
Aku percaya jika pintu rezeki itu banyak. Yang pasti, aku akan mencari rezeki yang membuat istriku ridha dan tak menangis lagi, dan aku juga berani melepaskan rezeki itu. Bila jalannya begitu menyakiti hati istriku sendiri. ~Khali Mateen~
****
"Apa yang sudah dia lakukan disana, Bi?" tanya Umi Raida melihat Rafiena berbicara dengan para wartawan.
"Kita harus mencegahnya, Bi." Lanjut Umi Raida tapi ditahan oleh Ammar.
"Tenanglah, Umi. Kita harus klarifikasi dan mendatangi Kerajaan Brunei untuk meminta maaf. Kita harus datang langsung karena Ammar takut kerjasama kita akan rusak dan hancur hanya karena Rafiena."
"Bagus, Nak. Kamu harus menyelesaikan semuanya," ujar Abi Raden menepuk pundak putranya.
Ketiganya mulai memasuki Istana kembali, tanpa mengindahkan keberadaan wartawan itu. Keberadaan mereka sebenarnya membuat Ammar risih. Namun, dia sudah meminta orang kepercayaannya untuk membuat konferensi pers untuk membantunya mendamaikan orang-orang di luar sana.
*****
Di Istana Brunei Darussalam.
Semua orang saling bergantian menjaga Aqila. Wanita itu hanya tiduran di kamar karena memang keadaannya yang lemah. Dokter sudah mengatakan jika Aqila tak boleh banyak pikiran. Namun, tetap saja, semua masalah ini mengusik pikirannya.
"Jangan pernah mengingat ataupun memikirkan masalah ini lagi, Nak. Biarkan suami dan keluarga kita yang menyelesaikan," ucap Mama Angel sambil mengelus kepala putrinya yang tiduran di pahanya.
__ADS_1
"Entahlah, Ma. Qila merasa, keberadaan Qila disini selalu menyusahkan Abi, Umi dan Suami Qila," ujarnya pelan.
"Kenapa Qila bilang begitu?"
"Karena memang itu kenyataannya, Ma. Sampai saat ini, Aqila selalu menyusahkan Suami Qila. Menemani Qila berobat, terapi serta mengingatkan Qila untuk minum obat," ucap Aqila sambil menepis air mata yang keluar dari sudut matanya. "Qila ngerasa seperti wanita penyakitan, Ma."
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Nak. Itu gak bener." Mama Angel menatap penuh iba ke arah putrinya. Dia tahu betul bagaimana perasaan Aqila sekarang.
Belum dikarunia anak, diberikan penyakit yang baru diketahui, dihujat oleh seluruh wanita diluar sana sebagai wanita mandul, dan dia juga harus melakukan perawatan.
Semua ujian itu seakan sedang bermain-main dengan dirinya. Namun, Mama Angel tahu jika anaknya ini pasti sanggup melewati semua ujian ini. Dia begitu yakin, jika anak terakhirnya ini pasti bisa menyelesaikan semua masalah yang datang dalam hidupnya.
"Apa anak Mama lupa dengan yang namanya keajaiban?"
"Tak ada yang mustahil di dunia ini, Nak," ujar Mama Angel begitu lembut. "Bangun dan duduk!"
Aqila menurut. Wanita itu mendudukkan dirinya dan menatap mamanya yang seperti ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Sejak kecil Qila udah kekurangan kasih sayang papa. Sejak kecil, kehidupan kita juga udah kekurangan harta. Tapi Kak Adel, Kak Axel dan Aqila bisa ngelewatin semua ini. Dihina orang, dicaci orang tapi tak menjatuhkan semangat anak-anak mama. Jadi, Mama yakin. Hanya masalah ini pasti anak mama yang cantik ini bisa melewatinya dengan mudah."
Mata Aqila berkaca-kaca. Wanita itu menatap mamanya penuh sayang. Dia memeluk tubuh ringkih mamanya dengan erat.
Perkataan Mama Angel layaknya suntikan semangat dalam hidupnya. Dia membenarkan apa yang dikatakan mamanya itu. Dulu ketika mereka hidup miskin, dicaci orang sudah menjadi hal biasa. Lambat laun hinaan itu hilang sendiri dalam hidup mereka. Berganti keramahan para tetangga yang sudah menerima kehadiran mereka.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Terima kasih sudah selalu ada buat Qila. Selalu nasehatin Qila kalau Qila salah. Qila ngerasa dapet semangat baru lagi, Ma."
Tanpa mereka sadari. Seseorang melihat interaksi mereka dengan penuh haru. Pikirannya sudah bulat dan dia yakin jika yang dia lakukan semuanya hanya untuk istrinya tercinta.
Segera dia pergi dari ruang kamarnya dan menuju ke posisi Ibra yang saat ini berada di ruang kerja Khali. Ya, pria tadi yang berdiri di pintu kamar adalah Khali. Niat hati ingin melihat keadaan istrinya menjadi urung.
Khali baru mengetahui kelemahan istrinya yang ternyata membuatnya sakit hati. Dia tak menyangka bila Aqila mengira terlalu banyak menyusahkannya.
Hingga akhirnya, Khali sudah memutuskan. Dia tak mau keluarganya menjadi korban dari pekerjaannya. Dia juga yakin, rezeki itu diatur oleh Allah dan sudah ada tarafnya untuk para hambanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ibra langsung ketika Khali sudah duduk di kursi kerjanya.
"Lakukan apa yang kukatakan semalam."
"Apa Anda yakin, Tuan? Kita akan rugi besar jika…"
"Aku tak peduli hartaku, Ibra. Aku hanya ingin mencari rezeki yang diridhai istriku. Meski kita akan mengalami kerugian besar, aku yakin akan ada jalan rezeki dari Allah melalui pintu yang lain."
Ibra tak bisa lagi membantah. Pria itu segera pergi meninggalkan ruang kerja Khali untuk mengerjakan apa yang diperintahkan olehnya. Bagaimanapun nanti keadaannya, Ibra selalu berjanji akan selalu berada di samping Khali untuk membantu pria itu menghadapi semuanya.
~Bersambung~
Jangan lupa like, komen dan vote~~
__ADS_1