
Orang bodoh adalah ketika dia sudah ketahuan melakukan kesalahan. Namun, masih bisa mengelak dan memberikan tuduhan itu kepada orang lain. ~JBlack~
****
Seorang gadis tengah terpejam pasrah di atas ranjang. Dirinya belum menampakkan ciri-ciri untuk sadar dari pingsannya. Di dalam kamar tersebut, sudah ada Ammar, Umi Raida dan Abi Raden yang notabenenya adalah orang tua Raja Brunei.
Mereka bertiga menunggu kesadaran gadis yang tak lain adalah Rafiena untuk melakukan klarifikasi. Sungguh, di depan gerbang Istana Malaysia, sudah banyak wartawan yang memaksa masuk. Bahkan, banyak sekali hujatan yang dilayangkan di akun sosial mereka bertiga.
Hal itu sontak membuat Umi Raida sejak tadi uring-uringan. Bahkan dia sampai memarahi Ammar, putra kandungnya langsung. Kalau bukan karena pria itu mengajak adiknya ke Brunei, pasti semua ini tidak akan terjadi.
"Yang penting dia harus segera bangun, Bi," ujar Umi Raida kesekian kalinya.
Wanita itu sudah tak sabar menunggu. Hingga saat dirinya hendak ke kamar mandi untuk mengambil air. Abi Raden memegang tangan Umi Raida dengan lembut.
"Biarkan pelayan yang membangunkannya," ujarnya lembut.
Umi Raida mengangguk. Abi Raden segera menyuruh pelayan untuk memberikan minyak kayu putih agar lebih manusiawi. Bagaimanapun, dia tetap menganggap Rafiena adalah putrinya. Hidup selama belasan tahun dengannya, tentu membuat Abi Raden bahagia.
Bahkan pertemuannya dengan Rafiena dulu dijalan, dianggap sebagai hadiah dari Allah. Karena pada saat itu, Umi Raida sudah divonis tidak bisa hamil lagi karena pengangkatan rahimnya setelah selesai melahirkan. Maka dari itu, kedatangan Rafiena di hidup mereka, membuat keseharian mereka lebih berwarna.
__ADS_1
Aroma minyak putih menguar hingga membuat gadis yang awalnya terpejam mengernyitkan alisnya. Matanya seketika bergerak dan terbuka dengan pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Eghhhhh," lenguhan Rafiena terdengar saat gadis itu memegangi kepalanya yang sakit.
"Apa Anda baik-baik saja, Putri?" tanya pelayan wanita yang menemaninya sejak kecil.
"Jangan menyentuhku!" hardiknya kasar.
Sejak dulu memang sikap Rafiena di luar dengan di dalam Istana sungguh terbalik. Ketika dia ada di luar, maka sikap baik hati, anggun, sopan dan ramah terlihat begitu jelas. Namun, ketika dia sudah ada di dalam Istana, maka sikap aslinya akan keluar.
Rafiena itu adalah sosok kasar dan angkuh kepada pelayannya. Bahkan dia juga selalu menghina dan merendahkan martabat seorang pelayan. Hingga hampir seluruh pelayan tak menyukai dirinya.
Dia menoleh dan spontan mendudukkan dirinya saat melihat Abi, Kakak dan Uminya disana.
"Abi," panggilnya manja seperti kesehariannya.
"Jangan panggil suamiku seperti itu, Anak Pungut," seru Raida marah, "karena dia bukan ayah kandungmu."
Sakit? Tentu saja.
Mata Rafiena memerah dengan kedua tangan terkepal. Dia tak menyangka bila uminya sudah berubah seperti ini. Perubahan yang begitu drastis hingga membuat Rafiena merasa sendiri.
__ADS_1
"Bagaimanapun dia tetap Abiku, Umi!" teriaknya sambil menangis.
"Jangan mimpi!" sindir Umi Raida. "Sampai kapanpun statusmu hanya anak pungut yang menjadi anak sultan."
Rafiena sungguh baru kali ini mendengar kalimat yang begitu menyakitkan keluar dari uminya yang terkenal lembut. Dia sampai tak mengenali uminya lagi.
"Kenapa Umi begitu jahat padaku?" tanya Rafiena menurunkan suaranya.
"Karena kau sudah mempermalukan keluargaku di hadapan publik. Karena kau juga, yang sudah membuat citra kita buruk di hadapan orang. Itu yang membuatku sungguh membencimu," ucap Umi Raida sambil menunjuk Rafiena, "dan kau juga yang harus menyelesaikan sekarang."
"Aku tidak mau!" seru Rafiena turun dari ranjang.
Gadis itu menghampiri uminya dan memeluk kedua kakinya dengar erat.
"Aku tidak mau meminta maaf pada wanita itu, Umi. Dia yang sudah mengambil cinta pertamaku. Dia yang sudah mengambil khali dariku. Dia juga yang sudah mengambil…"
Plak.
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote~~
__ADS_1