Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 70


__ADS_3


Jalani hidup seperti angin mengalir. Lepaskan semua pikiran dan beban lalu mulai melangkah ke depan dengan hati tenang dan tanpa gangguan di masa lalu. ~Aqila Kanaira"


****


Setelah melihat kepergian Dini dan Ibra. Aqila mencubit perut sang suami hingga membuat Khali mengaduh.


"Kenapa dicubit?" tanya Khali memasang wajah tanpa dosa.


"Iya. Soalnya Hubby nakal," gerutu Aqila dengan memanyunkan bibirnya.


"Nakal apa aku, Humairah?" rayu Khali menggunakan senjata utama.


Pipi Aqila semakin bersemu merah. Dia selalu merasa malu ketika dipanggil dengan panggilan khusus dari suami tercintanya. Bagaimanapun keduanya selalu saling merayu dan bermanja ketika hanya berdua seperti ini. Namun, baru kali ini Khali memanggilnya seperti itu di ruangan terbuka.  


Setelah menguasai dirinya. Aqila menatap wajah Khali yang puas menggodanya.


"Udah tahu ada orang. Main kecup aja," ujar Aqila yang ditanggapi tawa bahagia oleh Khali. 


"Ihh kok malah ketawa sih," seru Aqila kesal hingga membuat Khali mengangguk.


"Maaf, Sayang. Tapi memang aku gak bisa kalau gak nyium kamu," goda Khali membuat Aqila mendelik sebal.

__ADS_1


"Udah ah. Hubby ngeselin." Aqila beranjak. Namun, saat kakinya hendak melangkah, tangan kanan Aqila ditahan.


"Mau kemana?" 


"Ke kamar," sahut Aqila cuek.


Tak ada jawaban apapun. Sampai Aqila memberanikan diri menoleh ke belakang. Namun, belum sampai ia berhasil berbalik, tiba-tiba tubuhnya sudah melayang hingga membuat wanita itu menjerit. 


"By turunin, By. Ya tuhan, Hubby!" jerit Aqila hingga membuatnya langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Khali.


Selain malu ia juga takut jika tubuhnya akan terjatuh. Uhh bahkan Khali sudah tak kenal tempat, disana masih banyak pelayan berlalu lalang hingga membuat mereka harus menundukkan kepala ketika melihat tingkah laku Raja dan Ratu Brunei. 


"Abaikan mereka, Humaira. Lebih baik kamu memikirkan keselamatanmu sebentar lagi," bisik Khali membuat bulu kuduk Aqila merinding.


Dia mendongak hingga kedua mata mereka saling bertatapan. Aqila bisa melihat kabut gairah di mata Khali, hingga membuat perempuan itu mengerti jika sebentar lagi akan terjadi olahraga yang berpahala.


****


Di Taman Istana Brunei. 


Berbeda dengan suasana di dalam. Di taman ini suasana hening dan dingin. Entah kenapa tak ada yang membuka suara terlebih dahulu. Bahkan tempat duduk antara Dini dan Ibra begitu terkesan jauh.


Hanya terdengar suara gesekan daun yang bergerak karena angin, dan juga kicauan burung yang sesekali terdengar. 

__ADS_1


Suasana seperti ini tentu membuat Dini merasa tenang. Bahkan dia seakan lupa jika ada Ibra yang duduk di kursi yang sama dengannya. Perempuan dengan wajah yang masih ada luka bekas pukul walau samar, lebih menikmati keindahan ini dengan memejamkan matanya.


Namun, sayang sekali. 


Ketika Dini menutup mata, terlihat wajah pria yang menjadi suaminya sedang menggaulinya dengan brutal. Bahkan wanita itu sampai gemetaran karena tak pernah membayangkan akan muncul pikiran itu lagi di dalam kepalanya.


"Dini...Dini…" panggil Ibra cepat ketika dia melihat gelagat aneh pada perempuan itu. 


Ibra mendekat dan mengguncang bahunya begitu keras. Seketika mata Dini terbuka dengan lelehan air mata menetes di sudut matanya.


"Dia...dia kembali hadir di mataku," ucap Dini dengan bibir gemetaran.


"Usst tenanglah. Dia tak akan kembali mendekatimu," ucap Ibra menenangkan.


Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba dua tubuh yang tadinya menjauh kini menempel. Bahkan dengan nyaman Dini memejamkan matanya sambil bersandar di dada Ibra. Entah perasaan apa yang muncul di benaknya. Dia merasa nyaman dan aman ketika berada di pelukan Ibra. 


Apalagi ditambah pelukan dan usapan lembut di punggungnya membuat Dini semakin tenang. Bahkan kata-kata manis dan semangat dari Ibra membuat Dini yang awalnya tak memiliki harapan hidup mulai kembali merasakan kekuatan.


"Tenanglah, ada aku disini yang akan menjagamu."


Entah ada apa dengan hatinya ini. Namun, yang pasti, Dini mulai merasa nyaman dengan pria yang begitu menyebalkan untuknya. Serta Ibra merasakan, rasa yang tak bisa ia jabarkan semakin menyebar di seluruh hatinya.


Bagaimana takdir akan membawa mereka?

__ADS_1


~Bersambung~


Jangan lupa like dan komen!


__ADS_2