Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 64


__ADS_3


Terkadang mimpi buruk itu muncul karena pikiran kita yang sudah terdoktrin dan terbawa di bawah alam sadar. ~JBlack~


****


Perempuan dengan pakaian rumah sakit itu masih terbujur lemas di atas brankar. Matanya yang sejak tadi terpejam dengan tarikan nafas teratur mulai bergerak gelisah. 


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan diikuti suara lirih dari bibirnya.


"Jangan...jangan! Sakit!" serunya pelan dengan tubuh bergetar hebat.


Sepertinya perempuan yang tak lain adalah Dini sedang mengalami mimpi buruk. Bahkan terlihat keringat mulai memenuhi dahinya hingga membuatnya terlihat begitu kacau.


Lirihan dari bibirnya mulai kencang hingga membangunkan Ibra, Aqila dan Khali yang tidur di dalam ruangan tersebut. Dengan tergopoh, Aqila turun dan mendekati ranjang sahabatnya.


"Dini…Dini...bangun," ujarnya berbisik dengan mata mulai berair.


Dia tak tahu kesakitan apa yang dirasakan sahabatnya itu. Namun, melihat bagaimana takutnya dan reaksi tubuhnya saat ini, membuat Aqila yakin jika Dini sudah melewati suatu hal besar dalam dirinya.


"Jangan dekat-dekat. Pergi! Pergi!" serunya berontak. Namun, dengan mata masih terpejam.

__ADS_1


"Dini, tenanglah. Disini aman, ada aku disini," ujar Aqila menenangkan.


Namun, Sayang. Sepertinya mimpi itu terasa nyata untuk Dini. Hingga membuat kekuatan gadis itu begitu besar dan semakin berontak hingga pelukan Aqila terlepas. Untung saja sang suami, Khali Mateen dengan sigap menopang tubuh istrinya yang terdorong oleh tangan Dini.


Ibra yang berada di sisi ranjang akhirnya bergerak. Dengan sekali gerakan dia memeluk Dini dengan erat. Walau gadis itu tetap bergerak dan memberontak. Namun, tak sekalipun Ibra melepasnya. Bahkan tanpa sadar, air mata pria yang selalu dingin itu, mulai menetes.


Ibra yakin jika mental sahabat istri tuannya ini terganggu. Dapat dilihat dari mimpi buruk pada Dini, sudah mampu diprediksikan jika gadis itu mengalami trauma yang mendalam. 


"Ust tenanglah. Ada aku disini," bisik Ibra lembut hingga tak lama pergerakan Dini melemah.


Nafasnya yang naik turun mulai teratur dengan bibir yang sudah berhenti meracau. Merasakan bahwa gadis itu tak akan berontak kembali, Ibra mulai menidurkan tubuh ramping itu dan menyelimuti kembali.


Sungguh perasaan wanita itu mudah perasa. Melihat sahabatnya seperti ini saja, sudah mampu membuat Aqila menangis sepanjang hari. Tapi, Khali memposisikan dirinya. Dia menenangkan sang istri dan membuat Aqila yakin bahwa Dini akan baik-baik saja.


"Kita tunggu dia sadar ya, Sayang. Lalu nanti kita akan tau apa yang sudah terjadi padanya," ucap Khali sambil memeluk istrinya dan meninggalkan kecupan di kepalanya.


Mata Khali beralih ke arah asistennya itu. Dia bisa melihat tatapan berbeda dari mata Ibra pada Dini. Diam-diam pria itu tersenyum ketika menyadari jika ternyata asistennya masih memiliki hati pada seorang perempuan. Karena memang selama ini yang Khali tau, bahwa asistennya itu selalu menghindar dan tak pernah memikirkan perempuan dalam hidupnya.


****


Udara dingin pagi mulai menusuk ke tulang seorang perempuan. Dia bisa merasakan sakit di punggung tangan kiri dan sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Perlahan mata yang sudah sejak tadi dia istirahatkan mulai terbuka perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dinding-dinding kamar berwarna putih dengan aroma obat tercium di hidungnya.


Hingga tak lama, matanya menangkap sebuah infus yang tergantung dan dia mengikuti arah cairan itu.


Matanya menyipit melihat jika tangannya yang sakit karena suntikan infus. Lalu perlahan kepalanya ia gerakkan ke arah tangannya yang terasa berat. Hingga pandangannya membelalak saat melihat rambut pria di tangannya.


Tanpa aba-aba, Dini mulai menarik tangannya dengan keras dan membangunkan Ibra yang ketiduran disana.


"Kamu!" ucap Dini dengan mata membulat terkejut.


"Alhamdulillah. Akhirnya kamu sudah sadar." Mengabaikan ucapan Dini. Ibra begitu bersyukur melihat perempuan yang membuatnya khawatir sudah membuka mata.


"Ngapain kamu disini?" tanya Dini ketus kembali ke mode galak.


Sepertinya pertemuan keduanya yang buruk, begitu membekas di hati Dini. Hingga membuat mereka selalu bertengkar saat bersama.


~Bersambung~


Maaf baru update yah. Semalem aku mau up ternyata ketiduran. Jadi hari ini aku usahain update 3 bab oke.


Jangan lupa di like dulu dan komen.

__ADS_1


__ADS_2