
Obat untuk menghilangkan stress dan amarah adalah bermanja-manja dengan pasangan halal. ~Aqila Kanaira~
****
Selama perjalanan menuju Malaysia. Ketiga orang itu terus memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Jujur saja, kehilangan kerja sama dengan Brunei membuat guncangan yang lumayan besar untuk kerajaan mereka.
Apalagi, mengetahui fakta jika kerja sama yang dilakukan oleh Brunei dengan Malaysia sangat membantu ekonomi mereka. Maka hal ini tentu membuat Ammar begitu stress.
Tapi, mau dikata apa?
Semua sudah terjadi dan tak perlu disesali. Yang harus mereka lakukan saat ini menerima dan menjalani semuanya dengan lapang dada.
Air mata terus menetes di wajah cantik yang termakan usia itu. Umi Raida hanya diam sambil menangis memikirkan semuanya. Entah kenapa, rasa bencinya semakin dalam kepada Rafiena, karena menurutnya, semua ini terjadi karena ulahnya.
"Kamu harus menemukan adikmu itu, Ammar. Anak tak tau diri itu, harus diberi pelajaran," ucap Umi Raida menatap anaknya tajam.
Ammar hanya diam. Dia menunduk dengan wajah lesu. Entah kenapa rencana yang semula ia susun, menjadi hancur berkeping-keping. Perasaannya tak menentu dengan pemikiran-pemikiran di otaknya.
"Ammar!" bentak Umi Raida membuat pria muda itu tersentak kaget.
"Iya, Umi?" tanya Ammar membenarkan duduknya.
"Cari Rafiena sampai dapat! Umi akan memberikan pelajaran kepadanya," serunya dengan nada yang jelas terdengar marah.
Ammar menghela nafas berat. Dia tahu bagaimana marahnya wanita yang sudah melahirkannya. Jika tak ia cegah, maka Ammar sendiri tahu, bila ada hal gila yang bisa dilakukan oleh uminya.
"Tenanglah, Umi!" ucap Ammar sambil berjalan menuju posisi uminya.
Saat ini ketiganya memang sudah berada di dalam pesawat pribadi Malaysia. Membawa ketiganya pulang dan segera melakukan hal yang diminta oleh Khali.
Dengan lembut Ammar mengusap kepala uminya yang terbalut kerudung dan memeluknya.
__ADS_1
"Umi tak perlu memikirkannya lagi. Ammar akan mengurusnya sendiri. Ammar juga berjanji akan membawanya pulang kemari," ujar Ammar mantap membuat Umi Raida melepaskan pelukannya.
"Janji?"
"Janji, Umi," sahut Ammar dengan wajah terlihat tertekan.
Abi Raden tak mampu berkata-kata lagi. Dia sudah bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Keadaan ini seperti menunjukkan jika Kerajaan Malaysia sedang diujung tanduk.
"Terima kasih, Nak. Kamu adalah anak umi yang selalu bisa umi banggakan."
****
Sedangkan ditempat lain, yang lebih tepatnya Istana Brunei.
Terdapat sepasang suami istri yang sedang duduk bersama di taman dengan saling berdiam diri. Khali benar-benar tak menatap dan mengajak istrinya berbicara. Seakan pria itu sedang mengacuhkan wanita yang begitu dicintainya ini.
Namun, Aqila tak pernah berpikiran buruk. Bahkan dia dengan setia menemani Khali di sampingnya dengan genggaman tangan yang ia selalu rekatkan dan tatapan mata tertuju pada wajah suaminya.
Sungguh Aqila merasa beruntung daripada wanita di luar sana. Dimana jika para pria lebih mementingkan mengejar uang dengan dalih membiayai dan menafkahi keluarganya. Tapi tidak dengan Khali, pria itu rela kehilangan uang hanya demi harga diri istri tercintanya.
Aqila merasa begitu disanjung dan dihargai. Nikmat yang selalu disyukuri dengan adanya Khali di sampingnya dan tak pernah menuntut kepadanya. Walau dia belum memberikan keturunan. Namun, suaminya tak pernah mempermasalahkan.
"By," panggil Aqila manja sambil menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. "Masih lama yah yang mau diem-dieman?" rajuknya dengan mengerucutkan bibirnya.
Khali masih diam, tapi Aqila tak patang arang.
"Aku capek loh liatin wajah tampan udah kayak patung yang kerjaannya diem doang," lanjutnya melirik sang suami.
"Gak bisa balas cium, gak bisa balas meluk, gak bisa balas kusuk-kusuk, huuu aku kangen suamiku yang manja-manja," rengeknya dengan mata dibuat selucu mungkin.
"Yaudah kalau diem aja, Aqila mau ke kakek aja. Mau minta carikan suami baru." Sebelum Aqila berhasil berdiri, tarikan ditangannya membuat Aqila goyah dan jatuh di pangkuan sang suami.
Sungguh Aqila tersenyum dalam hati. Uhh ocehannya berhasil bukan?
__ADS_1
Suaminya ini sangat mudah dirayu dengan kata-kata manja, hihihi.
"Beneran mau cari suami baru?" tanya Khali dengan mata tajam menatap wajah sang istri yang sedang menahan senyum.
"Beneran. Orang punya suami diem aja mana bisa dibuat manja-manja," goda Aqila dengan melingkarkan tangannya di leher sang suami.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiran," elak Khali sampai keningnya berkerut.
"Tapi selama dua jam diem doang. Apa gak cukup?" tanya Aqila pura-pura merajuk.
"Apa selama itu?" tanya Khali dengan tampang tak berdosa.
"Cek aja!"
Khali menatap pergelangan tangannya sedikit dan terbelalak. Dia meringis saat mengetahui jika memang sudah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berdiam diri dan menahan amarah.
"Maaf," sesalnya membuat senyuman Aqila terbit dengan cerah.
"Aku maafin. Tapi…" jedanya membuat Khali menunggu.
Aqila menatap sekitar. Dirasa aman, dia mendekatkan wajahnya dan mengatakan sebuah kalimat yang membuat Khali tertawa begitu lebar.
"Boboin adek yuk bang!"
~Bersambung~
Hahahaha jan mesommm yahhh!!!
Cuma boboin aja loh yah.
Jangan lupa di like dan di komen. vote kalau boleh.
Terima kasih.
__ADS_1
Lagi khilaf bisa update dua bab 'kan.
Yang penting jan nagih up banyak dulu yah. Aku belum sanggup.