
Ternyata Allah masih memberikan ujian kepada kita agar tak lupa untuk selalu bersyukur. ~Khali Mateen~
****
Saat keduanya sedang asyik menunggu antrian obat. Tiba-tiba suara televisi yang begitu menyita perhatian membuat Khali dan Aqila yang sedang menunggu pun menoleh.
Telinga mereka menajam hingga detak jantung keduanya berdebar kencang. Mata mereka terbelalak lebar melihat berita yang sedang disiarkan oleh televisi di depannya.
Berita terbaru dan terpanas.
Ternyata, istri dari seorang Raja Brunei adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
Mata Aqila memanas. Dia tak menyangka akan ada berita seperti ini. Sungguh wanita itu tak pernah berpikir bila sakitnya akan diketahui oleh banyak orang. Ditambah, berita tersebut mengatakan jika dirinya mandul.
Menunduk. Aqila menahan laju air mata yang begitu ingin keluar. Dia tak menyangka akan ada ujian lagi di hidupnya setelah baru saja mendapatkan kabar bahagia.
Apakah dirinya hidup hanya untuk diuji?
Apakah dia diberikan kabar bahagia, hanya untuk menunggu hujatan seperti ini?
__ADS_1
Bersamaan dengan itu. Suara panggilan melalui mic di Apotik, membuat semua yang ada disana menoleh.
"Atas nama, Aqila Kanaira Putri Cullen?"
Deg.
Degupan jantung Aqila semakin berdetak. Keringat dingin semakin membasahi kedua telapak tangannya. Diyakini oleh dirinya, pasti sekarang ia sedang menjadi perhatian seluruh orang yang ada disana.
Namun, tak lama Aqila merasakan genggaman tangan di tangannya. Aqila mendongak dan menatap sang suami Khali yang tersenyum di balik maskernya. Mata Aqila yang basah sungguh membuat jantung Khali begitu sakit.
Kenapa dia selalu membuat istrinya menangis?
"Jangan lihat dan dengarkan mereka, Istriku? Apapun yang terjadi, kamu percaya 'kan sama aku?" Ucap Khali membuat Aqila mengangguk.
Tanpa memperdulikan pandangan orang. Khali menggenggam tangan sang istri dan membawanya menuju tempat apoteker. Dia segera menebus dan membayar obat itu lalu membawa Aqila pergi dari ruangan yang mulai kusuk-kusuk membicarakan keduanya.
Jangan lupakan, semenjak pernikahan mereka berdua. Nama Aqila Kanaira sudah meluas dan dipahami oleh seluruh negara jika itu adalah nama dari Ratu Brunei dan istri dari Khali Mateen. Hingga pasti, seluruh orang yang ada disana, sudah tau jika tadi adalah mereka berdua.
"Jangan pikirkan apapun, Sayang. Sekarang kamu hanya harus fokus dalam pengobatan dan program kita," ujar Khali saat keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Tapi aku takut, By," sahut Aqila pelan sambil menunduk.
__ADS_1
Khali merasa gagal menjadi seorang suami. Dia masih bisa membiarkan istrinya menangis walau bukan karena dirinya. Memiringkan tubuh, Khali mendongakkan wajah Aqila hingga tatapan keduanya bertabrakan.
"Takut apa, Sayang? Takut aku ninggalin kamu?"
Aqila mengangguk. Salah satu yang dia takutkan itu. Dia tak mau menanggung semua ini sendiri. Aqila juga begitu mencintai suaminya hingga rasanya ia belum siap untuk ditinggalkan.
"Dengarkan aku!" Khali menangkup kedua pipi istrinya lalu mendekatkan hidung mereka. "Tak akan ada alasan untuk aku ninggalin kamu, selain hanya kematian."
"Beneran?"
"Beneran, Sayang. Aku akan buktikan semua yang ku katakan."
Aqila memeluk suaminya walau terasa sulit. Dia tak akan meragukan lagi perkataan suaminya. Aqila begitu tahu jika Khali adalah pria sejati yang selalu memegang perkataannya.
"Kita akan melewati semua ini bersama-sama. Aku juga akan mencari tahu, siapa dalang dari semua kekacauan ini."
~Bersambung~
Hmm ulah siapa lagi ini?
Namanya orang baik, bakalan ada aja ujiannya.
__ADS_1