
Memiliki mertua yang menyayangimu seperti anak sendiri, tentu menjadi satu hal yang harus kamu syukuri di dunia ini. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Langit cerah mulai berganti semburat senja. Angin sore yang menyejukkan, menerpa ujung hijab yang dipakai untuk membalut kepala gadis tengah duduk termenung sendirian. Matanya menatap kosong ke depan dengan kaki bergelantungan.
Tubuhnya ditopang oleh sebuah ayunan mewah khas kerajaan. Dengan bunyi gemericik air kolam tak membuat lamunan wanita itu terusik. Seakan semua yang ada disekitarnya semakin membuat dirinya menyelami segala kerumitan dalam hidupnya.
Dia, putri dari pasangan Pangeran Khalid dan Angel yang tengah menyendiri di sana. Keberadaan sang suami yang tengah bekerja, tentu menjadi waktu dimana Aqila akan sendirian.
Selama sepuluh tahun pernikahan. Hal yang selalu mengusir kebosanan dirinya adalah bermain di taman Istana-nya ini. Keindahan bunga dan harumnya, tentu membuat hati Aqila menjadi tenang. Namun, terkadang ketenangan itu semakin membuatnya bersedih.
Hati istri mana, yang tak merasa kesepian, setelah menikah sepuluh tahun belum dikaruniai seorang anak?
Hati istri mana, yang merasa bahagia, disaat melihat teman-temannya sudah memiliki anak di dalam pernikahannya?
Tentu walau sedikit saja, pasti akan terselip rasa iri pada kebahagiaan orang lain. Meski hal itu hanya mampu disimpan dirinya sendiri.
Tanpa Aqila sadari, ada seorang wanita paruh baya dengan gamis indah membalut tubuhnya yang masih terlihat bugar dan sehat. Dia adalah ibu dari Khali yang berniat mengunjungi menantu kesayangannya.
"Assalamualaikum."
Umi Mayra semakin dekat. Dia melihat menantunya hanya diam dengan wajah muram. Keadaan seperti ini tentu menjadi pemandangan paling menyakiti hatinya.
"Menantuku." Umi mengusap bahu Aqila hingga gadis itu berjingkat kaget.
"Astagfirullah, Umi." Aqila spontan berdiri. Dia mengambil tangan sang mertua dan menciumnya begitu lembut. "Maaf yah, Umi. Qila melamun tadi."
__ADS_1
"Gak papa, Nak," ucap Umi Mayra sambil tersenyum lembut.
Aqila segera membawa mertuanya duduk di kursi yang ada di taman tersebut. Kedua wanita berbeda umur itu saling duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam.
"Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Umi menatap wajah menantunya yang entah kenapa tak ada perubahan sedikitpun.
Malahan menurut ibu dari Khali, wajah menantunya semakin terpancar kecantikan. Seakan umur yang terus berkurang, tak membuat wajah Aqila berubah sedikitpun.
"Aqila hanya cari udara segar aja, Umi," sahut Aqila dengan tersenyum.
Umi Mayra hanya diam. Dia bisa melihat jika ada raut wajah kesedihan dan kekecewaan pada menantunya. Kehadirannya disini tentu atas keinginan hatinya untuk menghibur menantu kesayangannya ini.
"Qila," panggil Umi membuat Aqila menoleh.
"Ya, Umi?"
"Jangan banyak pikiran, Nak. Umi ngerti kamu pasti sedih atas kejadian tadi pagi. Tapi Aqila harus mengerti, bahwa yang terjadi didunia ini tak luput dari campur tangan takdir Allah," ucap Umi mengelus punggung tangan menantunya itu.
Pertanyaan tentang,
Kapan hamil?
Nikah udah lama, tapi gak hamil-hamil?
Itu menurut kalian memang sepele, tapi menurut mereka yang sedang berada di posisi Aqila. Tentu menjadi hal terberat dalam hidupnya.
Wanita mana yang tak mau hamil?
Wanita mana yang menginginkan ada di posisi ini?
__ADS_1
Jika bisa memilih, mereka juga ingin memiliki anak di saat umur pernikahan mereka masih seumur jagung.
"Maafkan aku, Umi. Seharusnya Umi sudah menimang cucu dan bermain dengannya," ujarnya dengan meneteskan air mata. "Tapi karena aku yang cacat ini, sampai sekarang Umi sama Abi harus kesepian."
Air mata Aqila mengalir deras tak mampu ditahan. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh dia tak sanggup melihat mertuanya yang semakin tua tak memiliki cucu darinya.
Aqila merasa menjadi wanita tak sempurna. Dia wanita cacat yang tak mampu membahagiakan suami dan mertuanya.
Umi Mayra langsung memeluk menantunya. Dia tak menyangka bila Aqila mengalami tekanan batin sekuat ini. Perempuan yang dia tahu begitu kuat, sekarang tak ubahnya seperti wanita lemah dan butuh sandaran jika seperti ini.
"Jangan katakan itu lagi, Nak. Umi dan Abi tak kesepian. Ada Aqila dan Khali yang menemani Umi," ujarnya mengusap kepala Aqila yang dibalut oleh hijab.
"Aqila sudah Umi anggap seperti putri kandung Umi. Kamu juga tak cacat, Nak. Aqila adalah wanita sempurna dengan hati yang begitu kuat dan ikhlas. Umi yakin Aqila bisa melewati cobaan yang Allah berikan saat ini."
"Maafkan aku, Umi. Maaf," ucap Aqila dengan sesenggukan. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Semua yang terjadi memang sudah kehendak Allah dan dia tak tahu harus melakukan apa.
Umi melepaskan pelukannya. Dihapusnya air mata di pipi sang menantu dan memberikan kecupan sayang di dahinya.
"Jangan pernah menyerah pada keadaan, Nak. Umi yakin Allah sekarang sedang menguji keimanan dan keteguhan hati Aqila."
"Doakan aku, Umi. Semoga Aqila bisa melewati semua ini."
"Aamiin."
Akhirnya obrolan sore itu, membuat Aqila masih bisa bersyukur. Gadis itu diberikan mertua yang baik dan begitu pengertian oleh Allah. Dia juga mendapatkan kasih sayang yang tulus dari mertuanya ini. Saat ini Aqila hanya bisa berdoa, semoga semua harapan mertua, suami dan dirinya segera diijabah oleh Allah dan kebahagiaan datang kepada mereka.
~Bersambung~
Jangan lupa tekan like yah. Biar likenya stabil dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Terima kasih.