Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 71


__ADS_3


Terkadang Tuhan masih memberikan waktu dimana kita merasa sendiri. Namun, bagaimanapun takdir selalu berpihak pada orang yang sabar. Jika dia mau menunggu maka akan ada jawaban dari semua ujian yang dia berikan. ~Dini~


****


Cukup lama keduanya berpelukan. Sampai tak lama, Dini menyadari jika yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. Dengan spontan, Dini menjauhkan kepalanya dan menghapus air mata yang membanjiri wajah ayunya itu. Lalu perlahan ia mulai mengatur nafas untuk menenangkan dirinya yang masih trauma dan takut.


"Maafkan aku. Aku sudah lancang memelukmu," ucap Dini sambil mengusap lelehan air mata yang masih mengalir.


"Kau tidak salah. Aku lah yang berinisiatif memelukmu agar kau merasa tenang dan aman ketika bersamaku."


Deg.


Jantung Dini berdetak begitu kencang. Dirinya meneliti satu persatu kata yang dilontarkan oleh Ibra. Hingga tanpa sadar, semburat kemerahan muncul di kedua pipinya hingga membuat wanita itu malu dan menundukkan kepalanya.


Tak lama, Dini merasakan elusan lembut di kepalanya yang mengharuskan dirinya untuk mendongak.


Tatapan keduanya bertemu. Bahkan sudah tak ada lagi tatapan menyebalkan di antara mereka. Entah sejak kapan keduanya menyadari, perasaan aneh itu muncul setiap kali mereka bertemu tanpa sengaja.

__ADS_1


Pertemuan tak terduga, interaksi yang begitu menegangkan selalu menjadi kenangan di antara mereka berdua. Hingga tanpa bisa dicegah. Ada perasaan suka yang semakin muncul dan baru mereka sadari saat ini.


"Apa kamu percaya padaku?" tanya Ibra dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.


Namun, seperti terhipnotis. Wanita yang duduk sambil menatap ke arah Ibra itu mengangguk.


Apa yang harus ia ragukan dari Ibra?


Bahkan melihat bagaimana setianya lelaki itu kepada Negara, Tuan Khali dan keluarga ini membuat Dini percaya apa yang dilakukan Ibra selalu baik untuk semua orang.


"Jika kau percaya padaku. Apa kau yakin aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu?"


Permasalahan dirinya?


Jika permasalahan dirinya ya hanya satu yaitu kehidupan bersama suami tua dan istri pertama yang kejam.


Lalu apakah maksud Ibra yaitu ini?


"Apa maksudmu?" Akhirnya kata itulah yang terlontar dari mulut wanita itu.

__ADS_1


Dia menelisik wajah tampan yang begitu membuatnya nyaman. Tubuh yang begitu membuatnya tentram serta perilaku yang begitu membuat Dini seakan dilindungi dan dijaga.


"Aku akan melakukan semua hal agar kau terbebas dari pria tua itu. Apa kau mau?" tanya Ibra lembut dengan tatapan yang begitu tulus.


Jujur baru kali ini Dini bisa melihat sosok lain di diri Ibra. Baru kali ini dia melihat ketulusan dan kelembutan pria itu. Hingga tanpa sadar perlakuan seperti ini, membuat perasaan aneh itu semakin menyebar ke seluruh hatinya.


"Tapi…"


"Aku hanya menunggu jawaban setuju atau tidak," ucap Ibra tegas membuat mata Dini semakin memanas kembali.


Dia semakin bersyukur karena masih ada orang yang mau membantunya. Selama ini Dini merasa sendirian dan dia sudah menyerah akan takdir. Namun, sekarang melihat bagaimana Ibra meminta jawabannya. Membuat semangat untuk lepas dari pria tua bajingan dan istri pertama yang kejam itu semakin bergemuruh. Tanpa menolak, Dini mengangguk dengan lelehan air mata di kedua sudut matanya.


"Apa kau setuju?" tanya Ibra lagi untuk meyakinkan jawaban Dini.


"Aku setuju. Tolong lepaskan aku dari pria tua itu. Aku sudah tak memiliki siapapun dan entah kenapa aku yakin dan percaya bahwa kau bisa melepaskanku dari ikatan jahat ini dan menyembuhkan segala lukaku."


~Bersambung~


Hiyaaa Abang Ibra noh dapat lampu ijo. Sini bayar ke emak, biar jalanmu makin mulus, hahaha.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2