
Kebahagiaan keluarga adalah hal utama. Walau untuk mewujudkannya membutuhkan pengorbanan besar darimu. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~
****
Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Dengan wajah berseri, Aqila menggandeng tangan sang suami menuju pintu utama. Mereka akan menemui kedua mertuanya untuk berpamitan dan bersalaman.
Entah kenapa, mendengar nama Indonesia, membuat hati Aqila berbunga. Mungkin selama beberapa tahun terakhir dia tak pulang, rasa rindu itu begitu membuncah.
Selama ini dia diam dan memendam, karena melihat Khali benar-benar sibuk. Namun, sekarang Aqila sendiri tak menyangka, bila suaminya mau meluangkan waktu untuk melihat ponakan barunya.
"Hati-hati kalian yah. Kalau sampai di Jakarta hubungi Umi," ucap Umi Mayra sambil mencium dahi Aqila dan memeluknya.
"Iya, Umi. Aqila bakalan kabarin Umi nanti," sahut Aqila bahagia.
Mendapatkan perlakuan sederhana seperti ini, tentu membuat hatinya bahagia. Seakan jarak yang membentang antara dirinya dan Mama Angel, sedikit terobati dengan keberadaan mertuanya ini.
Mungkin karena sifat keduanya yang sama. Perhatian serta kasih sayang seorang mertua tak dibandingkan pada menantunya. Semakin membuat hubungan mereka terjalin kuat.
"Jagain menantu Umi ya, Nak." Nasehat Umi membuat Khali yang baru saja melepaskan pelukannya mengangguk.
"Pasti, Umi. Khali bakalan jagain bidadari hati Khali."
Aqila hanya tersenyum dengan pipi yang merona malu. Entah kenapa, walau usia pernikahan sudah sepuluh tahun. Rasa ketika dipuji dan dirayu oleh Khali masih membuatnya tersipu malu. Namun, dengan cepat Aqila mencoba menetralkan degup jantung dan ekspresinya untuk menutupi rona merah di kedua pipinya.
"Khali berangkat ya, Bi."
"Iya, Nak. Hati-hati."
"Assalamualaikum," ucap Khali dan Aqila bersamaan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Dengan romantis, Khali membukakan pintu untuk sang istri dan merapikan gamis Aqila yang sedikit berantakan. Segera dia menyusul masuk dan memberikan lambaian tangan untuk perpisahan mereka kali ini dengan orang tuanya.
****
Sesampainya di Bandara. Sepasang Raja dan Ratu segera digiring melalui pintu khusus menuju ruangan yang biasa anggota kerajaan pakai. Aqila dan Khali masih menunggu Ibra yang sedang mengurus dan mengecek sebelum mereka lepas landas.
"Semua beres, Tuan." Lapor Ibra dan membuat Khali menarik tangan Aqila.
"Terima kasih."
Sepasang suami istri itu segera berjalan menuju pesawat yang akan membawa mereka mengudara. Sebuah benda panjang dan bisa terbang itu tentu sudah tak asing lagi untuk Aqila.
Mereka segera mengambil tempat duduk dengan Aqila di dekat jendela. Gadis itu benar-benar menampilkan senyuman indah di wajahnya karena tak bisa menutupi bagaimana rasa bahagia yang begitu membuncah.
Khali hanya bisa bersyukur. Dia tak menyangka perjalanannya kali ini membuat istrinya begitu bahagia. Jika seperti ini, kenapa dari dulu dia tak membawa Aqila pulang.
Perjalanan yang tak membutuhkan waktu panjang itu, dilalui dengan menatap pemandangan di luar pesawat oleh Aqila. Wanita itu benar-benar begitu meresapi setiap perjalanannya kali ini.
Awan yang berjajar serta burung bertebangan begitu memanjakan mata. Hanya dengan seperti ini saja, wanita itu tak henti-hentinya untuk bersyukur.
Setidaknya Allah masih memberikan kenikmatan yang begitu indah dan tak bisa dibeli olehnya. Mata yang bisa melihat, hidung yang bisa bernafas, tubuh yang sehat dan bisa berjalan membuat Aqila bersyukur.
Dia masih sempurna dan hanya diberikan satu ujian di rahimnya oleh Allah. Hal itu tentu tak sepadan bila dia menyalahkan Allah karena dirinya tak kunjung hamil.
"Maafkan aku, Ya Allah. Aku hanyalah manusia biasa yang masih bisa mengeluh kepadamu," ucap Aqila pelan sambil melihat pemandangan di luar.
Tanpa terasa, pesawat yang mereka tumpangi sudah berhenti dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta. Khali dan Aqila segera keluar dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Ibra.
Para pelayan yang ada disana, membantu membawa barang-barang mereka dan dimasukkan ke dalam bagasi. Hanya butuh waktu lima menit, akhirnya mobil itu mulai melaju meninggalkan area Bandara.
__ADS_1
Jakarta di siang hari tentu masih sama. Terik yang begitu panas dan mobil yang memadati jalanan menjadi hal biasa ketika disini dan tak akan pernah berubah. Aqila merasa begitu senang bisa kembali kesini. Dia tak sabar untuk mengajak sang suami jalan-jalan mengelilingi Kota Jakarta setelah sekian lama tak pulanh ke Indonesia.
"Nanti kita jalan-jalan ya, Hubby," bujuk Aqila membuat Khali tersenyum.
"Tentu. Apapun untuk Ratuku, hamba kabulkan," ujarnya membuat Aqila semakin mengeratkan pelukan di lengan Khali.
Wanita itu sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan Khali. Pria itu takut apa yang terjadi nanti membuat Aqila sedih.
Perasaannya yang gelisah, tanpa sadar membuat tangan Khali yang menggenggam tangan sang istri mengerat.
"Sakit, By." Aqila memukul pelan punggung tangan sang suami hingga membuat Khali terkejut.
"Kamu mikirin apa, By? Sampai tangan aku, kamu genggam kuat?" tanya Aqila menatap sang suami.
Menghembuskan nafas berat. Khali menatap kedua bola mata sang istri. Mencoba menyelami dua mata indah itu dan membaca apa yang dirasakan sang istri.
"Apa kamu bahagia?"
"Sangat, By. Aku sangat bahagia bisa kesini," ujar Aqila dengan yakin.
"Meski apapun yang terjadi nanti di rumah. Kamu bakalan tetep gini?"
Pertanyaan Khali tentu membuat Aqila bingung. Namun, gadis itu tetap mencoba tenang dan memikirkan kata apa yang dimaksud sang suami.
Hingga tak lama, dia menerka apa yang dimaksud Khali di rumah. Pasti Khali mengkhawatirkan hatinya. Apalagi tujuan mereka kesini juga menjenguk keponakan barunya. Tentu hal itu menjadi sensitif untuk mereka.
Aqila tersenyum. Dia mengelus punggung tangan sang suami untuk menenangkan kegundahan hati suami yang begitu dia cintai.
"Aku akan bahagia, By. Aqila bakalan tetap tersenyum apapun yang terjadi. Disana nanti ada seluruh keluargaku, By. Kebahagiaan mereka adalah prioritas utama untukku. Jadi Hubby tenang yah, Qila gak bakal sedih."
~Bersambung~
__ADS_1
Hayoo jangan lupa di tekan like yah, hehehe.