Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 12


__ADS_3


Semua ujian yang terjadi pasti ada cara untuk menjalaninya. Walau hal itu tentu membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang besar. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Suasana jalan raya terlihat ramai. Banyak sekali lalu lalang kendaraan roda dua dan empat saling berebut memenuhi jalanan. Waktu yang menunjukkan pukul tiga sore, tentu menjadi waktu yang pas para murid pulang sekolah, les dan jalan-jalan.


Keramaian yang ada di luar mobil, tak membuat Aqila terusik. Gadis itu bahkan dengan tenang menatap jalanan Jakarta dari dalam mobil. Sang suami, Khali mengemudi dengan pelan menuju rumah sakit. 


Sepasang pengantin itu saling menikmati indahnya sore di kota yang terkenal ramai itu. Aqila bahkan menatap jalanan yang tak pernah berubah semenjak terakhir kali menginjakkan kakinya disini.


Semuanya tetap sama, macet, ramai, banyak polusi dan kendaraan yang tak pernah sepi. Hal-hal seperti itu kadang membuat Aqila mengingat masa lalu. Mengingat bagaimana dulu dia masih bekerja sebagai Dokter. 


Masa-masa dimana dia masih mencari jati diri, berpacaran, semua itu seakan memutar di otaknya. Namun, ketika melihat wajah Khali yang duduk tenang di kursi kemudi, selalu membuat Aqila bersyukur.


"Kenapa lihatin aku gitu banget, Sayang?" suara Khali yang mengejutkan membuat Aqila tersipu malu.


Dia tak menyangka jika tatapannya akan dipergoki oleh suaminya. Padahal dengan matanya sendiri, Aqila melihat suaminya fokus dengan jalanan di depan. Tetapi, ternyata Khali masih bisa melihat tingkahnya itu. 


"Gapapa, By."


"Yakin gapapa?" tanya Khali menoleh sejenak ke arah Aqila.


"Iya, By. Aku hanya sedang mengagumi ciptaan Allah yang maha sempurna," ucap Aqila dengan pipi merona merah. 


"Ya Allah. Pinter ngerayu sekarang yah?" ledek Khali membuat Aqila terkekeh.


Keduanya seakan tak pernah saling berhenti meledek. Walau hubungan pernikahan mereka sudah berlangsung sepuluh tahun, tak ada yang berubah dalam diri Khali maupun Aqila.


Mereka masih tetap sama seperti dulu awal menikah. Saling bercanda, masih tersipu malu dan saling meledek. Dari sikap itulah, hubungan keduanya terjaga baik. Tak ada kekerasan atau pertengkaran, baik Aqila maupun Khali karena mereka juga saling terbuka. Mereka saling mengasihi hingga membuat rumah tangga impian keduanya tercapai.


****

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi Aqila dan Khali akhirnya terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Khali membantu melepas seatbelt sang istri dan segera keluar untuk membukakan pintu.


Aqila tersenyum, sikap manis suaminya ini masih tetap sama sejak dulu. Ketika keluar berdua, Khali akan memperlakukannya seperti ratu miliknya. Diperhatikan, dipujinya, diagungkan dan dikagumi. 


Siapa yang tak akan iri melihat tingkah seorang Raja yang biasanya dihormati, menjadi tunduk pada Ratunya?


Hanya Khali Mateen, Raja yang mau memuliakan istrinya. 


Dia adalah lelaki yang paham bagaimana harus memperlakukan istrinya dengan baik.


Bagaimanapun, doa istri untuk suami adalah doa yang mujarab.


Dengan percaya diri, Khali menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin. Dia tersenyum, mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istrinya itu.


"Bismillah, Sayang. Rilex," ucap Khali sambil mencium punggung tangan istrinya.


Aqila memaksakan senyuman. Dia selalu seperti ini setiap kali ingin mengecek kandungannya. Padahal sejak dulu, Dokter selalu mengatakan tak ada penyakit apapun dalam rahimnya. Akan tetapi, memang Allah yang belum memberikan rezeki anak kepadanya.


"Aku takut, By," lirihnya menatap Khali.


Khali tersenyum meyakinkan hingga membuat Aqila percaya. Tak lama, keduanya sudah sampai di sebuah ruangan yang tadi dikatakan oleh resepsionis. 


"Tuan Khali dan Nyonya Khali?" tanya perawat itu memastikan. 


"Iya, Sus," sahut Aqila membuat sepasang pengantin itu langsung disuruh masuk.


Adel memang sudah membuat janji hingga membuat keduanya sedikit lebih cepat. Tak perlu mengantri, mereka langsung diminta untuk masuk.


"Selamat sore, silahkan duduk!" ucap Dokter yang masih terlihat cantik walau sudah berlanjut usia. 


"Terima kasih, Dok." 


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Dokter ber name tag Tia begitu ramah.

__ADS_1


"Saya kesini ingin program hamil, Dokter." 


"Apa ada keluhan?" tanya Dokter menatap sepasang suami istri itu dengan serius.


Perlahan akhirnya baik Aqila maupun Khali menceritakan semua yang telah mereka lalui. Dari program hamil sampai program bayi tabung yang gagal. Semua tak ada yang ditutupi, bahkan Aqila juga mengatakan obat mana saja yang dia pakai hingga membuat Dokter Tia mengangguk sambil mencatat segala apa yang dikatakan pasangan di depannya ini.  


"Begitu, Dokter." Tutup Aqila sambil menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir.


"Baik. Saya turut berduka ya, Nyonya."


"Tidak apa-apa, Dokter. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan segalanya untuk seorang anak."


"Nyonya adalah calon ibu yang luar biasa. Semoga Allah segera memberikan keturunan pada, Anda."


"Aamiin."


"Jadi kita akan melakukan prosedur dari awal ya, Nyonya. Kita akan melakukan pengecekan terhadap kondisi rahim, Nyonya sendiri. Disini ada empat metode yang bisa kita pakai," jeda Dokter sambil menatap ke arah Aqila sejenak.


"Yang pertama Histerosalfingografi atau HSG


Prosedur pertama yang bisa digunakan untuk memeriksa kondisi organ reproduksi wanita adalah histerosalfingografi (HSG). Yang kedua adalah USG transvagina, cara lain yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi organ reproduksi wanita adalah USG transvagina. Prosedur ini adalah pengambilan gambar organ reproduksi menggunakan alat USG melalui ******. Yang ketiga, Histereskopi untuk mengetahui kondisi bagian dalam dari organ reproduksi wanita, bisa juga dilakukan prosedur histeroskopi. Prosedur ini biasanya dijalankan dengan alat berupa selang tipis dan fleksibel dengan kamera di ujungnya yang dimasukkan ke rahim. Terakhir, Laparoskopi, selain ketiga prosedur di atas, prosedur lain yang bisa digunakan adalah laparoskopi. Prosedur ini dijalani dengan memasukkan kamera kecil ke perut melalui sayatan kecil yang dibuat di bagian perut. Jadi nanti kita akan melakukan mana yang menurut Nyonya membuat Anda nyaman," ujar Dokter Tia begitu detail.


"Baik, Dok." 


"Anda siap melakukan sekarang?" 


"Siap, Dok." 


"Baiklah, silahkan Anda berbaring dan saya akan mengecek kondisi Anda terlebih dahulu."


~Bersambung~


Ada apa yah dengan rahim Aqila?

__ADS_1


Apakah akan ada sesuatu penyakit disana?


Jangan lupa like~~


__ADS_2