Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 3


__ADS_3


Kebahagiaan istri bukan hanya tentang materi dan uang. Melainkan lahir dan batinnya juga harus turut bahagia oleh seorang suami ~Khali Mateen~


****


Setelah sang istri mulai sedikit tenang. Khali segera menghadiahi ciuman hangat di dahinya dan membuat senyuman tipis terbit di bibir Aqila. 


"Nah kalau gini 'kan baru istri Khali," candanya membuat pipi Aqila memerah.


"Udah jangan ngegombal terus," ucap Aqila sambil merapikan hijabnya. "Ayo kita sarapan, Sayang."


Khali masih diam. Dia menatap sang istri yang sedang membereskan beberapa barang yang berantakan. 


"Kenapa masih diam?" tanya Aqila dengan kening berkerut.


Sungguh wajah wanita itu benar-benar menyedihkan. Lebih tepatnya begitu berantakan. Hidung merah dan kantung mata begitu bengkak membuat wajah yang biasanya fresh terlihat begitu kusut. 


"Kamu beneran mau turun, Sayang?" 


"Iya. Kenapa, By?" tanya Aqila bingung dengan tingkah sang suami.


Khali berdiri lalu melangkahkan kakinya menghampiri sang istri. Dia mengusap kedua mata yang sejak tadi meneteskan air mata dan menciumnya di sana.


"Mata kamu bengkak, Humairah. Aku takut abi dan umi akan berpikiran bahwa anak lelakinya ini sudah menyiksa menantu tersayangnya sampai menangis." 


Aqila terkekeh, dia tahu betul maksud suaminya ini. Sejak mereka menikah, mertuanya memang begitu menyayanginya sama seperti menyayangi Khali. Jadi ketika Aqila bersedih dan menangis, pasti yang akan menjadi korban interogasi adalah putranya sendiri. 


"Baiklah. Qila tunggu disini ya, Hubby."

__ADS_1


"Iya, Sayang. Kita akan makan disini." 


Khali segera mencium pipi sang istri lalu mengucapkan salam. Setelah berada di luar kamar, pria itu menghembuskan nafas berat. Sungguh keadaan seperti tadi tentu menjadi hal berat untuknya.


Dia harus bisa menjadi sosok sandaran yang kuat untuk sang istri. Mengobati kesakitan Aqila dan juga menguatkan dirinya yang juga kadang merasa sakit.


Siapapun pasti akan merasa hampa dengan ketiadaan anak di dalam pernikahan mereka. Akan ada rasa sepi tatkala mereka hanya berdua. Namun, sedikitpun hal itu tak pernah menjadi alasan untuk Khali mendua dari cinta pertamanya itu. 


Aku begitu mencintai istriku dan tidak hadirnya anak tak menjadi alasan untuk aku menyakiti dirinya begitu dalam, batin Khali menjerit. 


Tak mau membuat Aqila terlalu lama menunggu. Dia segera turun ke bawah menuju meja makan keluarga. Disana, Rey bisa melihat sudah ada abi dan umi yang duduk dengan tenang menunggu kehadirannya. 


"Kok sendirian? Kemana menantu Umi, Nak?" tanya Umi Mayra setelah putranya mencium pipinya. 


"Iya, Nak. Apa menantu Abi sakit?" 


Khali menggeleng. Dia menarik salah satu kursi dan mendudukkan dirinya disana. 


"Aqila kembali melakukan tes kehamilan, Umi. Dia mencobanya lagi karena telat datang bulan. Namun, ternyata hasilnya sama saja," ucap Khali menunduk. 


Sungguh jika di hadapan orang tuanya, Khali tetaplah seorang anak yang membutuhkan sandaran. Apalagi masalah yang dia hadapi bukanlah masalah mudah. Melainkan semua ini adalah ujian asli dari Allah dan hanya bisa menunggu takdir itu datang kepada keluarga kecilnya. 


"Ya Allah. Pasti menantu Umi sedih. Umi ingin melihatnya," ujar Umi Mayra henda beranjak.


"Jangan, Umi. Biarkan dulu Aqila tenang. Kita harus mengerti keadaannya," cegah Abi sambil memegang tangan sang istri.


"Tapi, Abi. Umi bisa bayangin gimana perasaan menantu Umi sekarang. Pasti dia begitu kecewa." 


"Nanti Umi temui menantu, Umi. Sekarang biarkan putra kita yang menenangkannya." 

__ADS_1


"Iya, Umi. Ada Khali sekarang. Nanti kalau Khali lagi ke ruang kerja, Umi temani istri Khali yah," pinta Khali penuh harap.


"Pasti, Nak."


"Ya udah. Khali ambil makanan buat sarapan bareng Aqila di kamar." 


"Kenapa gak panggil pelayan, Nak?" tanya Umi yang membantu mengambilkan makanan ke atas piring sang putra.


"Gapapa, Umi. Biar Aqila sedikit tenang sendirian di kamar saat Khali kesini." 


"Baiklah. Sekarang ayo bawa makanan yang banyak dan buat menantu Umi tersenyum kembali," ujar Umi membuat Khali mengangguk.


Rasanya kebaikan Umi Mayra dan Abi Malik adalah sebuah rezeki untuk Aqila sendiri. Kedua mertuanya sudah seperti orang tuanya sendiri. Kebaikan mereka, ketulusan dan perhatiannya benar-benar turun dari hati. Ditambah, orang tua Khali pun tak pernah menyinggung menantunya tentang kehamilan karena keduanya memang benar-benar ingin menjaga perasaan Aqila.


****


"Ya Allah, By. Ini banyak sekali," ucap Aqila saat dia membukakan pintu untuk sang suami. 


"Kamu tau sendiri 'kan, Sayang. Bagaimana sayangnya abi dan umi sama kamu." 


Aqila tersenyum. Hal seperti ini tentu bukan untuk yang pertama kalinya. Tiap kali dia sarapan di kamar, pasti kedua mertuanya akan merasa khawatir dan Aqila yakin suaminya ini diberondong banyak pertanyaan oleh mertuanya tadi.


"Hihi wajar, By. Mereka lebih sayang aku daripada ke kamu," canda Aqila membuat Khali ikut tersenyum.


"Udah bisa ngeledek yah." Khali berbalik. Dia mendekati sang istri dan mencoba meraih tubuhnya untuk dia gelitiki.


Sungguh pemandangan ini begitu menghangatkan ketika suami istri saling bercanda. Rasa sedih yang tadi menyelimuti hati Aqila seakan lenyap. Tawa bahagia yang selalu Khali berikan tentu menjadi obat pelipur lara untuknya.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa tekan tanda like yah dan komen terbaik kalian.


Terima kasih.


__ADS_2