Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 52


__ADS_3


Aku tak menyangka bila orang yang bersalah masih sulit untuk mengatakan maaf kepada orangnya yang dia zhalimi. ~Khali Mateen~


****


Hari mulai menjelang sore. Kedamaian yang ada di Istana Brunei mulai terusik akan kedatangan tiga buah mobil yang baru saja datang. Semua pelayan dan bodyguard yang ada disana, tentu membantu menyambut dan membukakan pintu untuk para tamu tuannya. 


Kehadiran tamu dadakan itu adalah keluarga Malaysia. Kedatangan yang begitu mendadak, tentu membuat semua keluarga tak menyiapkan persiapan apapun. Tapi, tetap saja. Para pria yang tahu tentang apa yang sudah dikerjakan oleh Khali hanya diam. 


Mereka seolah-olah tak tahu apa-apa dan menyambut kehadiran mereka dengan ramah.


"Masya allah. Saya tidak menyangka bertemu dengan Anda, Tuan Salim," ujar Abi Raden ramah kepada adik dari ayahnya Aqila.


"Saya juga. Selamat datang," ucap Salim ramah.


Umi Mayra dan Abi Malik yang sebagai tuan rumah juga tak kalah ramah dalam bersambut. Mereka juga sudah meminta para pelayan untuk menyiapkan cemilan dan minuman untuk para tamunya.


"Kenapa dadakan sekali?" ucap Umi Mayra setelah melepas pelukannya dengan Umi Raida. 


"Kami kesini ingin bertemu dengan Raja Khali," ucap Umi Raida dengan senyum terkesan dipaksakan.


"Khali masih menemani istrinya di kamar. Sebentar lagi pasti ia turun." 


Ketiga orang itu mengangguk. Tersangka utama sudah hilang entah kemana. Lalu sekarang, Ammar lah yang menjadi senjata utama agar bisa meraih pintu maaf dari keluarga di depannya.


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar milik Khali. Dua orang yang sedang tidur berpelukan itu, terpaksa bangun karena ketukan pintu dari luar. 


Memaksakan membuka matanya lebar-lebar. Aqila yang lebih dulu bangun akhirnya beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya ke sumber suara, perlahan pintu itu dibuka dan menampilkan pelayan pribadinya. 

__ADS_1


"Ada apa, Bi?" 


"Di bawah ada tamu yang mencari Raja Khali, Ratu," ucapnya sambil menundukkan kepalanya sopan. 


"Baiklah. Tunggu sebentar."


Aqila membalikkan tubuhnya dan menutup pintu kembali. Dia berjalan sambil tersenyum ke arah sang suami yang sudah membuka mata dan menatapnya dengan lekat.


"Sudah bangun, hm?" tanya Aqila mendudukkan dirinya di samping Khali.


"Hmm." Khali hanya berdehem. Lalu dia menggenggam tangan sang istri dan menjatuhkan ciuman disana. 


"Di bawah ada tamu yang mencarimu, By," ujar Aqila memberitahu. "Ayo turun!" 


"Tamu?" Kening Khali berkerut. Pria itu berpikir siapa tamu yang datang sore ini. Namun, tak lama pikirannya langsung tersadar ketika dia mengingat sebuah berkas dan surat yang ia perintahkan pada anak buahnya.


"Iya, By. Ayo bersih-bersih dulu, lalu turun!" 


****


Suara gesekan lantai dengan sepatu membuat atensi beberapa orang berpaling. Disana, sepasang suami istri berjalan sambil bergandengan tangan dengan senyum merekah menuju ke arah ruang tamu.


Kehadiran mereka tentu membuat jantung Ammar semakin berdetak kencang. Bahkan dia merasa, udara di ruangan ini seperti habis dan membuatnya kehabisan nafas.


"Assalamualaikum." Salam keduanya sambil tersenyum ramah.


Dengan ramah, Aqila bersalaman dengan Umi Raida dan menyapa Ammar serta Abi Raden dengan menangkup kedua tangannya di depan dada. Begitupun dengan Khali, wajah pria itu seakan dingin dan tak menampakkan senyuman seperti beberapa detik yang lalu ia tampilkan di hadapan sang istri.


"Ada apa Anda datang kemari?" tanya Khali to the point.

__ADS_1


Pria itu memilih duduk di samping sang istri dan menggenggam tangannya. Suaranya tegas dan membuat siapapun merasakan aura mencekam di dalam sini. Bahkan, Aqila sendiri bisa melihat tatapan tak bersahabat dari suaminya.


Ammar menunduk. Pria itu bisa merasakan aura marah dalam diri Khali Mateen. Namun, bagaimanapun dia juga ikut dalam rencana ini pada awalnya. Yang menandakan, bahwa dia juga harus bisa meraih maaf dari Khali dan Aqila.


"Saya kemari ingin meminta maaf pada Anda, Tuan Khali." 


Bibir Khali masih terkatup rapat. Pria itu seakan tak terintimidasi sedikitpun oleh apa yang dilakukan oleh Ammar.  Sudah cukup selama ini dia selalu diam, hingga membuat semua masalah ini menjadi besar.


"Meminta maaf?" ujar Khali sambil tersenyum miring. 


Ammar mengangguk.


"Kepadaku?" tanya Khali membuat Ammar menjawab lagi dengan mengangguk.


"Ya." 


"Sungguh pemikiran Anda begitu buruk dan salah, Tuan Ammar," sindir Khali membuat pria itu mengangkat wajahnya. 


"Apa maksud, Anda?" tanya Ammar dengan kening berkerut. 


"Seharusnya Anda dan keluarga meminta maaf kepada istriku. Karena bagaimanapun, istriku lah yang mendapatkan cemoohan dan hujatan dari fitnah adikmu itu."


~Bersambung~


Maaf baru update.


Entah besok aku bisa update apa nggak.


Aku gak bisa janji soalnya anakku lagi sakit.

__ADS_1


Doakan panasnya cepet turun dan batuknya mendingan.


Terima kasih.


__ADS_2