
Naluri keibuan itu bisa keluar, meskipun dia belum memiliki anak. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Sepeninggal Aqila dan Khali. Air mata yang tadi sudah diusap oleh Mama Angel kembali mengalir. Wanita yang memiliki tiga orang anak itu begitu iba melihat kondisi putrinya.
Kenapa harus Aqila?
Sejak dia kecil, hidupnya sudah penuh perjuangan. Tanpa kasih sayang ayah, hidup dalam kekurangan dan dikhianati kekasihnya.
Kenapa begitu banyak ujian yang menimpanya sampai saat ini?
Harus apa lagi putrinya itu. Apa salah dirinya di masa lalu, hingga putrinya yang harus menanggung semua beban ini.
Apakah ini karma?
Karma karena dulu dia kabur bersama suaminya kesini.
Jika memang benar, berdosakan dirinya yang menyebabkan Aqila sampai di titik yang sekarang?
Adel yang tak kuasa akan keadaan mamanya langsung memeluk Mama Angel. Dia begitu faham apa yang dirasakan ibu tiga anak itu, karena dirinya juga bisa merasakan.
"Mama harus kuat. Demi Aqila, Ma. Dia butuh support kita," ucap Adel mengusap punggung mamanya yang sudah semakin menua.
"Apakah ini karma Mama, Nak? Apakah ini dosa Mama yang ditanggung adikmu?" tanyanya dengan sesenggukan.
Adel menggeleng, "itu sudah takdir Aqila, Ma. Ujian yang sudah Allah siapkan untuknya di dunia."
"Mama harus tabah. Aqila butuh semangat kita, Ma." Akhirnya Kevin yang sedari tadi diam, ikutan berbicara.
Perlahan pelukan Adel dan Mama Angel terlepas. Dengan lembut dia menghapus air mata Mamanya.
"Semua pasti ada jalannya, Ma. Aku yakin nanti akan ada masa dimana Aqila bahagia," ucap Adel yakin dengan senyuman di bibirnya.
"Aamiin."
__ADS_1
Axel yang sedari tadi diam, mendekat ke arah mamanya.
"Maafkan aku, Ma. Karena aku yang meminta Aqila pulang. Jadinya adikku merasa sedih sekarang," sesal Axel menatap mamanya.
Mama Angel beralih. Dia menatap putranya yang sudah menjadi seorang ayah.
"Bukan salahmu, Nak. Benar kata Kakakmu, ini adalah ujian. Kita hanya bisa berada di samping adikmu dan menjadi penyemangatnya."
Axel mengangguk. Benar bukan yang dikatakan oleh kakaknya, Adel?
Memang apa yang harus mereka lakukan sekarang.
Semua ini bukan tentang dunia yang bisa dibuat, melainkan ini perihal anak yang hanya bisa diberi oleh Allah.
Yang hanya bisa dilakukan oleh mereka saat ini ya hanya berdoa dan mnjadi support system terbaik untuk adik dan putrinya.
****
Tengah malam.
Ketika semua orang mulai terlelap akan tidurnya. Terdapat seorang wanita yang terbangun akan lelapnya tidur. Dia merasakan haus hingga membuatnya beranjak dari ranjang.
Aqila segera menuang air putih dari teko ke gelas dan membawanya ke meja makan. Duduk dengan tenang, dia mulai meneguk air putih itu perlahan. Rasa basah itu ternyata begitu menyegarkan sampai tak lama telinga Aqila menangkap suara anak kecil menangis.
Penasaran, segera dia meletakkan gelasnya ke wastafel dan segera menuju sumber suara. Matanya memicing melihat pintu kamar kakak laki-lakinya terbuka sedikit.
Semakin langkah kakinya mendekat, suara tangisan itu semakin kencang. Aqila mengintip dari celah pintu dan mendapati kakak ipar dan Kak Axel sedang menenangkan bayi manis itu.
Tok tok tok.
Akhirnya rasa ibanya semakin menguat dan membuat Aqila mengetuk pintu.
"Oh." Axel terbelalak. Dia tak menyangka bila di balik pintu kamarnya adalah sang adik, "apa suara Xalena sampai di lantai dua?" tanya Axel setelah menyuruh Aqila masuk.
"Nggak, Kak." Aqila menggeleng, "aku barusan dari dapur terus denger suara anak kecil menangis. Jadinya kesini," ucapnya dengan menatap kakak iparnya yang terlihat kerepotan.
Axel yang kasihan akhirnya mengambil ahli. Ayah anak satu itu mulai menimang putri kecilnya itu. Namun, lagi-lagi suara tangisan itu semakin kencang.
__ADS_1
"Apakah Lena sakit, Kak?" tanya Aqila pada Lana, istri Axel.
Lana menggeleng. "Biasanya dia terbangun malam dan minum susu lalu tidur lagi. Ini entah kenapa dia tak mau menyusu."
Aqila beralih. Dia mendekati kakaknya yang sepertinya sudah begitu kewalahan.
"Bolehkah Qila yang gendong?"
Axel menatap adiknya. Dia tak ragu sedikitpun, mengangguk, Axel segera memberikan Xalena dalam gendongan Aqila.
Dengan penuh kesabaran, Aqila mengusap kepalanya sambil membacakan surat kursi dari bibirnya. Takut bayi mungil itu merasa bosan, Aqila juga membawanya ke ruang tengah yang lampunya sudah dihidupkan.
Aqila menggendongnya dan menimang Xalena penuh kelembutan. Suara lantunan sholawat dari bibirnya tentu terdengar oleh Axel dan Lana.
Sepasang suami istri itu, menatap kagum pada Aqila. Tak menyangka bila gadis itu dengan penuh telaten menenangkan anak pertamanya. Tak lama, Mama Angel, Kevin, Adel dan Khali keluar dari kamar.
Suara tangisan itu memang kencang. Namun, tak lama tangisannya meredup dan bayi manis itu terlihat tenang dalam gendongan Aqila. Ada rasa bahagia dalam diri wanita yang begitu ingin hamil itu.
"Masya allah, alhamdulillah." Aqila menghadiahi kecupan di dahi kecil Xalena dengan senyum mengembang.
Segera dia berbalik dan terkejut melihat semua orang ada di sana. Karena terlalu fokus pada Xalena, membuat Aqila tak menyadari kedatangan suami dan keluarganya.
"Keganggu ya?" tanya Aqila meringis.
Dia mendekat sambil menggendong bayi Xalena yang tertidur lelap dalam pelukannya.
"Nggak kok, Nak. Hal itu sudah biasa, tapi kamu begitu pandai menenangkannya," puji Mama Angel.
Aqila tersenyum. "Xalena ditidurkan dimana kak?"
"Di box bayinya, Dek."
Dengan penuh kehati-hatian, Aqila meletakkan bayi mungil itu di boxnya. Bibirnya semakin tersenyum melihat Xalena menggeliat dan kembali tertidur.
Akhirnya malam itu, semua orang mulai kembali ke kamarnya masing-masing setelah Xalena mulai tak menangis dan terbangun lagi.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa tekan like yah. terima kasih.