Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
Bab 16


__ADS_3


Kamu adalah wanita terkuat. Wanita yang akan menjadi calon ibu dari anakku. Wanita satu-satunya yang menduduki tahta tertinggi dalam hatiku. ~Khali Mateen~


****


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Aqila hanya diam sambil menatap jalanan di luar sana. Pikirannya melayang entah kemana dengan pandangan kosong. Semua yang dilakukan wanita itu, tak luput dari pandangan Khali.


Pria itu menatap sedih ke arah istrinya. Semenjak mereka keluar dari ruangan Dokter Tia, istrinya itu hanya diam. Bahkan tak ada lagi senyuman yang biasa menemani hari-harinya itu. 


Menepikan mobilnya, Khali melepaskan seatbelt dan memiringkan tubuhnya. Ternyata benar 'kan, istrinya ini melamun. Bahkan meski mobil ini diam, Aqila tak menyadarinya.


"Sayang." Khali menarik tubuh sang istri hingga wanita itu tersentak kaget.


"Jangan diam seperti ini," bujuk Khali menatap istrinya itu.


"Aku hanya sedang berpikir, By." 


"Aku hanya takut, bagaimana bila aku tak bisa hamil juga? Meski sudah terapi atau apapun aku tetap tak hamil. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aqila menatap suaminya itu dengan sendu.


Meski telinganya mendengar perkataan Dokter Tia tadi, masih ada ketakutan dalam diri Aqila. Dia takut dengan penyakitnya ini, ia tak bisa memiliki anak. Jika seperti itu, dirinya bisa dikatakan mandul 'kan?


Jika begitu, apakah dia sanggup?


Jawabannya adalah tidak.

__ADS_1


Dia tak akan sanggup menerima takdir itu.


Apalagi mengingat suaminya adalah seorang Raja. Harus memiliki keturunan untuk meneruskan tahtanya ini. Itu menjadi pertanda, bahwa dia harus mengikhlaskan suaminya menikah lagi untuk memperoleh seorang anak.


Memikirkan hal itu, tentu membuat Aqila takut setengah mati. Dia belum siap untuk dimadu. Dirinya masih takut dan tidak ikhlas, bila suaminya menikah lagi.


"Hamil ataupun tidak. Aku akan selalu ada untukmu, Sayang. Jadi tolong jangan katakan itu lagi," ujar Khali menghapus air mata sang istri.


"Aku hanya takut, By. Aku takut," lirihnya dengan lelehan air mata yang semakin mengalir.


Khali tak sanggup, ditariknya tubuh Aqila ke dalam pelukannya. Mereka saling berbagi kehangatan, menguatkan satu dengan yang lain melalui sebuah pelukan. Khali berdoa semoga Aqila segera tenang dan tak berpikiran macam-macam lagi.


"By," panggil Aqila dengan suara tertahan karena pelukan suaminya.  


"Hmm?" 


Spontan pelukan Khali terlepas. Dia menatap tak percaya ke arah istrinya. Apakah yang dia dengar barusan benar? 


"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Khali bingung.


Aqila mengelus rahang tegas Khali dengan pelan. Beralih dia mengusap pipi dan hidung suaminya.


"Kamu adalah seorang Raja, By. Aku juga tahu jika kamu harus memiliki anak dari pernikahan kita untuk menggantikan kursi tahtamu," jeda Aqila menatap respon suaminya. "Bila aku tak bisa memberikanmu anak, aku ikhlas untuk dimadu."


Deg.

__ADS_1


Jantung Khali mencelos. Dia tak menyangka istrinya akan menyerah seperti ini. 


"Kemana istriku yang biasanya tabah? Kemana istriku yang begitu kuat?" tanya Khali sambil menatap dalam bola mata istrinya. 


"Kenapa istriku sekarang menyerah karena keadaan?" 


"Karena aku mulai belajar menerima penyakitku, By. Karena aku mulai menyiapkan hati untuk kemungkiran buruk dan gagalnya terapiku," ujarnya sambil menutup kedua wajahnya.


Aqila terisak. Dirinya juga merasa tak tahu mendapatkan keberanian dari mana mengatakan itu semua. Padahal apa yang dia katakan, semua berbanding terbalik dengan hatinya.


Namun, lagi-lagi Aqila tak mau egois. Dia harus bersiap dengan segala konsekuensi. Dirinya harus memahami posisi sang suami juga. Apapun itu, Aqila akan mulai menerima takdir yang akan membawanya sekarang. 


"Tapi bukan seperti itu caranya, Sayang." Khali mendongakkan wajah sang istri.


Dihapusnya air mata Aqila dan dia menjatuhkan kecupan di dahi, hidung dan bibirnya sebentar.


"Apapun hasilnya. Yang perlu kamu ingat. Istriku satu-satunya hanya kamu, Aqila Kanaira Putri Cullen. Ibu dari anak-anakku nanti hanya kamu. Tak ada mereka dan yang lain," ujar Khali tegas.


"Tapi…"


"Tak ada kata tapi, Sayang. Apapun hasil akhirnya nanti, yang pasti kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku percaya kok, Allah akan melihat segala usaha kita ini dan mengabulkan segala doa kita." 


~Bersambung~


Ah Khali bikin iri.

__ADS_1


Suami harapan wanita di luar sini kek begini.


Jangan lupa like~~


__ADS_2