Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 28


__ADS_3


Berikan musuhmu waktu untuk membuktikan bahwa mereka akan kalah dalam peperangan denganmu. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Setelah acara makan siang bersama selesai. Semua orang mulai berjalan menuju ruang tamu. Namun, tidak dengan Aqila, wanita itu benar-benar membantu pelayan di istananya membereskan meja makan.


Sungguh siapapun yang melihat tingkah laku Aqila di istana. Wanita itu terlihat seperti bukan seorang Ratu, malahan dia sudah seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Memasak, menyiapkan sarapan dan juga membersihkan kamarnya sendiri. 


Semua itu memang sudah diminta oleh Aqila pada sang suami, Khali. Dia meminta pada Khali, agar tak menahan dan membatasi segala hal yang memang sudah seharusnya seorang istri lakukan.


Pekerjaan rumah tangga itu adalah pekerjaan istri. Tanggung jawabnya juga, tanggung jawab seorang istri. Bukan karena dia seorang Ratu, maka tanggung jawab itu beralih kepada orang lain.


Aqila selalu mengatakan pada keluarga sang suami, bahwa dia sudah biasa melakukan ini semenjak belum menikah. Bahkan dia juga meminta semua orang bersikap kepadanya seperti biasa ketika hanya ada keluarga dan orang dalam Istana. 


Aqila hanya ingin tinggal seperti rakyat biasa. Dia ingin suasana di rumah, benar-benar seperti rumah pada umumnya. Menenangkan dan menyamankan hati ketika dia memasuki Istana yang megah tempat tinggal suaminya.


Setelah semua selesai, Aqila menyusul suami dan mertuanya yang lebih dulu ke ruang tamu.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut semua orang dengan tersenyum ke arah istri Khali. 


"Lalu apa rencana kalian setelah ini, Nak Ammar?" tanya Abi Malik melanjutkan obrolan yang terputus karena kedatangan Aqila.


"Saya sebenarnya ingin jalan-jalan di seluruh penjuru Brunei. Tapi, saya juga 'kan, tak tahu daerah sini," ujar Ammar membuat Abi Malik mengangguk.


"Bagaimana bila Khali yang menemani? Ya itung-itung sambil mengenalkan sumber daya dan kehidupan Brunei pada tamu istimewa," ujar Abi lalu menatap putranya. "Bagaimana, Nak?" 


Khali mengangguk. "Boleh. Jika Raja Ammar mengizinkan, saya mau mengantar."


"Nanti akan ada orang kepercayaan saya, Ibra. Yang akan menangani semua selama saya tidak ada."


"Baiklah. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." 


Semua percakapan itu tentu saja membuat senyum mengembang di wajah seorang gadis mengembang. Dia tak menyangka bila kakaknya menepati janji yang sudah mereka buat.


Kesempatan bagus ini tentu akan Rafiena manfaatkan untuk bisa berdekatan dengan Raja di hatinya. 

__ADS_1


Ah membayangkan bagaimana nanti ketika mereka jalan-jalan bersama. Tentu tanpa sadar membuat pipi Rafiena memerah. Dia sungguh tak sabar untuk segera berangkat bersama cintanya, Khali Mateen.


Hingga tatapan Rafiena beralih ke arah Aqila. Ternyata wanita itu juga sedang menatap Rafiena dengan senyuman. Hingga gadis itu tersenyum mengejek, memberikan tanda bahwa dia menang satu langkah darinya.


"Aku akan merebut suamimu," ucap Rafiena tanpa suara ke arah Aqila.


Perkataan dari mulutnya sudah bisa ditangkap jelas oleh mata Aqila. Wanita itu tetap tenang dengan senyuman yang tak memudar sedikitpun. Hingga mata Rafiena berkilat tajam ketika melihat pergerakan mulut Aqila yang begitu jelas bisa ditangkap.


"Silahkan. Selagi kamu bisa."


Setelah mengatakan itu, Aqila menggenggam tangan sang suami yang tadi mengusap punggung tangannya. Seakan dia memberikan tanda, bahwa cinta Khali hanya untuknya seorang. 


Hingga tanpa sadar, semua yang dilakukan keduanya bahkan tatapan dan isyarat mereka, tak luput dari sepasang mata yang menatap keduanya begitu intens. Seolah dia baru menyadari sesuatu hal besar yang selama ini membuat hatinya resah.


~Bersambung~


Perang akan dimulai sebentar lagi, haha.


Jangan lupa like dan vote ya~~~

__ADS_1


__ADS_2