Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 75


__ADS_3


Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanmu. Aku akan bahagia jika hidupmu dipenuhi canda dan tawa tanpa air mata. ~Ibrahim~


****


"Apa yang kau lakukan disini?" sentak Ibra membuat Dini terkejut.


Wanita itu berjingkat kaget dan membalikkan tubuhnya.


"Mengagetkan saja!" serunya kesal.


"Kau sedang apa?" ulang Ibra saat pertanyaannya tidak dijawab.


"Tak ada. Aku hanya butuh udara segar." 


"Jika kau butuh udara segar itu di pagi hari," ujar Ibra sambil menyandarkan bahunya pada dinding. "Jika jam segini, namanya kau sedang mencari penyakit." 


Kening Dini berkerut. "Apa maksudmu?" 


"Angin malam tak baik untukmu." 


"Aku suster dan aku tahu." Selanya cepat.


"Jika kau tahu kenapa kau bilang mencari udara segar?"


Telak.


Dini bungkam. Dia tak tahu harus berkata apalagi. Jujur dirinya tak bisa tidur. Pikirannya beberapa hari ini memang selalu resah. Entah kenapa otaknya selalu terpaku pada kejadian penyiksaan pada dirinya.


Seakan trauma itu selalu muncul hingga membuat waktu tidurnya berkurang. 


"Melamun lagi?" 

__ADS_1


"Siapa yang melamun?" ketus Dini.


"Kau!"


"Aku gak melamun," kilahnya.


"Cepat masuk! Nanti kau masuk angin," nasehatnya membuat Dini mendelik tak suka. 


"Aku masih ingin disini." 


"Masuk!" 


Melihat tatapan tajam dari Ibra, membuat Dini mau tak mau masuk ke dalam. Mulutnya tak henti menggerutu dan mengumpati pria menyebalkan itu.


"Seenaknya bilang masuk! Begini...begitu!" gerutunya.


Hingga tanpa ia sadari jika Ibra melihat semua tingkahnya. Senyuman terbit di bibir Ibra melihat begitu menggemaskannya wanitanya itu. 


Dini adalah obat terbaik agar Ibra selalu awet muda.


Pria itu bisa tersenyum manis ketika ada di dekat Dini.


Pria itu bisa bersikap jahil ketika berada di sekeliling Dini.


Namun, Sayang sekali itu hanya untuk wanitanya. Tak berlaku untuk semua orang. Ibra tetaplah Ibra. Pria tegas dengan seribu kata diam yang begitu menakutkan. Perintahnya sama seperti Khali, mutlak untuk semua orang.


"Dini…" 


Dini berhenti berjalan. Wanita itu sudah ada di depan pintu kamarnya. Dia tetap bertahan tanpa berbalik karena tak mau menatap wajah yang selalu membuatnya gugup.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucapnya begitu lembut.


Suara itu tentu membuat pertahanan Dini roboh. Wanita itu berbalik dan menatap kedua mata Ibra yang juga menatapnya. Berjalan dengan pelan, hingga keduanya saling bertatapan.

__ADS_1


Jarak mereka hanya tinggal satu jengkal hingga terpaan nafas mereka saling terasa.


"Suamimu sudah ditangkap. Aku jamin dia akan mendekam di penjara seumur hidup."


Deg.


Jantung Dini seakan berhenti berdetak. Tubuhnya mematung dengan mata tak berkedip. Kabar ini tentu suatu keajaiban yang selalu dia inginkan sejak dulu. 


Terlepas dari pria tua mesum. Pergi dari penyiksaan lahir batinnya adalah tujuan hidupnya dulu.


Lalu sekarang?


Dengan bantuan pria yang selalu bertemu dengannya tanpa sengaja, terasa begitu mudah.


Bahkan hanya butuh beberapa hari, suami kejamnya itu sudah ditangani oleh polisi. 


Begitu cepat bukan?


Hingga tanpa sadar air mata mulia menggenang di kedua matanya. Dia terharu dan senang. Dini bahagia dan masih tak menyangka, jika hidupnya sebentar lagi akan bebas. Dia bisa membayangkan jika kehidupannya akan kembali seperti semula, sebelum menikah dengan pria tua itu.


Hingga tanpa Dini menyadari. Ia bergerak lalu menabrakkan dirinya di tubuh Ibra. Kedua tubuh itu saling melekat satu sama lain. Dini memeluk tubuh Ibra dengan erat. 


Air matanya menetes membasahi kemeja Ibra yang mahal. Namun, semua itu tak masalah. Pria tampan itu bahkan menerima pelukan itu dan membalasnya. Tangannya mengusap punggung Dini yang bergetar karena menangis.


"Menangislah jika kau ingin menangis. Tapi pastikan ini adalah tangisan bahagia dan yang terakhir untukmu meneteskan air mata," ucap Ibra pelan sambil mengelus kepala Dini.


"Setelah ini kau harus bahagia. Melanjutkan hidup dengan senyuman dan aku tak akan mengizinkan mata indah ini meneteskan air mata lagi. Berbahagialah dan aku akan setia menjagamu disini."


~Bersambung~


Aduhh Abang Ib. Aku meleleh, Bang.


Jangan lupa like dan komen!

__ADS_1


__ADS_2