tak tanggung-tanggung. Rafiena juga melempar tempat bedak di kaca cermin itu dan,


Pyar.


Kaca itu pecah dan hancur dengan benda keras yang dilemparkannya. Amarahnya masih memuncak membuat gadis itu membuang lampu tidur hingga jatuh ke lantai dan hancur.


"Akhhhh!" 


Teriakan dan umpatan keluar dari bibir Rafiena menggelegar di dalam ruang kamar besar itu. Namun, tak ada yang bisa mendengarnya di luar karena ruangan ini kedap suara.


Kamar yang awalnya bersih dan rapi. Akhirnya hancur berantakan. Pecahan kaca dimana-mana. Benda berserakan menyebar. Namun, tetap tak membuat gadis itu tenang.


Rasa benci semakin bercokol hingga membuat Rafiena menatap televisi itu dengan pandangan yang sulit diartikan. 


"Tunggu saja pembalasanku. Ini belum berakhir dan aku akan membalasmu, wanita mandul!"  


~Bersambung~


Wahahaha karyanya si bunga Raflesia udah kepanasan.


Hidupkan kipas biar dingin.


Jangan lupa like dan komen yah~~~

__ADS_1


__ADS_2