Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 55


__ADS_3


Penyesalan itu adanya di akhir dan menyesali semua itu tak ada artinya. Lebih baik berusahalah menjadi yang lebih baik dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. ~JBlack~


****


"Meski kalian sudah melakukan apa yang saya perintahkan. Keputusan saya masih tetap. Saya, Khali Mateen. Memutus semua ikatan kerja sama kita dan tak akan ada kerjasama lagi antara Malaysia dengan Brunei." 


Hancur sudah!


Ketiganya mematung dengan pikiran jauh berkelana. Seakan perkataan Khali barusan adalah bom atom yang menghancur leburkan semua harapan Umi Raida dan Abi Raden. 


Pikiran mereka seakan mendadak kosong dan langkah kakinya seketika kaku tak bisa dilangkahkan. Jujur perkataan Khali benar-benar telak menjurus pada mereka bertiga, dan hal itu tentu membuat Ammar yakin jika perkataan Khali kali ini bukanlah main-main.


Pria tampan dengan gelar Raja Malaysia itu menatap mata Khali. Tak ada rasa arogan dan ketegasan dalam diri seorang Ammar. Seakan apa yang terjadi saat ini adalah buah dari perbuatannya juga.


Jujur Ammar merasa malu berdiri disini. Mendatangi dan meminta maaf di hadapan wanita yang sudah hampir dia hancurkan rumah tangganya. Dia terlena dan terlalu menyayangi Rafiena, hingga telat menyadari jika apa yang dia lakukan salah.


Hingga hal itulah yang membuat pria itu hanya mampu terdiam dan tak memiliki muka lagi di hadapan semua orang. Tanpa sadar, Ammar menjatuhkan tubuhnya di hadapan Khali. 


Dia berlutut di hadapannya bukan karena merasa kalah. Tapi, dia menyadari jika dirinya salah dan bisa disebut biang dari semua masalah ini.

__ADS_1


"Saya minta kebesaran hati Anda dan Istri Anda untuk memaafkan kami, Raja Khali. Saya minta maaf atas nama saya sendiri dan Rafiena, yang berniat menghancurkan rumah tangga Anda. Saya terlambat menyadari jika apa yang saya lakukan itu salah," ujar Ammar tanpa jeda dengan kepala tertunduk. "Tolong jangan lakukan hal berat ini kepada kami." 


Melihat keadaan semakin panas dan rasa kasihan pada Ammar, membuat Aqila yang sedari diam memilih melangkah. Sebagai seorang istri, Aqila menyadari hanya dirinya yang bisa menenangkan hati suaminya. 


Setelah berada di dekatnya, Aqila mengusap punggung Khali hingga membuat pria itu menoleh dan menatap wajah wanita yang begitu dia cintai.


"Jangan hukum mereka seperti ini, By. Maafkan mereka karena dendam adalah penyakit hati yang merusak," ujar Aqila dengan suara pelan dan tersenyum ke arah sang suami.


"Berdirilah, Raja Ammar!" perintah Aqila membuat pria yang dipanggil mendongak. Namun, dia enggan berdiri.


"Saya mohon maafkan kesalahan saya, Ratu. Saya benar-benar menyesal." 


"Saya minta berdirilah, Raja Ammar. Anda adalah seorang Raja dan tak pantas berlutut di hadapan kami." 


"By," panggil Aqila pelan membuat Khali menghela nafas berat.


"Bukankah niatan kalian sudah didapat sekarang? Istri saya sudah memaafkan kalian dan keputusan saya tetap dan tak akan pernah berubah."


Setelah mengatakan itu, Khali menarik tangan istrinya pelan dan berjalan bergandengan pergi dari semua orang.


Tak ada yang bisa mencegah. Bahkan Kakek Abdullah dan Raja Salim hanya diam mengedikkan bahunya acuh. Dua pria tua itu tentu tak akan melarang atau menegur. Jika bukan karena permintaan cucu menantunya, Khali. Pasti kedua orang itu akan bertindak lebih gila untuk membalas siapapun yang berbuat pada cucu tersayangnya. 

__ADS_1


Abi Malik berjalan menuju posisi anaknya tadi. Dia menepuk pundak Ammar dan tersenyum pada pria muda itu.


"Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Penyesalan memang ada di belakang dan tak bisa merubah apapun sekarang. Tapi, setidaknya belajarlah dari kesalahan ini dan berjanji tak mengulanginya, Nak," nasehat Abi Malik membuat Ammar tersadar.


"Sekali lagi maafkan saya dan adik saya, Tuan Malik."


"Kami sudah memaafkanmu, Nak. Ingatlah! Khali bukan membencimu tapi dia ingin bekerja dengan mencari ridha istrinya. Dia tak ingin apa yang dia kerjakan malah menyakiti hati istrinya. Paham, Nak?" 


"Paham, Tuan." 


"Baiklah. Berhati-hatilah sampai di Negara kalian. Semoga Allah melindungi. Bekerjalah dengan rajin dan aku yakin kamu mampu berkembang dan bertumbuh dengan kerajaanmu walau tanpa kerja sama dengan kami." 


Setelah percakapan itu, Ammar berpamitan dan segera mengajak kedua orang tuanya pergi dari Istana Brunei. Ketiganya sudah tak memiliki muka dan semangat lagi. Semua yang mereka lakukan tetap tak membuat Khali mencabut keputusannya. Namun, setidaknya hati Ammar sedikit lega karena sudah mendapatkan maaf dari wanita yang tanpa sadar ia sakiti hatinya.


~Bersambung~


Aqila terlalu baik, mangkanya gampang maafin orang ye. Kalau aku mah, tak geplak dulu tuh, hahaha.


Jangan lupa di tekan likenya geng.


Cuma minta like, komen sama vote aja.

__ADS_1


Soalnya karya ini kagak ada kontrak. Benar-benar nulis ini tanpa pengen dapet gaji, hehe.


Kontraknya di novel baru nanti aja, hehe.


__ADS_2