
Terkadang perasaan itu tak dapat kita cegah dan kita atur. Dia datang tanpa diminta dan membuat alam bawah sadar kita begitu kacau. ~JBlack~
****
Aqila tersadar dari keterkejutannya. Hatinya ikut sakit melihat keadaan sahabatnya yang tak baik-baik saja. Bahkan bisa ditebak, jika mental Dini terganggu akan kejadian itu.
Tak sanggup melihat sahabatnya menangis hebat. Aqila segera meraih Dini ke dalam pelukannya. Mereka berdua menangis bersama untuk menghilangkan beban dalam hati Dini sedikit. Bahkan tangan Aqila mulai mengelus punggung sahabatnya dengan lembut.
Mungkin ia tak bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Namun, setidaknya dengan dia menjadi pendengar yang baik, maka hati Dini mungkin sedikit lebih tenang.
Tak ada ucapan apapun. Aqila hanya diam dan menunggu Dini melampiaskan segala kemarahan dalam dirinya. Mungkin seperti ini mampu membuat sahabatnya itu menjadi puas dan tak terbawa mimpi lagi.
"Aku capek, La. Aku udah capek sama hidup ini," bisik Dini pelan dengan posisi masih berpelukan.
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Semua ini sudah ketentuan Allah. Jika Allah sudah memilihmu, maka Allah yakin kamu bisa melewatinya dengan baik," nasihat Aqila pelan dengan tangan masih mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Ujian ini datang, bukan karena Allah benci sama kamu, Din. Melainkan karena Allah sayang, dan ingin mengangkat derajat kamu. Mangkanya Allah kasih ujian ini biar kamu berproses, kamu berubah dan lebih dekat dengan-Nya".
Tak ada jawaban. Hanya deru napas teratur dan tubuh Dini yang mulai melemah. Perlahan Aqila melepas pelukannya dan melihat bahwa sahabatnya tertidur.
Dia tahu jika Dini pasti lelah akan masalah yang menimpanya. Hingga membuat tubuh dan matanya tak bisa diajak berkompromi.
Kedua sudut bibir Aqila terangkat ke atas saat melihat bagaimana nyenyaknya Dini tertidur di pelukannya. Namun, pikirannya masih tertuju pada nasib sahabatnya.
Setelah membenarkan posisi selimutnya. Tak lupa Aqila meninggalkan ciuman di kening dan membisikkan kalimat yang begitu menenangkan.
"Tidur yang nyenyak yah. Aku bakalan ada disini sampai kamu sembuh."
Menghela nafas berat. Aqila mendekat dan memeluk tubuh suaminya erat. Tak lama, terdengar isak tangis dari bibirnya hingga membuat Khali kebingungan.
"Ada apa?" tanya Khali pelan sambil mengusap kepala sang istri yang terbalut hijab.
Tak ada jawaban. Aqila semakin memeluk Khali dengan erat hingga membuat pria itu membawa istrinya untuk duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Baik Ibra maupun Khali menunggu hingga Aqila tenang. Tak lama, tangisan itu mulai reda dan membuat kedua mata Ratu Brunei itu sembab.
Secara perlahan, Aqila menceritakan kembali apa yang tadi dikatakan oleh Dini. Dia mengatakannya sambil menangis. Sungguh Aqila merasa jika sahabatnya ini memang kuat. Dalam keadaan seperti ini saja, Dini mampu menyimpannya sendiri. Entahlah jika ia yang ada diposisi Dini, apakah ia akan sanggup atau tidak.
"Aku merasa jadi sahabat yang tak berguna, By. Ketika sahabatku berada di titik terendah. Aku bahkan tak menyadarinya," ucap Aqila penuh penyesalan.
Khali menarik sang istri dalam pelukannya. Meninggalkan kecupan di puncak kepalanya untuk menenangkan keadaan Aqila yang begitu kacau.
"Ini bukan salah kamu, Sayang. Ini sudah takdirnya. Sekarang, karena kamu sudah tahu. Jadilah sahabat yang menjadi pendengar untuknya. Aku yakin, Dini butuh itu.
Aqila mengangguk. Dia membenarkan ucapan suaminya. Hingga tanpa keduanya sadari. Seorang pria sudah menunjukkan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. Dua tangannya terkepal kuat dengan emosi yang memenuhi kepalanya. Entah kenapa bayangan cerita Aqila tentang Dini dan keadaan wanita yang terbaring di ranjang pasien membuat perasaan Ibra tak menentu.
Dia merasa ingin sekali memukul wajah pria dan wanita yang menyakiti Dini. Ingin sekali dia membalas semua perlakuan mereka hingga membuat Ibra tak menyadari jika hatinya mulai tergelitik oleh rasa khawatir yang berlebihan.
~Bersambung~
Jangan lupa tekan like dan komen yah.
__ADS_1
Kalau ini updatenya pagi, berarti emang NT lagi eror. Hiks.