
Balasan dari semua perbuatan terkadang memang begitu jahat dan kejam. Tapi itulah hidup, apa yang kita tanam, maka itu yang kita tuai. ~JBlack~
****
"Jangan harap!" sentak pria itu melepaskan kepala Rafiena hingga terkantuk di lantai. "Aku sudah tahu rencanamu, Jalang."
Deg.
Jantung Rafiena berdetak begitu kencang. Sakit di leher dan dahinya terasa hilang seketika. Tubuhnya mematung dan tegang ketika mendengar ucapan yang begitu tak ia sangka.
Memberanikan diri, Rafiena mengangkat kepalanya. Dia tatap wajah pria di depannya dengan tatajam tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Rafiena setelah menenangkan ketakutannya.
"Hee apa kau mendadak amnesia?" tanya pria itu dengan wajah mengejek, "atau perlu kuingatkan, 'hem?"
"Aku sungguh tak mengerti apa yang kau katakan," ujar Rafiena dengan keras.
Ah benar-benar wanita yang pandai bermain peran. Bahkan wajahnya ia ubah sepolos mungkin hingga membuat siapapun pasti akan terpengaruh. Namun, perlu diingat!
Pria di depannya ini bukanlah pria biasa. Dia adalah pria yang bekerja di hitam dan putih. Dia juga tahu pahitnya hidup dan kejamnya dunia. Lalu sekarang, wanita di depannya ini ingin membodohinya?
Jangan harap!
"Kau tak mau mengaku?" tunjuknya dengan mengelus pipi wanita itu lembut. "Baiklah. Aku juga memiliki sesuatu yang pasti akan membuatmu mengaku."
__ADS_1
Pria itu beranjak berdiri. Dia membersihkan tangannya seakan kulit Rafiena begitu kotor dan menjijikkan. Tanpa berkata lagi, dia segera berbalik dan menghilang di balik pintu.
Tanpa Rafiena tahu. Bila malam ini akan menjadi malam yang mengejutkan untuknya. Akan ada malam begitu istimewa yang membuatnya tak mampu melupakan malam ini.
****
Waktu terus berputar. Hari mulai berganti lagi. Pagi ini, seorang pria tampan tengah menunggu istri tercintanya di dalam sebuah ruang rawat rumah sakit.
Tak henti-hentinya sejak kemarin, Khali terus menggenggam tangannya dengan sang istri. Dia bahkan tak keluar sedikitpun.
Hati dan pikirannya hanya tertuju pada Aqila. Bahkan bujuk rayuan dari keluarga tak membuat Khali beranjak. Hanya panggilan Allah untuk sholat dan panggilan alam yang membuatnya beranjak. Setelah itu, pasti dia akan kembali.
Rasa penyesalan dan ketakutan itu masih begitu besar. Bahkan melihat istrinya belum sadar dalam tidur lelapnya membuat hatinya masih resah. Hingga perlahan sebuah usapan lembut di bahunya membuat Khali mendongakkan kepalanya.
"Kakek," ucap Khali dengan menegakkan tubuhnya.
"Makanlah dulu! Kau juga butuh tenaga untuk menjaga cucuku," ucap Kakek dengan raut wajah tak biasa.
"Tapi, Kek…"
"Jangan membantah! Ayo makan!" Akhirnya Khali beranjak mengikuti langkah kaki kakek menuju sofa yang ada di dalam sana. Beberapa anggota keluarga tersenyum dan bersyukur melihat Khali menuruti perintah pria tua itu.
Ummi Mayra dengan cekatan mengambilkan makanan di piring putranya. Dia senang anaknya mau makan walaupun sedikit. Bagaimanapun, sejak kemarin Khali belum makan apapun. Hingga membuat semua orang khawatir.
Tak lama, perhatian semua orang teralihkan pada suara televisi yang dihidupkan. Pandangan mereka tertuju ke sebuah berita besar yang tengah disiarkan.
Telah ditemukan mayat seorang perempuan dengan tubuh begitu mengenaskan di pinggir jalan.
__ADS_1
Judul itu begitu jelas kentara hingga membuat semua orang yang berada di dalam ruang rawat begitu penasaran. Mata dan telinga mereka masih begitu fokus pada layar persegi panjang itu.
Dari hasil otopsi dan identitas korban. Perempuan dengan tubuh mengenaskan itu adalah Putri Rafiena Yuwana.
Mata semua keluarga terbelalak lebar. Bahkan sendok yang dipegang Khali sampai terjatuh. Jantung mereka seakan berdebar tak karuan mendengar kabar itu. Sekian lama Khali, Ibra dan keluarga Aqila mencari keberadaan Rafiena. Tapi sekarang?
Wanita itu muncul dengan kabar yang begitu mengejutkan. Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Khali hingga membuat matanya tertuju pada wajah Kakek Abdullah dan Paman Salim.
"Siapa yang melakukannya, Kek?" tanya Khali.
Kakek Abdullah menggeleng. "Kau tau sendiri, 'kan? Kakek saja tak bisa melacak keberadaan perempuan itu."
Khali mengangguk. Memang benar yang dikatakan oleh kakek. Selama ini mereka saling bertukar kabar untuk mencari keberadaan Rafiena. Namun, Sayang. Seakan keberadaan perempuan itu ditelan bumi dan tak bisa dilacak.
"Sudah. Lupakan semuanya, Nak," nasihat Ummi Mayra. "Maafkan segala kesalahan Rafiena padamu. Biarkan dia tenang dan semoga dosanya diampuni oleh Allah."
"Aamiin."
Begitulah kehidupan. Apapun yang kamu lakukan, maka bersiaplah dengan tanggung jawabnya. Apa yang kamu tanam, maka itulah yang kamu tuai.
Jika yang kamu lakukan kebaikan, maka tunggulah kebaikan lain yang datang di kehidupanmu. Begitupun sebaliknya. Jika kamu melakukan keburukan, maka tunggulah hasil keburukan apa yang akan kamu tuai.
~Bersambung~
Udah setimpal belum? Weleh weleh mengejutkan gak?
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1