Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
Bab 20


__ADS_3


Persahabatan yang positif adalah ketika dia mengingatkan dirimu dalam hal kebaikan, selalu ada dalam suka maupun dukamu dan membahagiakan ketika kalian bersama. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Suara adzan subuh membangunkan kedua manusia yang sedang terlelap tidur dengan indahnya. Mereka segera mengerjakan shalat subuh berjamaah di kamar. Waktu seperti ini, tentu menjadi salah satu momen yang selalu Aqila dan Khali rindukan.


Bisa shalat dan mengaji bersama menjadi suatu hal yang jarang dilakukan. Jika ditanya alasannya, karena tentunya Khali lebih sering melaksanakan shalat jamaah di masjid istana bersama para warga sekitar dan pengawal.


Hingga terkadang, waktu seperti ini dimanfaatkan begitu baik oleh Khali. Berbagi ilmu dan mencari pahala yang banyak secara bersama-sama.


"Alhamdulillah." Khali dan Aqila segera melipat Al quran yang baru dibacanya dan diletakkan di atas meja.


"Jangan lupa nanti kita ke rumah sakit ya, Sayang," ucap Khali yang membuat Aqila sedang melipat mukenanya berhenti sejenak.


"Iya, By. Kalau boleh tau, kita ke rumah sakit mana?" tanya Aqila sambil beranjak berdiri.


"Rumah sakit milik Kak Kevin. Tempat dulu kamu bekerja," ujar Khali membuat Aqila mendongak.


"Kenapa kesana?" 


"Karena kemarin Ibra cek di sana dan dikasih tahu sama teman kamu Dini kalau dokter kandungannya bagus." 


"Iya memang, By. Dokter kandungan di rumah sakit milik Raharja bagus banget," ujar Aqila.


"Yaudah berarti nanti yah."


"Iya."


Aqila segera membereskan alat sholat. Sedangkan Khali, pria itu mengambil laptopnya sejenak untuk mengecek email yang mungkin dikirim oleh Ibra.


Bagaimanapun kerjasama dengan Malaysia berhubungan dengan hal ekonomi. Maka dari itu, dia berusaha keras agar kerjasama ini berhasil dan menguntungkan kedua belah pihak.  


"Aku ke dapur ya, By," pamit Aqila setelah memakai kerudungnya.


"Untuk apa?" tanya Khali mengangkat kepalanya sejenak.

__ADS_1


"Menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuaku." Aqila berharap jika dia merayu seperti ini akan diizinkan.


Dan ternyata berhasil bukan. Khali paling tidak bisa dirayu dan digoda seperti ini. Lihatlah, wajah manis dan tampannya, membuat Aqila menciumi wajah sang suami sebentar sebelum meninggalkan kamar. 


****


Suasana meja makan terasa lebih ramai. Kedatangan Khali dan Aqila tentu membuat kesepian di hati Umi Mayra dan Abi Malik menjadi hilang. Beberapa hari terasa sepi, akhirnya hari ini mulai terlihat ramai kembali.


"Apa kalian jadi ke rumah sakit?" tanya Umi saat acara sarapan mereka selesai.


"Iya, Umi. Sebentar lagi kami berangkat," ungkap Khali membuat kedua orang tuanya mengangguk.


"Umi doakan semoga menantu Umi diberi kekuatan dan kesembuhan," ucap Umi Mayra tulus.


Mata Aqila berkaca-kaca. Dia tak menyangka bila mertuanya sudah mengetahui tentang penyakitnya. Namun, mengingat semua urusannya disini diurus oleh Ibra, pasti kedua orang tua Khali mengetahui dari pria itu. 


"Aamiin. Makasih ya, Umi. Doakan Qila bisa sembuh dan memberikan cucu buat Umi dan Abi." 


Umi menggeleng. "Umi doakan kamu sehat selalu, Nak."


"Jangan dipikirkan masalah cucu, Qila. Abi sama Umi gak pernah minta Aqila hamil atau apapun. Semua itu sudah takdir dari Allah, Nak. Jadi Aqila jangan terbebani."


Tentu saja.


Dimana ada mertua seperti mereka?


Yang lebih mementingkan hati menantu daripada keegoisan.


Bila diluar sana, banyak yang menuntut istri ataupun menantunya untuk hamil. Namun, disini Aqila diberikan mertua dan suami yang begitu menyayanginya. Tak pernah menuntut dan selalu tulus kepadanya.


"Terima kasih, Umi, Abi. Qila sayang kalian."


"Umi sama Abi lebih sayang sama kamu, Nak." 


Akhirnya setelah suasana haru itu berakhir. Khali segera membawa istrinya menuju rumah sakit.


Dengan pengawalan penuh, mobil mulai melaju membelah jalanan Brunei. Cuaca dingin di luar sana, tentu tak mengusik pandangan Aqila untuk tidak menatap keindahan Brunei di pagi hari.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil mulai memasuki area parkir. Suasana yang disterilkan membuat keduanya terbebas dari beberapa pandangan mata orang-orang di sana. 


Jangan lupakan, semua pekerjaan sukses ini, tentu tak luput dari hasil kerja keras Ibrahim. Pria kaku itu begitu perfect dan patut diacungi jempol dalam pekerjaannya.


Tanpa basa basi, Aqila segera turun bersama Khali. Tujuan mereka tentu langsung ruangan Dokter kandungan. Waktu yang masih pagi hari, tentu membuat rumah sakit masih terlihat sepi.


Hingga tak lama, ketika mereka melewati lorong, suara panggilan menggema membuat Aqila menengok ke belakang. 


"Masya allah." Aqila berujar senang. Dia melepas genggaman tangan suaminya pelan lalu berjalan menuju sahabatnya itu.


Ya, suara itu keluar dari bibir Dini. Mereka segera berpelukan erat melepaskan rindu yang membuncah. Karena kesibukan keduanya, tentu membuat intensitas pertemuan mereka menjadi sulit. Pertemuan yang dulunya sering, menjadi mudah dihitung karena waktu mereka habis oleh pekerjaan.


"Kangen banget aku tuh," ungkap Dini dengan menggoyangkan pelukan mereka.


"Sama. I miss you so much." 


"Ah udah lepas-lepas," ucap Dini menjauhkan tubuhnya. "Noh liat, suami kamu udah nunggu."


"Eh iya, hihi." Aqila terkekeh. "Ayo ikut! Aku mau terapi dan pengobatan." 


"Yakin nih? Emang boleh?" 


"Ayo." Aqila menarik tangan sahabatnya menuju sang suami. 


"By, Dini ikut boleh?" pintanya dengan mata dibuat menggemaskan.


"Tentu. Untuk istriku semuanya boleh." Setelah mengatakan itu, Aqila menghadiahi kecupan di punggung tangan Khali, yang membuat hati jomblo seperti Dini meronta-ronta.


"Plis tolong. Kasihanilah jomblo disini," ujar Dini mendrama. "Mataku ternodai, hiks." 


Aqila hanya terkekeh dan menggeleng. Ternyata tingkah sahabatnya ini masih sama. Namun, hal itulah yang membuatnya begitu nyaman bersahabat dengan Dini. Gadis yang apa adanya dan terbuka. Tempat membuat Aqila selalu merasa senang bila di dekatnya.


Tanpa keduanya sadari, ada seorang pria yang tersenyum tipis melihat tingkah konyol Dini. Hingga membuat sesuatu dalam hatinya merasakan keanehan yang tanpa pria itu sadari.


~Bersambung~


Ehem-ehem ada yang udah senyum tipis-tipis nih.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote yah~~~


__ADS_2