
Terkadang kita harus memaksa dan membantu seseorang agar ia menyadari jika diluar sana masih ada orang yang begitu menyayanginya. ~Aqila Kanaira~
****
Ternyata membawa Dini tinggal di Istana adalah keputusan yang begitu tepat. Entah untuk Dini, untuk Aqila atau Ibra semua bisa melihat jika sejak kedatangannya semua orang bahagia.
Bahkan Aqila sendiri merasa memiliki teman ketika suaminya sedang ada pekerjaan. Kehidupannya sama seperti saat ada Haura. Mereka akan bermain di taman Istana, berbicara sepanjang hari dan mengobrol tanpa mengenal lelah.
Aqila juga merasa jika kehadiran Dini mampu menemani semangatnya dalam program makan sehat sesuai aturan Dokter Syifa. Menurutnya makanan itu terkadang terasa tak enak, karena memang aturan memberikan penyedap harus sesuai ahli gizi yang sudah ditentukan.
Bahkan tak ayal, terkadang Dini menjadi incaran bila makanan itu sudah tak enak dan Aqila meminta sahabatnya menemaninya untuk menghabiskan.
Seperti hari ini, pelayan memberikan salad sayur dan buah pada Ratu mereka. Hal itu tentu menjadi tantangan untuk Dini juga. Pasalnya dua piring salad sayur dan dua piring salad buah sudah tertata rapi disana.
"Uhh kenapa harus ini lagi?" gerutu Dini menatap ngeri ke arah salad sayur.
Jujur salad sayur adalah makanan yang tak disukai Dini. Menurutnya itu pahit dan tak enak. Namun, lagi-lagi melihat wajah sahabatnya yang memelas tentu membuatnya tak sanggup untuk menolak.
"Tidak boleh mengeluh, Sayangku." Hibur Aqila sambil menggoda Dini.
__ADS_1
"Tapi…" Perkataan yang ingin dia katakan harus ditekan kembali saat melihat Khali dan Ibra berjalan menuju ke arah mereka.
"Assalamualaikum," salam Khali membuat Aqila dan Dini berdiri.
Pria tampan dengan pakaian rapi itu mendekat lalu menarik pinggang istrinya. Tanpa memperdulikan tatapan dua manusia horor disana, Khali menjatuhkan sebuah kecupan di dahi Aqila. Spontan hal itu membuat pipi wanita berhijab itu bersemu merah. Apalagi mengingat disana masih ada sahabat dan asisten suaminya.
"Waalaikumsalam," sahut Aqila terbata dan tampak canggung.
"Santai aja, La. Anggap aja kita patung yang gak lihat adegan barusan," ucap Dini sambil terkekeh.
Khali hanya diam tanpa merasa berdosa. Bahkan pria itu menatap asistennya yang sedang menatapnya juga.
"Hiss kamu yah. Mana bisa begitu," gerutu Aqila lalu ia duduk disamping suaminya.
Ibra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia sebenarnya tahu apa maksud tuannya itu. Namun, entah kenapa setiap dekat dengan Dini, pikiran pintarnya selalu berubah menjadi bodoh.
"Kenapa Asisten Hubby aneh sekali?" tanya Aqila hingga membuat Ibra gelagapan.
Khaki hanya mengangkat kedua bahunya acuh hingga membuat Aqila mengerutkan keningnya.
"Duduklah, Asisten Ibra. Apa anda hanya ingin berdiri saja?" tanya Aqila dengan bahasa formal karena mereka ada di area Istana.
__ADS_1
"Bukan, Ratu. Anu…" Ibra semakin bingung. Bahkan pria itu tanpa sadar menggerakkan kedua kakinya untuk menghalau rasa gelisahnya.
"Kenapa?" tanya Aqila yang sudah begitu penasaran.
"Saya ingin mengajak Dini keluar sebentar," pamit Ibra dengan tekad kuat memberanikan diri.
Sesaat jantung Dini berdetak kencang. Dia menelan ludahnya paksa tak menyangka permintaan Ibra adalah mengenai dirinya. Namun, sebenarnya di lubuk hati Dini terdalam, dia juga begitu penasaran tujuan apa yang membuat Ibra ingin mengobrol berdua dengannya.
"Untuk apa?" tanya Aqila penuh curiga.
"Untuk menyelesaikan beberapa urusan."
Saat Aqila hendak menjawab. Ucapan Khali sudah memotong sang istri yang ingin berbicara hingga membuat Ibra sedikit lega.
"Pergilah! Jangan terlalu jauh dan ingat batasan!"
Akhirnya walau berat, Dini pun beranjak dari duduknya. Dia segera mengikuti langkah Ibra setelah berpamitan pada Aqila dan Khali. Dalam benaknya, banyak sekali pertanyaan yang saling menyahut ingin dijawab. Namun, lagi-lagi wanita itu lebih memilih mengalah dan menunggu dalam diam.
~Bersambung~
Jangan lupa di like dan komen yah.
__ADS_1