
Aku tau istriku menahan semuanya. Namun, aku percaya bila kekuatan cinta kami kuat dan bisa menjauh dari sumber masalah di antara mereka. ~Khali Mateen~
****
Mobil mulai membaur dengan pengendara lain. Suasana sore tentu membuat cuaca yang memasuki musim dingin sedikit menusuk kulit. Di dalam mobil itu, hanya ada obrolan kecil antara Ammar dan Khali. Mereka berdua membicarakan tempat mana saja yang akan mereka kunjungi beberapa waktu ke depan.
"Jadi kita akan kemana dulu, Tuan Khali?" tanya Ammara sopan dengan tubuh tegak menatap Khali yang duduk di depannya.
"Saya akan mengajak anda ke Royal Regalia Museum. Disana banyak sekali peninggalan Kerajaan Brunei terdahulu yang sudah dijaga dan dimuseumkan disana," ujar Khali menjelaskan.
"Wah. Apakah tempatnya bagus?" serobot Rafiena sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat posisi sang pujaan hati.
"Menurut saya sendiri bagus. Selain itu, saya juga bisa mengenalkan barang-barang bersejarah dari negara ini ke tamu spesial saya."
Setelah itu, percakapan ketiganya berhenti karena iring-iringan mobil yang membawa dua raja mulai memasuki halaman museum. Mereka langsung disambut oleh para pekerja di sana dan penanggung jawab museum dengan baik.
Tentu kedatangan dua raja penting yang begitu mendadak. Membuat beberapa hal tentu disiapkan secara kilat. Khali segera mengganti sepatunya dengan sandal yang disiapkan oleh pihak museum. Bahkan beberapa benda yang dia bawa juga dititipkan karena memang itu prosedur untuk memasuki museum.
Tak ada ponsel juga untuk memotret karena satu potret pun tak diizinkan untuk mengambil. Ibra yang juga ada disana, membantu Tuannya dengan baik.
Pria itu benar-benar setia dan menyiapkan semua dengan sempurna. Walau bisa dibilang, bila apa yang dilakukan Ibra adalah hal yang begitu cepat.
__ADS_1
Berkeliling, Khali, Ammar, Rafiena mengikuti salah satu pemandu di Museum. Pria dengan pakaian dinas seperti pekerja disini, begitu fasih menjelaskan satu per satu peninggalan yang ada di sana. Bahkan sedikitpun tak ada kesalahan dalam hal dia bertindak.
Tak lupa keramahan dan kesopanan mereka, membuat Ammar begitu salut dengan Warga Brunei yang ada disini.
Puas berkeliling. Ibra membawa mereka ke suatu ruangan untuk tempat istirahat dua raja besar itu. Semua minuman dan cemilan, tentu sudah tertata rapi diatas meja membuat Khali begitu suka dengan kinerja Ibra yang rapi dan cekatan.
"Apakah Anda puas, Tuan Ammar?" tanya Khali ketika sudah meneguk air putih.
"Puas sekali, Tuan Khali. Semua pekerjanya ramah dan baik. Penjelasan mereka singkat, padat dan jelas lalu suasananya juga mendukung," ujar Ammar membuat Khali tersenyum.
"Syukurlah kalau Anda puas. Mari dimakan cemilannya," ucap Khali yang disambut baik oleh mereka.
Setelah menghabiskan satu cemilan. Tiba-tiba Ammar duduk dengan gelisah dan Khali menyadarinya.
"Ada apa, Tuan?"
"Oh ada, Tuan."
"Tolong antarkan saya, Asisten Ibra. Apa boleh?" celetuk Ammar membuat Ibra yang duduk di kursi samping Khali tersentak.
Namun, menolak pun dia tak bisa. Akhirnya Ammar pergi bersama Ibra meninggalkan Khali dan Rafiena di dalam ruangan.
Ah kesempatan bagus bukan, pikir Rafiena.
__ADS_1
Gadis itu bergeser duduk hingga mereka hampir berdekatan. Walau tempat duduk mereka berbeda, tapi sepertinya gadis itu tak menyerah.
Saat Rafiena hendak bergeser kembali. Tiba-tiba suara bariton khas Khali membuat wanita itu tercengang.
"Kenapa Anda bergeser terus, Putri Rafiena? Bukankah kita bukan Mahram, jadi kita dilarang berdekatan," ujarnya masih dengan nada sopan.
Berkas yang dibawa pun pelan ia letakkan di pangkuannya. Mata Khali langsung menatap Rafiena sejenak dan membuang muka.
"Aku hanya ingin bergeser saja, Raja Khali. Tidak ada niatan lain," ucap Rafiena membuat Khali mengangguk.
"Alhamdulillah bila Anda tak memiliki niatan lain. Saya hanya menekankan bila, apapun yang Anda lakukan, tak akan bisa merubah hati saya untuk Aqila," ujar Khali sambil beranjak diikuti Rafiena.
"Apa maksud, Anda? Apa Anda sedang mengancam saya?" ujar Rafiena menatap sinis.
Jujur gadis itu tak menyangka bila Khali bisa semenakutkan ini. Bahkan aura pria itu mulai terlihat berbeda hingga membuat Rafiena gemetaran.
"Anggap saja begitu," ucapnya santai. "Jangan lupakan juga, bila cinta saya hanya untuk Aqila. Dia istri satu-satunya dan saya tak akan menikah lagi."
~Bersambung~
Kapok wlekk. Khali tegas banget kan. uhuyy!
Kalau ada typo bilang yah. Aku ngetiknya sambil nahan ngantuk dan belum revisi.
__ADS_1
Jadi komen kalau ada typo ya geng.
Makasih~~~