Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 78


__ADS_3


Percayalah jika Allah sudah bilang 'kun fayakun' maka yang mustahil pun bisa tercapai. 


****


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya seorang pria yang duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Yang pasti rencanaku akan semakin gila," sahut gadis dengan rambut tergerai indah.


Wanita itu sedikit menggesekkan rambutnya pada dada sang pria hingga membuatnya melenguh tanpa sadar.


"Jangan menggodaku, Rafiena!" ancam pria itu dengan suara serak menahan gairah.


Bukannya berhenti, wanita yang selalu berdiam diri di apartemen itu malah semakin gencar. Dia mencium dada bidang prianya dengan jari-jari menari disana. 


"Jika kau terus begini. Aku tak yakin bisa menahannya." 


Suara itu terdengar begitu seksi menurutnya. Wanita itu bukannya takut, tapi dia semakin menurunkan tali gaun tidurnya hingga menampakkan tubuhnya yang tak memakai dalaman. Tanpa aba-aba, dia segera berdiri dan mendudukkan dirinya di pangkuan sang pria. 


"Lebih baik kita bersenang-senang sebelum memulai rencana kita, Sayang."


Setelah mengatakan itu. Akhirnya dinginnya kamar mulai tak mengusik dua tubuh yang saling menghangatkan. Suara teriakan dan kenikmatan begitu terdengar ke seluruh penjuru.

__ADS_1


Apartemen itu benar-benar hanya terisi suara desahan setiap harinya. Rafiena dan prianya seakan lupa akan dunia. Keduanya selalu dipenuhi kabut gairah dan kesenangan pribadi tanpa memperdulikan siapapun.


Mereka akan selalu bermesraan ketika bersama. Tak pernah peduli ada hati yang disakiti. Dalam pikiran Rafiena dia juga hanya memikirkan penyokong dan pendukung rencananya. Dan dia yakin, jika pria yang berada dalam kuasanya ini adalah pria yang tepat.


****


Di tempat lain.


Suara perdebatan kecil terdengar begitu santer. Bahkan hal itu membuat para pelayan dan siapapun yang lewat begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri itu di dapur.


Ya, siapa lagi jika bukan Aqila dan Khali.


Sepasang pengantin halal itu saling berdebat ketika menentukan siapa yang memasak dan mengolah. Namun, perdebatan itu akan berakhir dengan godaan dan tawa bahagia ketika saling menggoda satu dengan yang lain.


"Ayo, By. Masukkan dagingnya!" perintah sang istri yang memakai celemek untuk menutupi gamisnya dari minyak dan kotoran yang lain.


"Kamu yakin ingin makan steak?" tanya Khali heran akan kemauan istrinya.


Biasanya Aqila adalah tipe wanita yang tak pilih-pilih makanan. Sekalipun ingin, wanita itu juga tak pernah aneh-aneh seperti ini.


Namun, ah sudahlah.


Pikir Khali yang penting istrinya mau makan. Dia sudah begitu bersyukur. 

__ADS_1


"Yakin banget, By. Ayo cepat masukkan!"


Akhirnya Khali tak membantah. Dia memasukkan steak daging itu ke atas teflon dan mulai memasaknya dengan teliti. Bermodal menonton video di youtube dan pengalaman mereka memasak steak. Akhirnya tersaji dengan cepat makanan daging ditambah sayur di satu piring itu. 


Ada raut kepuasan di wajah Aqila yang ditangkap oleh penglihatan Khali. Dia mengajak sang istri makan di taman sambil menikmati waktu sore. 


"Hubby. Buka mulutmu, Sayang!" pintanya sambil menyodorkan garpu berisi daging yang sudah dipotong.


Khali tersenyum. Tak menolak, dia segera membuka mulut dan mengambilnya. Mengunyah secara perlahan membuat Aqila begitu serius meneliti wajah sahabatnya itu.


"Gimana?" tanya Aqila tak sabaran.


"Enak banget, Sayang." 


Sore itu, pasangan suami istri, Aqila dan Khali benar-benar menikmati waktu sorenya sambil makan bersama. Mereka saling menyuapi dengan mesra antara satu dan yang lain.


"Ayo buka lagi! 


Makan secara bergantian dengan garpu yang sama. Selalu berhasil membuat jantung keduanya berdetak kencang. Cinta mereka semakin besar. Namun, tak sebesar cintanya pada sang illahi. 


Khali benar-benar heran dengan porsi makan istrinya. Bahkan ini jika dilihat, Aqila sudah habis dua daging steak untuknya sendiri. Namun, hal itu tak pernah membuatnya berpikir untuk menyampaikan pada sang istri, karena ia takut Aqila akan merasa tersinggung.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2