Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 73


__ADS_3


Siapa yang berani berbuat, maka dia harus berani bertanggung jawab. Siapa yang berjuang, maka dia yang akan memetik buah hasil perjuangannya. ~JBlack~


****


Seorang Ibrahim tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan bukti dan rekaman tentang kehidupan Dini di rumah suaminya. Hanya dua hari saja, semua file, gambar, video, rekaman sudah ada di tangan Ibra. Bahkan penyusup yang ia masukkan sudah keluar dari sana.


Jangan ditanya kenapa terlalu mudah. Tapi begitulah pekerjaan Ibra. Dia bisa melakukan hal baik maupun kotor dalam hal bersamaan dengan cepat. Yang penting tujuannya untuk kebaikan bersama dan tak melebihi batasan yang diatur oleh Allah.


Saat ini, mata tajam milik Ibra tengah terpaku di depan sebuah laptop yang menampilkan sebuah rekaman suara. Rekaman pria bernama, Anton Anjasmara itu begitu jelas terdengar. Bahkan disana juga terdengar suara lirih seorang wanita yang Ibra tahu mereka sedang apa.


Tanpa sadar tangannya yang menggenggam gelas dengan erat. Matanya menyala tajam mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Anton.


"Aku memang sengaja memberikan hutang pada keluarganya agar mereka menyerahkan Dini yang begitu cantik dann seksi."


Suara itu masih begitu jelas terdengar di kedua telinganya. Hingga tak lama terdengar suara retakan yang membuat Ibra tersadar.


Ah gelas nya pecah. Terlalu kuat menggenggam maka akan menghancurkan. Dan seperti itulah bayangan wajah Dini yang terjadi malam itu. Wanita itu terlihat rapuh, ketakutan, lemah dan luka lebam.


"Aku tak akan memaafkanmu, Brengsek. Kau harus membayar semuanya," ucap Ibra mulai melepas flashdisknya.


Dia segera beranjak dan keluar dari ruang kerjanya yang ada di Istana. Tujuannya saat ini hanya satu. 


Kantor polisi.

__ADS_1


Ibra tak akan menunda ataupun menahan. Dia harus segera menyerahkan semua bukti agar pria itu segera mendekam di penjara. Anton harus membayar setiap kesakitan yang Dini lalui. Membayar segala hal yang sudah dia torehkan pada wanita yang mengisi hatinya itu.


"Mau kenapa, Ibra?" teriak Khali dari belakangnya.


Sepertinya pria itu mengejar langkah Ibra hingga terlihat tarikan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Saya…"


"Santai aja, Ib. Kau adalah temanku. Jangan selalu beranggapan aku adalah bosmu jika kita di luar jam kerja," tegur Khali membuat Ibra pasrah.


"Aku mau ke kantor polisi." 


"Sekarang?" tanya Khali kaget dengan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya," sahut Ibra cepat.


"Masih jam 7, Khal. Aku harus cepat!" ujarnya tak sabaran.


Khali tersenyum kecil. Dia berpikir memiliki senjata andalan saat ini. Ide jahil mulai mengalir di otaknya membuat pria itu mendekat ke arah Ibra. 


"Kau takut dia diambil orang yah?" ledek Khali. "Tenang saja. Dini akan disini sampai suaminya mendekam di penjara. Lalu kau bisa memilikinya."


Sebelum Ibra membalas. Khali sudah berlalu dengan melambaikan tangan menampilkan wajah tanpa dosa. Pria itu seperti bahagia menemukan kejahilan untuk asisten kesayangannya.


Hingga tanpa sadar senyuman kecil terbit di sudut bibir Ibra. Pria itu sudah lama tak merasakan canda tawa bersama tuannya itu. Selain karena pekerjaan yang semakin banyak. Ditambah Khali lebih fokus dengan istrinya. Hal itu tentu membuat waktu keduanya semakin sedikit.

__ADS_1


Tapi sekarang lihatlah!


Hal seperti ini saja sudah bisa mengembalikan canda mereka lagi, dan hal itu tentu menjadi penyemangat dalam diri Ibra.


Tak mau menunda, dia segera masuk ke dalam mobil. Melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke kantor polisi.


Dia sudah tak sabar.


Dia harus gerak cepat.


Apapun itu, Ibra sudah berjuang dan dia berharap agar semuanya berhasil.


"Restui perjalananku ini, Ya Allah. Maafkan aku yang baru kali ini menyetujui sesuatu yang tak diizinkan olehmu. Namun, melihatnya terluka dan disiksa, itu lebih menyakitkan untukku," ucapnya sambil mencengkram setir kemudi. 


~Bersambung~


Aku mendukungmu Abang Ib.


Love sekebon untukmu.


Nah namanya Anton Anjasmara, suami tuanya si Dini.


Kalau yang sama Rafiena keknya aku masih bilang Pria Tampan yak. Hahaa.


Silahkan berpikir keras.

__ADS_1


Jangan lupa di like rek yah, hehe.


__ADS_2