Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 26


__ADS_3


Jangan pernah meragukan kekuatan cinta pasanganmu. Bila kamu sudah melihat bagaimana setianya dia mengutamakan cinta kepada Tuhannya. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Tak ada keraguan ataupun ketakutan dalam diri Aqila. Cukup selama 10 tahun, dia begitu tahu dan paham, bagaimana sikap Khali kepada perempuan lain. Aqila tak pernah memikirkan perasaan suami yang sangat dicintai kepadanya, karena dari semua sikap Khali sudah bisa memancarkan cinta yang selalu menggebu. 


Dua orang adam dan hawa itu, mencintai dalam diam. Namun, tetap saja, semua cinta yang paling utama, hanyalah kepada Allah. Mereka merasa, hubungan keduanya yang bertahan sampai di titik ini, ya karena percaya akan kuasa Allah. 


Lalu sekarang, ketika Allah memberikan ujian kepada Aqila dan mendatangkan orang ketiga. Dirinya tak merasa takut, rasa percaya keduanya begitu menggebu hingga membuatnya yakin, bila Allah akan menjaga suami dan keluarganya.


Setelah Umi Mayra kembali, Aqila berpamitan untuk kembali ke dalam dan mengecek segala macam makanan yang akan disuguhkan untuk makan bersama keluarga Kerajaan Malaysia.


Jika melihat jam yang menempel di dinding, sudah menunjukkan hampir waktu dhuhur. Aqila yakin, sebentar lagi, suami dan rekan kerjanya akan keluar. 


Tak sampai sepuluh menit, benar saja bukan. Khali keluar dari ruang kerjanya dan mencari sang istri tercinta.


"Kemana Ratu Aqila?" tanya Khali saat berpapasan dengan pelayan.


"Ratu ada di ruang makan, Tuan," ujarnya sambil menunduk.


"Terima kasih."


Tanpa banyak kata lagi, pria yang memakai pakaian resmi itu langsung menuju posisi sang istri. Hampir tiga jam tak bertemu, tentu membuat Khali merasakan rindu pada istrinya.

__ADS_1


Senyuman kecil terbit ketika melihat Aqila menata makanan di atas meja makan.


"Assalamualaikum, Istriku," ucap Khali lengan tangan melingkar perut istrinya.


Aqila tersentak lalu meletakkan piring di atas meja makan. Setelah itu, perempuan dengan penutup kepala berwarna hitam berbalik dan tersenyum lembut ke arah Khali.


"Waalaikumsalam, Suamiku." Tangan Aqila sambil meraih dan mencium punggung tangan Khali. "Apakah sudah selesai?" 


"Sudah, Sayang. Kenapa kamu disini? Umi kemana?" tanya Khali beruntun.


Dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan membawanya ke depan. 


"Umi menemani Putri Rafiena di taman, By. Lalu aku izin ke umi mengecek makanan untuk makan siang," ujar Aqila sambil mengusap dada Khali yang terbalut pakaian.


"Baiklah, tapi jangan membangunkan sesuatu dalam diriku, Sayang."


Aqila hanya terkekeh lalu keduanya semakin berjalan menuju ruang tamu. Dari jauh, bisa wanita itu lihat, bila Putri Rafiena memandang kedatangan keduanya dengan kemarahan yang begitu kentara.


Namun, Aqila seakan tak peduli. Khali adalah suaminya, belahan jiwanya dan itu akan terus menjadi miliknya, sampai Allah yang akan memisahkan keduanya.


"Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Umi Mayra ketika Khali dan Aqila sudah duduk di kursi tamu.


"Berjalan lancar, Umi. Semoga kedepannya sesuai dengan rencana yang sudah kita rencanakan."


"Aamiin." 

__ADS_1


Suara adzan berkumandang, membuat para pria berlalu menuju Masjid di Istana. Sedangkan Aqila, wanita itu menuruti permintaan Umi Khali untuk mengantar Rafiena menuju salah satu kamar agar bisa shalat disana.


Dibukannya salah satu pintu kamar tamu dan dia masuk diikuti oleh gadis yang sedari tadi menahan kekesalan dan kemarahan yang bercokol. 


"Mukenanya ada di lemari, Tuan Putri. Anda bisa memakai kamar ini juga untuk beristirahat," ujar Aqila sambil membuka gorden agar kamar tersebut menjadi terang.


"Tidak perlu kau katakan, aku sudah tahu."


"Bagus bila Anda sudah tahu, semoga Anda juga tahu batasan dan bagaimana Anda harus bersikap selama disini," ujar Aqila sambil tersenyum manis. 


Rafiena tersenyum sinis. Kedua tangannya terkepal menahan emosi yang begitu ingin meletup-letup. 


Dia mendekati Aqila dengan menatapnya tajam. Sedangkan wanita yang ditatap, hanya diam sambil tersenyum ke arahnya. 


"Tersenyumlah sepuasmu, sebelum air mata akan berderai di wajahmu ini, Ratu," ejek Rafiena mencemooh.


"Terima kasih. Saya akan selalu tersenyum apapun keadaannya, dan satu lagi. Saya akan menunggu waktu dimana Anda membuktikan bahwa air mata saya akan berderai."


Setelah mengatakan itu, Aqila segera berlalu meninggalkan gadis yang sudah tak bisa menahan kemarahannya. Rafiena melampiaskan semua kekesalannya dengan berteriak dan memaki wanita yang menjadi istri dari Khali.


Sungguh Rafiena tak pernah menyangka, bila Aqila adalah wanita yang tak mudah dipengaruhi. Bahkan wanita itu tak terintimidasi sedikitpun dengan ancamannya.


"Tunggu saja. Aku akan merebut semua yang kau miliki sekarang dan akan menendangmu keluar dari Istana ini."


~Bersambung~ 

__ADS_1


Yang kepanasan dan geram sama ulah Raflesia, kita tabok bareng-bareng hahaha.


Jangan lupa tekan like dan vote~~


__ADS_2