Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 85


__ADS_3


Hidup tanpa dendam akan terasa damai. Cobalah memaafkan dan berdamai maka hidupmu akan terasa ringan. ~JBlack~


****


Setelah kabar yang mengejutkan baru didengar dari televisi. Sebuah ketukan pintu hingga munculnya Ibra membuat semua keluarga langsung mengalihkan perhatiannya. 


Apalagi ditambah kedatangan pria itu tak sendiri. Melainkan di depan pintu ruang rawat istrinya terdapat 3 orang polisi yang menunggu. Hal itu tentu membuat semua yang ada di dalam beranjak berdiri.


"Ada apa, Ibra?" tanya Khali dengan raut wajah penuh pertanyaan.


"Lebih baik Anda menemui polisi dulu, Tuan," ucap Ibra begitu ambigu.


Khali mengangguk lalu pria itu segera berjalan diikuti oleh Kakek Abdullah, Paman Salim dan Abi Malik. 


"Selamat pagi, Tuan Khali." 


"Selamat pagi," sahut Khali sambil menyambut jabat tangan pria berseragam itu.


"Kami datang kemari ingin menanyakan sesuatu hal kepada, Anda?" 


"Baik. Mari kita bicara disana!" ajak Khali menuju kursi ruang tunggu. 

__ADS_1


Semua orang mulai berjalan dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Mereka semua seakan menunggu kabar apa lagi yang akan mengejutkan.


"Begini, Tuan. Apa Anda tahu siapa dalang dari kecelakaan istri, Anda?" tanya polisi dengan menatap Khali begitu lekat.


"Saya belum tahu, Pak. Bahkan asisten saya masih belum memberikan kabar kepada saya," ujar Khali dengan jujur.


"Dari kamera CCTV, plat mobil dan sidik jari dalang dari kecelakaan ini adalah Putri Rafiena, Tuan." 


"Apa!" Mata Khali, Kakek, Paman dan Abi terbelalak lebar.


Kabar apalagi ini Tuhan.


Pagi ini benar-benar pagi yang begitu luar biasa. Semua menjadi terbongkar dan membuat mereka begitu shock dan terkejut. 


"Ya, Tuan. Tuduhan diperkuat dengan keberadaan mobil yang dipakai tersangka untuk mencelakai istri anda, berada di dekat jenazah Putri Rafiena."


Segala hal mampu perempuan lakukan jika dia sudah jatuh cinta dengan salah. Mereka hanya bisa berbuat untuk memilikinya walaupun menggunakan cara yang salah. 


"Lalu bagaimana dengan kronologis kematiannya?" 


"Sepertinya tersangka meminum banyak alkohol hingga membuatnya kelebihan dosis, Tuan. Namun, kami juga menemukan bekas cekikan di lehernya." 


"Baiklah. Saya tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ini sungguh mengejutkan. Namun, saya berterima kasih karena kabar dari kalian, Pak." 

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan. Kami juga masih terus memantau kematian Putri Rafiena dan akan mengantarkan jenazahnya pada keluarga korban setelah proses otopsi selesai." 


Khali hanya bisa mengangguk. Mereka akhirnya mulai berpisah hingga menyisakan lima orang pria yang berbeda umur dengan wajah menyimpan banyak tanya.


"Apa ini semua benar ulah Rafiena, Ib?" tanya Khali setelah keterdiaman terjadi.


"Saya belum bisa memastikan, Tuan. Kaca mobil itu anti tembus. Ditambah, dari tangan yang keluar dari jendela terlihat jika para penembak itu adalah pria. Tapi…" jeda Ibra membuat Khali dan yang lainnya menunggu.


"Tapi bisa jadi Rafiena duduk di belakang atau dia menyuruh seseorang untuk melakukan hal itu, Tuan." 


Khali hanya mengangguk. Kepalanya terasa lebih pusing setelah menerima begitu banyak kabar dalam waktu bersamaan. Sungguh hari yang berat menurutnya.


"Baiklah," celetuk Kakek Abdullah membuat keempat pria itu menoleh ke arahnya. "Lebih baik kita lupakan saja kejadian ini. Apalagi Rafiena juga sudah meninggal. Setidaknya tak ada lagi wanita yang mengancam keselamatan kamu dan Aqila, Nak."


"Kakek benar," sahut Khali dengan anggukan kepala. "Kita lupakan semua ini dan mulai menata semuanya dari awal. Kita tunggu istriku terbangun dan kita akan mulai dengan hal baru."


"Betul."


Hingga obrolan mereka berhenti ketika Ummi Mayra keluar dengan wajah yang begitu gembira.


"Aqila sudah sadar." 


~Bersambung~

__ADS_1


Aku tebak bakalan banyak yang nunggu momen ini, hehehe.


Jangan lupa di like dan komen.


__ADS_2