
Suatu hubungan akan terhindar dari kesalahpahaman, bila mereka saling terbuka antara satu dengan yang lain. ~Khali Mateen~
****
"Kamu ada di dalam, Sayang?"
"Iya, Hubby," ujar Aqila sedikit berteriak.
"Kamu baik-baik saja 'kan di dalam?" tanya Khali yang suaranya terdengar khawatir.
"Iya, Hubby. Aku baik-baik saja."
"Ya udah. Cepat keluar yah!"
Aqila menghembuskan nafas berat. Dihapusnya air mata yang masih tersisa di pipinya dan segera membuang tespek itu ke tempat sampah.
Dia menatap matanya yang bengkak dari pantulan cermin. Jika seperti ini, Aqila yakin sang suami akan menyadari perubahannya. Entah berhasil atau tidak, Aqila memilih membasuh wajahnya di wastafel dan segera keluar dari kamar mandi.
"Kenapa lama sekali, Sayang?" tanya Khali yang belum menyadari wajah sang istri.
"Iya, By. Aku tadi sedang…."
"Ya Allah, Humairah. Kenapa mata ini bengkak?" tanya Khali khawatir.
Ditatapnya wajah sang istri yang begitu berantakan dan Khali tahu jika seperti ini, Aqila pasti selesai menangis.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Hubby." Aqila menggeleng. Dia tak mau membuat suaminya ikut khawatir kepadanya.
Khali segera menarik tangan ratu di hatinya itu menuju tempat tidur. Keduanya saling berhadapan hingga membuat tatapan keduanya saling beradu.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka?" ucap Khali yang membuat Aqila tak kuasa menahan tangisannya.
Dia menggeser tubuhnya hingga merapat lalu kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah sang suami.
"Bulan ini aku udah telat datang bulan, Hubby. Lalu barusan aku coba mengeceknya tapi…" jeda Aqila yang dengan kepala tertunduk.
Wanita itu sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan perkataannya. Karena memang hasil yang selalu dikatakan selalu sama.
"Jangan diteruskan, Sayang." Khali menarik tubuh sang istri ke pelukannya. "Jangan pikirkan tentang anak lagi. Aku menikah denganmu bukan karena anak. Tapi aku menikah untuk ibadah terpanjang kita."
Entah kenapa ucapan Khali semakin membuat Aqila menangis tersedu. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan ingin melampiaskan segala sesak di hatinya dengan cara seperti ini.
Setelah merasa tenang. Aqila mulai melepaskan pelukannya dan menatap suami yang begitu dia cintai.
"Kenapa kamu mengatakan kata itu lagi, Sayang?"
"Aku merasa menjadi wanita yang begitu kurang di dekatmu, Hubby. Aku mengerti bagaimana perasaanmu selama ini. Kamu pasti sama sepertiku yang menginginkan kehadiran seorang anak diantara kita," jeda Aqila sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa bisa dicegah.
Entah kenapa seakan takdir selalu memberikannya cobaan yang tiada henti. Ujian yang bertubi-tubi itu selalu hadir sampai dia harus berada di titik ini.
"Kamu adalah sosok yang begitu diinginkan oleh wanita diluar sana, kamu juga bisa bersanding dengan wanita yang jauh lebih sempurna dan bisa memberikan anak untukmu, Hubby," lanjutnya dengan menahan kesakitan dalam dirinya.
Khali masih diam tak bicara. Namun, tangannya bergerak menghapus air mata sang istri yang sangat dia cintai. Ini bukanlah pertama kalinya Aqila mengatakan tentang ini, tapi hampir setiap hari dalam kurun waktu empat tahun. Wanita itu benar-benar merasa tak sebanding berdiri di samping sang suami yang begitu sempurna.
__ADS_1
"Jangan katakan itu lagi, Humairah," ujar Khali dengan pandangan sendu. "Kamu bukanlah wanita cacat, tapi kamu adalah salah satu wanita yang sedang diuji oleh Allah melalui rahimmu."
Aqila terisak. Dia segera menghambur ke dalam pelukan sang suami yang sangat dia cintai. Jujur dia tak pernah meragukan perasaan Khali sedikitpun. Karena sampai detik ini, Khali tak pernah berpaling darinya. Pria itu benar-benar setia dan menerima segala kekurangannya selama ini.
"Aku hanya takut. Aku hanya takut kamu akan meninggalkanku karena menginginkan seorang anak," ucap Aqila dengan tangis semakin deras.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Humairah," bisiknya pelan hingga kedua mata mereka saling beradu.
"Berjanjilah kepadaku!" pinta Aqila dengan wajah sungguh-sungguh.
"Tentang?"
"Jika Hubby ingin menikah dengan wanita lain, tolong katakan jujur padaku. Jangan pernah bermain di belakang karena itu akan sangat menyakitkan." Air mata kembali merembes kencang.
Sungguh perasaan Aqila sedang terguncang. Wanita akan merasa menjadi makhluk paling lemah ketika dia tak kunjung diberikan seorang buah hati. Dunia seakan menghakiminya ketika dia berada di posisi Aqila.
"Aku berjanji tak akan pernah menyakitimu sedikitpun. Pegang janjiku dan aku akan buktikan," ujar Khali yakin dengan sorot mata tajam.
"Terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih banyak." Aqila kembali memeluk tubuh berotot itu kembali.
Mereka saling menenangkan antara satu dengan yang lain. Seperti itulah pernikahan, disaat ada sebuah masalah. Genggamlah tangan pasanganmu dan kuatkan mereka. Carilah jalan keluar bersama dan jangan pernah saling menjatuhkan.
~Bersambung~
Ini entar kalau ada orang ketiga, pada ngamuk gak yah? hahaha
Jangan lupa tekan love yah, biar kalian gak ketinggalan update.
__ADS_1
Jangan lupa di like juga dan di komen.
Kecup jauh.