
Cintaku tak pernah memandang umur dan status. Yang aku tahu sekarang, bagaimana aku bisa mendapatkan hatimu. ~Rafiena Yuwana~
****
Setelah satu minggu berada di Indonesia. Akhirnya Khali kembali membawa istrinya pulang ke Brunei. Keduanya harus memendam rasa untuk tak tinggal terlalu lama, mengingat janji temu mereka dengan Dokter yang sudah direncanakan.
Hingga hari itu, Aqila dan Khali kembali terbang ke Negara asal sang suami dengan perasaan yang begitu sedih. Niat hati ingin menginap lebih lama akhirnya urung. Namun, bagaimanapun semua keluarga begitu mendukung dan tak menahan kepergian mereka berdua.
Semangat dan doa dari keluarga juga, sudah Aqila kantongi sejak kepergiannya dari Bandara. Hingga akhirnya, pesawat yang mereka tumpangi tiba di Bandara Brunei. Kedatangan keduanya juga sudah ditunggu oleh Ibra dan para pengawal kerajaan.
"Selamat datang, Tuan." Ibra menunduk, memberikan hormat ketika Khali dan Aqila yang baru saja turun.
"Terima kasih, Ibra," sahut Khali dengan menggandeng tangan istrinya mereka.
Mereka segera memasuki mobil kerajaan dan meninggalkan Bandara di waktu yang sudah begitu sore.
****
"Kamu istirahat ya, Sayang. Hubby akan ke ruang kerja sebentar," pamit Khali saat keduanya baru saja sampai di dalam kamar.
"Iya, By. Jangan lama-lama," ucap Aqila dengan senyuman manisnya.
Khali segera mendaratkan kecupan di dahi sang istri dan pergi meninggalkan kamarnya. Perjalanan ke Indonesia tentu membuat pekerjaannya sedikit menumpuk. Hingga sore ini, tentu dia harus menyelesaikan satu persatu agar besok bisa menemani istrinya periksa.
__ADS_1
"Ada kabar apa, Ibra?" tanya Khali saat dia memasuki ruang kerjanya.
"Kerjasama dengan Malaysia sudah ditentukan tanggalnya, Tuan."
"Kapan?"
"Lusa, Tuan," sahut Ibra menunduk.
"Kenapa begitu mendadak?" tanya Khali dengan kening berkerut.
"Itu semua atas permintaan pihak Malaysia, Tuan."
"Baiklah. Atur semuanya. Aku tak mau ada kegagalan dalam kerjasama besok."
Setelah itu, Ibra mulai memberikan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Khali. Hingga entah sudah berapa lama, terdengar suara adzan berkumandang.
Khali dan Ibra segera melaksanakan shalat maghrib di Masjid Istana bersama para pengawal dan rakyat Brunei yang tinggal di sekitar sana.
****
Di tempat lain.
Terdapat satu keluarga sedang duduk tenang di sebuah ruangan besar nan mewah. Beberapa benda mahal terlihat terpanjang di sana dan menampakan bahwa mereka bukanlah dari keluarga biasa.
"Bagaimana?" tanya pria berparas tampan yang duduk di sebuah sofa mewah di rumahnya.
__ADS_1
"Raja Brunei menyetujui permintaan kita untuk bertemu lusa di Istana Brunei, Tuan," ucap salah satu asisten Raja Tengku Ammar Yuwana.
"Bagus. Kamu boleh pergi."
Sepeninggal tangan kanannya. Seorang gadis duduk di samping Ammar dan menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.
"Apa itu pertanda kalau aku bisa bertemu dengan rajaku, Kak?" tanya gadis dengan kerudung menutupi rambutnya.
"Iya, Sayang. Kamu bisa bertemu dengannya lusa di Istana Brunei".
Perkataan dari Ammar tentu membuat senyuman lebar terbit di wajah gadis bernama Rafiena Yuwana. Gadis yang masih berumur 20 tahun itu begitu cantik dan anggun.
Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Rafiena di Malaysia?
Adik dari seorang Raja Malaysia yang memiliki wajah rupawan dan single lillah. Namun, tak banyak orang tahu, bila dibalik kesendiriannya itu, ia sedang menunggu cinta dari pria yang dia cintai.
Pria yang sudah berkeluarga dan memiliki istri begitu cantik, masih bisa menggaet hati seorang gadis cantik nan muda ini. Bahkan dengan rengekannya, Rafiena meminta sang Kakak, Ammar untuk melakukan kerja sama dengan pria itu agar ia bisa bertemu dan berjumpa dengan pemilik hatinya.
"Tunggu kedatanganku, Rajaku. Aku akan menjemputku dan rela menjadi istri keduamu."
~Bersambung~
Ehem kabor dulu, takot dilempar sendal.
Jangan lupa di like dan vote yah~~
__ADS_1