
Sepandai apapun kancil melompat. Pasti ia akan jatuh juga. Sepandai apapun bedebah menyembunyikan bangkainya. Suatu hari nanti bangkai itu akan tercium.
****
Malam mulai merangkak naik. Jam dinding yang menggantung di sebuah rumah mewah menunjukkan pukul 10.00 malam. Namun, sepinya malam di luar tak membuat suasana di dalam rumah ikut sepi.
Banyak botol berserakan di atas meja. Puntung rokok pun terlihat ikut membaur dan mengotori meja dan lantai. Suara musik yang keras membuat semua orang yang ada di dalamnya seakan lupa waktu.
Para wanita berpakaian seksi tentu saling bergoyang kesana kemari. Tujuan mereka cuma satu, menarik perhatian seorang pria yang mulai terlihat mabuk.
Pria dengan pakaian atas yang sudah terbuka itu. Terlihat masih begitu fokus dengan minumannya. Bahkan ia tak mengindahkan gerayangan tangan dari wanita di sampingnya.
Dari wajahnya saja, sudah terlihat jelas jika pria itu terlihat begitu frustasi.
"Kau kemana, Dini. Aku merindukan tubuhmu," teriak Anton kencang.
Suara itu tentu tak menjadi pusat perhatian. Karena bagaimanapun, suara musik lebih kencang dan memekakkan telinga semua orang.
__ADS_1
Anton meneguk minumannya dengan kasar lalu ia membanting gelas itu sampai pecah. Tak peduli apapun, pria tua itu mulai beranjak untuk menikmati hiburannya kali ini.
Ingatlah!
Pria tua ini maniak. Dia hanya candu dengan tubuh seksi seorang gadis. Ketika dia menemukan mangsa, maka Anton akan melupakan segalanya.
"Mari kita dansa!" teriaknya.
Tak lama para wanita mulai mendekat ke arah Anton. Pria tua yang walau usianya sudah mulai 50 tahun. Namun, tubuhnya masih terjaga rapi. Jangan lupakan, dia adalah seorang penyuka hubungan badan yang harus menjaga penampilan.
Karena menurutnya, ketika dia menarget seorang wanita. Maka penampilannya harus memadai.
Gerayangan-gerayangan mulai berdesir di dada dan punggungnya. Banyak wanita yang membelai dan mengelus tubuh pria tua yang terlihat mabuk. Bahkan tak ayal banyak yang menjilat dan membuat pola abstrak hingga membuat Anton mendesah.
"Satu...dua...tiga...dobrak!"
Pintu itu terbuka lebar dan menciptakan kekacauan ketika para penari wanita melihat banyaknya polisi di depan pintu. Namun, sayang sekali. Tak ada yang bisa lolos.
Mereka semua hanya bisa mengangkat tangan dengan gemetaran. Tapi berbeda hal dengan pria yang sedari tadi asyik bercumbu dengan wanita yang menggerayangi. Dia bahkan tak tahu jika pintunya sudah didobrak. Efek terlalu mabuk juga hingga membuat Anton lupa diri.
__ADS_1
"Saudara Anton. Angkat tangan!"
Anton dengan tubuh sempoyongan berbalik. Matanya menyipit mencoba melihat siapa gerangan yang ada di depannya. Namun, sayang. Alkohol yang terlalu banyak ia tenggak membuat pandangannya kabur.
Akhirnya, dengan pasrah pria itu dibawa oleh polisi. Anton benar-benar tak sadar jika ia dalam bahaya. Semua kejahatan dan tingkahnya barusan sudah menjadi bukti kuat untuk bisa masuk ke dalam penjara.
****
Di tempat lain.
Setelah mendapatkan kabar yang begitu bahagia. Pria dengan pakaian masih formal itu bergegas keluar. Dia menatap ke sekeliling dan menyadari jika Istana sudah sepi.
Wajar saja jika ruangan besar ini sudah sunyi karena waktu sudah begitu malam. Namun, Ibra tak mau menunda. Pria itu menaiki tangga untuk menemui wanita yang menduduki hatinya.
Tapi saat Ibra hampir sampai di pintu kamarnya. Dia melihat pintu balkon lantai dua terbuka. Khawatir, dia segera melangkahkan kakinya kesana. Tapi, ketika melihat punggung wanita yang begitu ia kenal, membuatnya segera berjalan dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan disini?" sentak Ibra membuat Dini terkejut.
~Bersambung~
__ADS_1
Abang Ib mah gak sabaran. Trobos aja, Bang!
Jangan lupa di like dan komen. hehehe