
Melihat wanita yang begitu berarti untukku tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Membuat rasa penyesalan karena tak bisa menjaganya tumbuh di hatiku. ~Khali Mateen~
****
Rumah sakit yang awalnya tak terlalu ramai mulai terlihat lalu lalang. Banyaknya pengawal tentu menjadi pusat perhatian. Ditambah mobil Kerajaan Brunei membuat para wartawan tertarik untuk mendekat.
Namun, syukurlah. Para pengawal yang disiapkan Khali bisa menghandle semuanya. Hingga para wartawan tak bisa mendapatkan gambar atau video Aqila yang tak sadarkan diri.
Dini benar-benar bingung. Bahkan wanita itu terlihat sangat kacau. Pakaian yang ia pakai juga sudah banyak darah milik Aqila. Entahlah saat ini seakan yang ada dalam pikiran Dini hanyalah keselamatan sahabatanya itu. Rasa traumanya seakan hilang ketika melihat wajah Aqila bersimbah darah di depan matanya.
****
Sedangkan di tempat lain. Lebih tepatnya di Istana Brunei.
Sejak keberangkatan istrinya, hal itu semakin membuat hati Khali begitu cemas. Bahkan tak jarang dia bolak balik sambil menunggu kabar dari istri tercintanya. Namun, kabar itu tak kunjung datang.
Hingga membuat pria tampan dan gagah itu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa ruang tamu. Matanya terpejam dengan tangan mengurut keningnya. Entahlah, baru kali ini Khali merasakan perasaan seperti ini. Biasanya ia selalu tenang. Namun, kali ini Khali yakin ada sesuatu yang tak beres.
Tak lama, ketika Khali asyik menenangkan pikirannya. Sebuah notif pesan di ponsel terdengar hingga membuatnya terpaksa membuka mata. Keningnya berkerut dengan sejuta banyak pertanyaan melihat nomer yang tak dikenal mengirimkan sebuah pesan. Dilanda rasa penasaran, akhirnya Khali membuka pesan itu.
Deg.
Udara seakan habis hingga membuat Khali sesak nafas. Matanya membelalak tak percaya melihat gambar yang dikirim melalui pesan di ponselnya ini.
__ADS_1
Khali menggelengkan kepala. Dia menolak untuk percaya tapi melihat mobil itu. Mobil itu benar yang dipakai oleh istrinya tadi.
"Ibra...Ibra!" teriak Khali dengan mata mulai tergenangi air mata.
Yang dipanggil tentu langsung meninggalkan pekerjaannya. Ibra berlari dengan tergesa menuju ke sumber suara yang membuatnya bisa melihat jika Tuan sekaligus sahabatnya terlihat begitu kacau.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ibra yang ikut panik.
"Antarkan aku ke rumah sakit!"
Ibra tak bertanya lagi. Dia langsung masuk ke dalam salah satu mobil diikuti oleh Khali. Dua pria tampan itu terlihat tegang dan cemas. Yang satu khawatir akan keadaan istrinya, dan yang satu khawatir melihat tuannya begitu kacau balau.
"Cepat, Ib!"
"Rumah sakit mana, Tuan?"
RS RIPAS adalah singkatan dari Rumah Sakit Raja Isteri Pengiran Anak Saleha. Salah satu rumah sakit utama dan terkenal di Brunei Darussalam.
Ibra seakan meningkatkan kewaspadaan dua kali lipat. Dia dengan lihai mengendarai mobiknya, hingga tak butuh waktu lama mobil yang ditumpangi oleh Khali sampai dengan selamat.
Tujuannya saat ini hanya satu. IGD tempat istrinya ditangani. Memakai masker, Khali dan Ibra segera masuk ke rumah sakit. Mereka hendak bertanya pada resepsionis. Namun, urung saat mata Ibra menangkap beberapa pengawal kerajaan berada disana.
"Itu pengawal kita, Tuan!"
Tanpa kata lagi. Khali segera berlalu diikuti Ibra. Pria itu juga tak kalah cemas. Dia baru ingat jika Dini ikut dalam perjalanan ini. Pikirannya mulai kacau dan takut bila terjadi sesuatu pada wanita itu.
__ADS_1
Jarak yang dekat membuat Ibra bisa melihat wajah wanita yang memenuhi hatinya. Dini, duduk sambil menunduk dengan pakaian kotor karena darah. Tak menunda, Ibra segera mendekat dan berjongkok di hadapan wanita itu.
"Dini…"
Sang pemilik nama mendongak. Tanpa aba-aba Dini langsung memeluk tubuh Ibra dengan erat. Wanita itu menangis dengan tubuh gemetaran hingga membuat Ibra begitu iba.
"Ustt tenanglah. Ada aku disini."
"Aqila…Aqila…" ucap Dini dengan ketakutan yang mendalam.
Khali yang mendengar nama istrinya disebut langsung mendekat ketika melihat Dini mulai tenang.
"Bagaimana Aqila?" tanyanya to the point.
"Masih ditangani oleh Dokter, Raja. Tapi…" Dini menggantung perkataannya. Wanita itu menghapus air mata yang terus mengalir.
"Kenapa!" sentak Khali tanpa sadar hingga membuat air mata Dini semakin deras.
"Keadaannya saat dibawa kesini begitu mengkhawatirkan."
Jantung Khali seakan berhenti berdetak. Dia tak menyangka jika ketakutannya akan terjadi. Seharusnya pria itu tak bertanya langsung. Melihat kondisi Dini yang banyak darah tentu membuatnya yakin jika darah itu milik istrinya.
Takut, kacau dan resah menumpuk di dalam pikiran Khali.
Namun, pria itu tak berhenti berdoa. Dia yakin Allah akan menjaga istrinya dengan baik dan tak akan mengambil posisi Aqila di sampingnya.
__ADS_1
~Bersambung~
Sabar Prince. Maafkan author satu ini yak.