
Tak ada kata menyerah sebelum aku berhenti bernafas. ~Rafiena Yuwana~
****
"Kamu sudah keterlaluan, Rafiena. Sikapmu sudah di luar batas. Lebih baik kamu angkat kaki dari Istana ini. Pergi!"
Rafiena tertegun. Gadis itu mendadak mematung mendengar satu kata yang keluar dari mulut kakaknya. Apa dia tak salah dengar, kakak yang begitu menyayanginya, sekarang malah mengusir dirinya.
"Kakak mengusirku?" seru Rafiena menatap kedua bola mata Ammar.
"Ya. Kamu sudah keterlaluan pada Umi," sahut Ammar tajam.
"Bukan aku yang keterlaluan. Tapi umi!" teriaknya tak terima.
Ammar tak peduli lagi. Dia menarik tangan Rafiena dan menyeretnya dengan kuat. Walau gadis itu menolak dan meronta. Tetap saja, tenaga pria jauh lebih kuat dari wanita. Hingga dengan mudah, Ammar menarik gadis itu untuk keluar dari Istana.
"Berhenti. Aku gak mau pergi, Kak!" teriaknya dengan meronta.
"Kamu harus pergi dari sini, dan selesaikan semuanya!" sentak Ammar sampai suaranya melengking.
"Aku tidak mau!"
Penolakan Rafiena tak berarti apa-apa. Gadis itu dengan mudahnya ditarik hingga pintu utama Istana terbuka lebar.
__ADS_1
Pemandangan pertama tentu para wartawan yang berdiri di depan Istana Malaysia. Namun, hal itu tak membuat Ammar menghentikan aksinya.
Dia sudah tak mau mencoreng nama baik kerajaannya lagi. Dirinya tak mau membuat ulah ataupun membela siapapun. Semua ini juga karena kesalahannya. Maka dari itu, Ammar ingin mengembalikan guncangan di Kerajaan Malaysia agar tak terkena dampak ini.
Bugh.
Ammar mendorong adiknya itu hingga jatuh ke lantai luar Istana.
"Pergi kamu dari sini!"
Rafiena meringis. Dia bisa merasakan bila siku tangannya terluka. Namun, tetap saja, semua itu tak lebih sakit dari hatinya.
Penghinaan dan pengusiran ini membuat hatinya tergores. Sakit hati itu seakan mengobar api dendam dalam diri Rafiena. Gadis itu sudah terselimuti gelapnya hati hingga membuatnya tak ingat kebaikan keluarga di depannya ini.
Begitulah perasaan dan obsesi. Terlalu berlebihan juga tidak baik. Pasti akan menimbulkan dampak negatif bila seseorang tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
"Kalian boleh membenciku dan mengusirku. Tapi ingat! Aku akan membalas kalian dengan caraku sendiri."
Setelah mengatakan itu, Rafiena berjalan tertatih keluar dari Istana. Dia bahkan sudah tak peduli dengan jepretan foto dari wartawan yang menunggu dirinya sampai di gerbang.
Samar-samar Rafiena bisa mendengar suara wartawan memanggilnya. Bahkan banyak juga yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepadanya.
Dari yang,
"Apa yang sebenarnya terjadi, Putri?"
__ADS_1
"Apakah benar jika Anda yang menyebarkan gosip tentang istri dari Raja Brunei?"
"Apa benar Anda ingin merebut Raja Khali dari Ratu Aqila?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat telinga Rafiena panas. Saat sudah mencapai gerbang, gadis itu menoleh menatap para wartawan yang seketika terdiam.
Tatapan tajam dari mata Rafiena tentu mampu menusuk bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan mereka menatap penampilan putri dari Malaysia itu terlihat begitu kacau. Belum lagi, pipi yang memerah menandakan bila ada yang menyakiti gadis itu.
Rafiena berjalan mendekat. Dia tersenyum miring di hadapan para wartawan.
"Apakah kalian menunggu jawabanku?" tanya Rafiena sehingga membuat para wartawan mengangguk.
"Apakah kalian butuh kesaksianku?"
"Iya, Putri."
"Baiklah. Tolong rekam ucapanku ini dan sebarkan."
Para wartawan sudah mulai siap dengan kamera menyorot dan mic untuk merekam kesaksian Rafiena.
"Tunggu pembalasanku untuk kalian yang sudah bermain-main denganku. Aku akan kembali dan pasti menghancurkan kalian semua," ucap Rafiena tajam dengan serum miringnya. "Untukmu, Ratu Aqila. Aku bukannya kalah. Tapi tunggu kehadiranku lagi untuk mengambil cintaku yang sudah kamu ambil."
Selesai mengatakan itu. Rafiena langsung pergi meninggalkan para wartawan yang berhasil merekam. Saat mereka hendak meminta penjelasan padanya, gadis dengan penampilan kacau itu sudah memasuki sebuah mobil yang sepertinya sudah menunggu kehadirannya sejak tadi.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote yah~~