Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 68


__ADS_3


Terkadang cinta itu tak terlihat dan membuat orang yang merasakannya tak menyadari hal itu. Namun, jangan lupakan orang yang melihatnya pasti akan tahu jika dia sedang jatuh cinta. ~Khali Mateen~


****


Selama dua hari Dini di rawat di rumah sakit. Tak sedikitpun baik Aqila, Khali maupun Ibra meninggalkan Dini sendirian. Ketiganya merasa khawatir jika kondisi mental Dini akan terganggu. Karena atas nasehat Dokter saat pemeriksaan kemarin, jika Dini tak boleh dibiarkan sendirian. Takut bila wanita itu akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri.


Hari ini, Dokter sudah mengizinkan Dini untuk pulang. Hal itu tentu membuat senyuman Dini begitu jelas kentara. Dua hari di rumah sakit, membuat wanita itu selalu mengeluh bosan dan ingin pulang. Namun, tetap saja, sekeras kepalanya Dini, ia tak akan berani membantah perkataan sahabatnya, Aqila.


"Kamu ikut pulang ke istana yah," ucap Aqila menatap sahabatnya.


Saat ini keduanya duduk di atas ranjang pasien saling berhadapan. Mereka berdua hanya berduaan karena dua pria tampan sedang mengurus keperluan Dini.


"Tapi…" Dini menjawab dengan ragu. Bahkan Aqila bisa melihat raut wajah cemas di mata sahabatnya itu.


Dengan pelan, Aqila menggenggam kedua tangan sahabatnya. Dia tersenyum tulus untuk menyalurkan jika semua baik-baik saja.


"Kamu bakalan aman berada di Istana. Aku takut jika kamu pulang, kamu akan disiksa kembali, Din," ujar Aqila dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Selama dua hari ini, tentu baik Aqila, Khali maupun Ibra diam-diam melakukan banyak hal. Mereka bahkan mengirimkan penyusup dan mata-mata di rumah suami Dini. Ketiganya seakan ingin menyelamatkan hidup Dini dari siksaan istri pertama dan suaminya.


Sungguh apa yang terjadi pada diri Dini, sudah menjadi pukulan telak untuk para wanita di luar sana. Bagaimanapun KDRT tak dibenarkan. Semua itu harus mendapatkan balasan yang setimpal, dan Aqila sedang mengupayakan hak sahabatnya itu.


"Baiklah. Aku ikut," jawab Dini membuat senyuman bahagia terlihat di wajah Aqila.


Istri dari Khali tentu tak bisa menyembunyikan senyumannya. Jika Dini ada di istana, maka dia bisa memantau kesehatan sahabatnya. Bahkan bisa melihat tingkah laku dan mental Dini yang sedang terganggu. Selain itu, di otak Aqila juga mulai terbesit jika akan ada seseorang yang ikut bahagia ketika Dini tinggal di Istana. 


Dan kalian pasti tau siapa kan? Hehe.


Disisi lain, lebih tepatnya di depan ruang rawat Dini. Terdapat dua orang pria tampan sedang berbicara dengan tiga orang pria bertubuh tegap. Wajah kelimanya begitu serius dengan sorot mata tajam.


"Yang pasti saya ingin kalian mencari bukti kejahatan lelaki tua itu. Lalu bawa kepada kami! Dia harus segera mendekam di penjara!" ujar Ibra penuh penekanan.


"Siap, Tuan," sahut tiga pria bersetelan hitam dengan kepala menunduk.


Diam-diam Khali yang berdiri di samping Ibra tersenyum tipis. Baru kali ini pria itu bisa melihat raut wajah Ibra yang tegas untuk tujuan seorang perempuan.


Meski ya, ini terkesan kejam karena menyukai wanita bersuami. Namun, dibalik itu semua hubungan Dini dengan suaminya sudah kelewat batas. Dan Khali bisa memaklumi jika Ibra begitu berlebihan. Karena mungkin di samping perasaannya, siapapun jika melihat KDRT pasti akan terenyuh. Itulah yang ada dipikiran Khali.

__ADS_1


"Baiklah kalian boleh pergi!" seru Ibra membuat pikiran Khali buyar.


Pria itu menepuk pundak Ibra dengan senyum tipis.


"Aku yakin apa yang kamu lakukan untuk kebaikan Dini. Bantu dia untuk keluar dari hubungan tak sehat dan bahagiakan dia dengan cara yang dibolehkan oleh Tuhan." 


Setelah mengatakan itu, Khali segera berbalik meninggalkan Ibra yang mematung karena perkataan Khali barusan. Pria itu seakan menjadi pria bodoh saat meresapi setiap kata yang keluar dari bibir Khali.


Namun, kepalanya masih ingat dan menangkap kata yang dilontarkan oleh Khali adalah 'bahagiakan dia dengan cara yang dibolehkan oleh Tuhan.' 


Jika cara yang dibolehkan oleh tuhan untuk lelaki dan perempuan ya hanya satu, yaitu….


"Menikah," ucap Ibra dengan mata membelalak tak menyangka akan analisis kepalanya sendiri.


~Bersambung~


Lah kan piye to Kang Ibra iki. Nikah iku halal loh, entuk pahala. Enteni Jandane Kang, hahaha.


Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2