
Terkadang karena terlalu sayang, kita bisa melakukan hal gila agar orang yang kita sayangi bahagia. ~Tengku Ammar Yuwana~
****
Hari itu juga, akhirnya Khali menemani Raja Ammar dan Rafiena untuk jalan-jalan. Sedangkan Datuk Wan, pria tua itu berpamitan untuk mengobrol santai dengan Abi Malik di Istana Khali.
Tentu hal itu langsung disetujui oleh Ammar. Bagaimanapun, pria itu sudah memikirkan ide yang bisa membuat rencana adiknya berjalan lancar. Demi Rafiena, dia rela melakukan hal besar ini, sampai merusak rumah tangga orang.
Sebelum berangkat, Khali langsung ke kamar bersama sang istri. Dia ingin mengganti pakaian resminya untuk jalan-jalan bersama tamunya.
"Kamu beneran gak mau ikut, Sayang?" tanya Khali yang kesekian kalinya.
Dia melihat Aqila yang sedang mengambil pakaiannya di dalam lemari dengan begitu cekatan.
"Nggak, By. Ini 'kan jalan-jalan bareng rekan kerja Hubby. Kayak gak sopan aja kalau aku ikut." apalagi aku ingin melihat bagaimana sikap dan rencana Putri Rafiena untuk menjeratmu, lanjutnya dalam hati.
"Tapi ini bukan waktu kerja, Sayang. Ikut yah?" rengek Khali menghampiri sang istri.
Dia memeluk tubuh Aqila dari belakang dan mengendus lehernya. Pria itu begitu menyukai posisi seperti ini ketika saling bermesraan. Entah kenapa, setiap memeluk Aqila, akan ada kenyamanan dalam hati dan pikirannya.
"Gak papa, By. Aku tunggu di Istana sama Umi. Nanti kalau kamu pulang, aku buatkan kue kesukaan kamu. Gimana?"
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang, bantuin aku pakai baju!" pintanya yang langsung disetujui oleh Aqila.
Ini bukanlah hal pertama. Selama menikah, Khali maupun Aqila sering melaksanakan sunnah nabi dengan istrinya. Seperti mandi bersama, makan dalam satu piring, bermanja dan membantu pekerjaan istrinya.
Semua hal itu tentu seperti semakin menumbuhkan perasaan cinta satu dengan yang lain. Seakan keduanya saling bergantungan dengan bantuan pasangannya.
Dengan cekatan, Aqila membantu memakaikan kemeja putih dan celana panjang agar terkesan semi formal. Walaupun keduanya ingin jalan-jalan, tetap saja, Khali tak ingin melebihi batasnya. Dia harus tetap menjaga kewibawaan dan ketegasan dalam dirinya yang notabenenya adalah Raja dari Brunei Darussalam.
"Sudah selesai dan suamiku selalu tampan," ujar Aqila dengan menghadiahi satu kecupan di bibir sang suami.
"Hmm dan kamu selalu cantik di mataku." Setelah mengatakan itu, Khali langsung mencium bibir sang istri dengan lembut. Dia seakan tak pernah bosan bermain-main dengan bibir milik istrinya ini.
Seakan apa yang ada dalam diri istrinya adalah sebuah nikotin yang mencandukan dirinya dan tak mau terlalu lama lepas dan jauh.
Nafasnya terengah-engah hingga membuat Khali begitu gemas. Diciumnya dahi sang istri begitu lama dengan mata terpejam.
Apapun masalahnya, kita akan selalu bersama, doa Khali dalam hati.
****
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua dan terutama sang istri. Ketiganya berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan untuk membawa mereka jalan-jalan. Sungguh ekspresi bahagia begitu kentara di wajah Rafiena saat mereka sudah berada dekat dengan mobil.
"Saya di depan ya, Tuan Ammar," ucap Khali saat mereka berhenti di dekat mobil.
__ADS_1
"Bolehkah saya yang di depan, karena saya sangat ingin melihat tiap jalan di Brunei dengan jelas?" ujar Ammar dengan sopan.
"Bukannya saya menolak, tapi saya tidak mungkin duduk berduaan di belakang bersama yang bukan mahram saya," ujar Khali dengan tersenyum.
"Oh maafkan saya, Tuan Khali. Saya lupa jika adik saya ikut," ujar Ammar menyesal.
Khali mengangguk tak mempermasalahkan. Mereka segera memasuki kendaraan roda empat itu. Sebelum sopir melajukan mobilnya, Khali menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah sang istri.
Tak lupa dia memberikan kecup jauh yang langsung dibalas oleh wanitanya. Seakan dunia ini benar-benar hanya dijadikan saksi untuk melihat kemesraan keduanya.
Tanpa Khali ketahui, di belakang kursi yang diduduki. Ammar mati-matian menggenggam tangan Rafiena untuk menurunkan ego dan emosinya.
Keduanya bahkan bisa dengan jelas melihat apa yang dilakukan oleh Khali dan Aqila barusan. Hingga membuat Ammar mati-matian menahan emosi sang adik yang mudah tersulut.
"Tenanglah. Kakak janji akan mencari cara agar kamu bisa dekat dengan cintamu," bisik Ammar membuat Rafiena mulai tenang.
~Bersambung~
Sekarang aku kasih part uwuw uwuw Khali dan Aqila yang banyak, hahaha. Tapi emang keduanya terus mesra geng, mau gimana lagi.
Biar yang panas makin panas dan meledak, hahaha.
Ini hari Senin, jangan lupa vote ya dan like~~~
__ADS_1