
Trauma itu memang begitu menakutkan. Namun, perlahan akan sembuh ketika kita mengobatinya bersama orang yang menyayangi kita. ~Aqila Kanairaq
****
Tak perlu waktu lama, seorang Anton langsung menjadi terdakwa bersalah ketika semua bukti sudah membenarkan semuanya. Apalagi ditambah dengan pernyataan para pelayan di rumah, yang mengatakan jika merekalah yang menjadi saksi bagaimana kejamnya seorang Anton pada istrinya, Dini. Sekaligus bagaimana bar-barnya istri pertama Anton.
Dua orang itu juga tak bisa mengelak atau berkilah. Mereka sudah terpojok oleh semua fakta yang terungkap. Ditambah, sebentar lagi, Dini yang termasuk korban kekejaman mereka akan memberikan kesaksian dirinya sendiri di kantor polisi.
Dengan semangat dan tekad dari sahabat sekaligus pria yang bisa memberikan kenyamanan pada dirinya, membuat wanita itu duduk di hadapan tiga orang polisi.
Dua orang polisi wanita dan satu orang polisi pria yang bertugas mengetik semua kesaksiannya ada disana. Semua pertanyaan dari polisi, dijawab dengan jujur oleh Dini. Bahkan bekas pukulan dari Anton di punggung Dini ditunjukkan olehnya.
Pukulan itu adalah pukulan terakhir sebelum dia kabur. Tentu masih berbekas dan begitu jelas. Membuat dua orang polisi wanita disana menitikkan air mata.
Mereka tak menyangka jika seorang istri yang begitu cantik masih bisa mendapatkan kekerasan dari suaminya. Bahkan para polisi itu tak melihat sikap buruk dari Dini. Hingga membuat mereka menganggap jika Anton dan Istri pertamanya benar-benar manusia gila.
"Semoga Anda mendapatkan kebahagiaan setelah ini, Nona," ucap salah satu polisi yang membuat Dini mengulas senyuman tipis.
__ADS_1
"Aamiin."
Prosesi yang hampir memakan waktu dua jam itu akhirnya selesai. Dini keluar yang langsung disambut oleh Ibra dan Aqila.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Ibra pelan yang membuat Dini mengangguk.
Interaksi itu tentu tak luput dari penglihatan Aqila. Hingga membuat wanita itu berdehem sejenak.
"Sepertinya ada yang sedang pendekatan nih," sindirnya sambil melirik ke arah dua orang yang masih bertatapan.
Dini tersipu malu. Namun, tak lama dia menyenggol bahu Aqila hingga membuat dua sahabat itu saling tertawa.
Mata Dini berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika sahabatnya ini begitu tulis dan baik kepadanya. Bahkan ia tak menyangka jika perbedaan status sosial tak membuat Aqila berubah.
Wanita itu yang notabenenya seorang Ratu Brunei masih mau bersahabat dengannya yang hanya seorang suster. Aqila juga masih selalu membantu dan menjaganya dari semua marabahaya yang menyerang. Hingga entah kenapa, Dini sampai bingung bagaimana harus membalas segala kebaikan Aqila kepadanya.
"Ayo kita harus bertemu pengacara!" ajak Aqila membuat Dini mengangguk.
Namun sebelum mereka berjalan. Suara teriakan amarah membuat mereka spontan mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Deg.
Mata Dini begitu terpaku. Bahkan tubuhnya langsung bereaksi gemetaran saat melihat dua sosok yang menjadi sebab traumanya. Keringat dingin mulai muncul di dahinya hingga membuat Ibra yang berada di belakang Dini spontan memegang kedua bahunya.
"Dini," panggil Aqila yang terkejut.
Karena fokusnya pada dua orang yang digiring oleh polisi. Membuatnya lupa jika sahabatnya masih mengalami trauma. Aqila segera memeluk tubuh Dini yang gemetaran dengan air mata mengalir di kedua matanya.
"Tenanglah. Mereka tak akan menyakitimu lagi. Ada kami disini yang akan menjagamu," bisik Aqila pelan sambil mengelus kepala sahabatnya.
Kata-kata itu ia pelajari dari psikiater yang menangani Dini dan ternyata berhasil.
Tak lama tubuh sahabatnya mulai tak gemetaran lagi. Dini sedikit lebih tenang dan Aqila segera mengajak semua orang untuk segera meninggalkan kantor polisi. Semua orang mulai bertekad tak akan mengajak Dini untuk bertemu atau menghadiri sidang Anton dan Istri pertamanya agar kesehatan dan mentalnya segera sembuh dan tak terbayang-bayang oleh kejadian menyakitkan itu lagi.
~Bersambung~
Akhirnya dua orang itu masuk penjara. Gimana sampai sini udah ada yang nebak sama laki yang bareng sama si uler Rafiena?
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1