Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 65


__ADS_3


Ujian setiap manusia berbeda-beda. Namun, kita semua yakin. Apa yang Allah beri, tak akan lebih dari kemampuan hambanya. ~JBlack~


****


Ibra meringis, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat reaksi Dini yang kembali galak. Sepertinya perempuan itu melupakan kondisinya saat ini.


Ternyata lebih baik dia tidur, daripada bangun dan segalak kuntilanak, batin Ibra menggerutu.


"Kamu ngapain disini?" tanya Dini lagi yang mengejutkan lamunan Ibra.


"Menjagamu," sahut Ibra sekenanya.


"Menjagaku?" ulang Dini sambil menaikkan alisnya, "aku tak butuh dijaga olehmu." 


Ibra menghela nafas berat. Dia tak tahu harus melakukan apa. Berhadapan dengan Dini, sikapnya yang biasa tegas seakan menguap. Ingin sekali ia marah tapi saat melihat kondisi wanita itu, membuat Ibra hanya bisa diam.


"Terserah. Yang pasti kalau tak ada aku disini, kau pasti sudah pingsan di jalanan," seru Ibra dengan wajah datar, "atau mungkin sudah dibawa oleh pria-pria tak dikenal."


Dini hanya melengos. Entah kenapa perkataan pria itu menurutnya benar. Namun, untuk mengakui hal itu membuat Dini merasa gengsi.


Hingga pertengkaran mereka teralihkan dengan suara pintu terbuka diikuti suara lembut yang begitu dia kenal.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Kamu sudah bangun, Din," ucap Aqila bahagia dengan memeluk sahabatnya.


Dini merintih hingga membuat Aqila segera melepas pelukannya.


"Aduhh maaf maaf. Mana yang sakit?" tanya Aqila menatap pada sahabatnya itu.


Dini menggeleng. Wajahnya berubah menjadi gugup saat Aqila menatapnya dengan intens. Tak mau semakin salah tingkah, akhirnya dia memilih menunduk menghindari tatapan Aqila yang mengintimidasi. 


"Apa kamu akan diam terus, Din?" tanya Aqila pelan dengan menarik dagu sahabatnya agar menatapnya.


Perlahan mata keduanya saling tatap. Aqila bisa melihat begitu banyak kesedihan di mata Dini. Apalagi sekarang, terlihat mata sahabatnya itu mulai berkaca-kaca hingga membuat Aqila semakin merasa bersalah.


"Jangan dipaksa. Kalau kamu gak mau cerita dulu, gak apa-apa. Yang penting kamu sekarang harus tenang," ujar Aqila sambil mengusap pipi Dini dengan lembut.


Pelukan lembut dan tak erat itu membuat hati Dini seketika tenang. Dia merasa tak sendiri lagi saat ini. Mungkin memang benar, jika ia harus berani berbagi masalahnya jika ingin hidupnya tenang.


"Bolehkah aku berbicara berdua dengan istri anda, Tuan Khali?" tanya Dini pelan sambil mengusap air matanya. 


Dia menatap wajah suami sahabatnya itu sebentar. Bagaimanapun Dini merasa segan dan gugup ketika berhadapan dengan Khali Mateen. Karena menurutnya, dua orang di depannya ini adalah orang penting di Brunei hingga membuatnya harus menjaga sikap.


"Boleh," sahut Khali dengan mengangguk. "Ibra, ayo kita keluar!" ajaknya pada sang asisten. 


Setelah melihat punggung kedua pria tampan itu tak terlihat. Aqila mulai naik di atas ranjang pasien hingga kedua sahabat itu saling bertatapan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Aqila menatap sendu sahabatnya.


Dini menarik nafas berat. Dia menunduk untuk mengumpulkan segenap kekuatan dalam dirinya untuk menceritakan segala kesakitannya selama ini.


Dapat Dini rasakan sebuah genggaman tangan di kedua tangannya, juga ia melihat senyuman tulus Aqila kepadanya.


"Satu bulan yang lalu, aku terpaksa menikah dengan seorang pria yang sudah memiliki istri."


Jantung Aqila terasa berhenti berdetak. Bahkan wajahnya kaku dan shock mendengar perkataan sahabatnya. 


"Aku dipaksa menikah dengannya karena keluargaku berhutang kepadanya. Aku dijadikan istri kedua dan diperlakukan dengan sangat kasar olehnya," ujar Dini dengan air mata mengalir.


"Aku dipaksa untuk melayaninya. Disisi lain, aku juga harus menerima hujatan dan perilaku buruk dari istri pertamanya," sambung Dini dengan mengusap air matanya yang mengalir deras.


"Istri pertamanya mengira aku mau menikah dengan suaminya karena harta. Ditambah setelah menikah denganku, suaminya tak pernah menyentuhnya lagi. Jadi terjadilah pertengkaran setiap harinya." Dini tak kuat meneruskan ceritanya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis begitu hebat.


Sungguh rasanya hidup Dini sudah tak ada lagi artinya. Bahkan gadis itu ingin sekali mengakhiri hidupnya tanpa harus memikirkan masalah ini lagi. Ia sudah tak sanggup dan ingin pergi untuk melupakan segala kesakitannya selama ini. Namun, mengingat siapa dirinya, membuat Dini mau tak mau harus menerima semua perlakuan itu untuk keselamatan keluarganya juga.


~Bersambung~


Yang dari kemarin tanya, akhirnya terjawab yah. Kalau tanya kenapa Dini baru nongol, ya ini alasannya.


Jangan lupa like komen yah. Kurang 1 bab lagi, mungkin agak maleman. Soalnya kurang ketikannya.

__ADS_1


__ADS_2