Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 14


__ADS_3


Segala penyakit yang muncul, pasti akan ada obat penawarnya. Seperti ujian, seberat apapun ujian itu datang, pasti akan ada jalan yang membantunya keluar dari ujian tersebut. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


Keesokan harinya, seperti perkataan Dokter Tia. Aqila dan Khali kembali ke rumah sakit. Keduanya sudah tak sabar menunggu hasil dari pengecekan kemarin. 


Hal ini memang bukan yang pertama, tetapi tetap saja. Rasa takut dan gugup pasti selalu menghinggapi keduanya. Jika boleh jujur, Aqila memang begitu gelisah. Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu buruk yang akan terjadi kepadanya.


Semoga semua baik-baik saja, doanya dalam hati.


Setelah menunggu antrian, akhirnya nama sepasang suami istri itu dipanggil. Berjalan dengan bergandengan tangan memasuki ruangan Dokter Tia. Aqila tak henti-hentinya memanjatkan doa dan shalawat dalam hatinya. Keduanya mengambil duduk di depan Dokter Tia dengan pelan dan menatap wanita paruh baya yang sedang memegang kertas putri.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Khali," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih, Dokter. Bagaimana hasil tes saya?" tanya Aqila dengan tangannya yang gemetaran.


Di bawah meja, dua telapak tangan saling menggenggam menguatkan antara satu dengan yang lain. Seakan apapun hasil yang akan mereka dengar, tak akan bisa memisahkan mereka. Apa yang akan Dokter Tia katakan, tak akan bisa merubah keadaan jika Khali milik Aqila.


"Sebelum membahas hasil tes, Anda. Apa boleh saya bertanya sesuatu?" 

__ADS_1


"Boleh, Dokter." 


Degup jantung Aqila bertalu kencang. Entah kenapa melihat Dokter Tia yang menatapnya intens semakin membuat Aqila takut. Pikiran-pikiran buruk tentu memenuhi kepalanya disaat seperti ini.


"Apakah selama ini, siklus menstruasi Anda bermasalah?" tanya Dokter Tia begitu hati-hati.


Aqila mengangguk cepat. "Ya, Dokter. Terkadang menstruasi saya datang lebih cepat, tapi kadang juga telat, Dokter." 


"Memangnya ada apa, Dokter? Apakah karena siklus saya tak lancar menjadi pengaruh?" tanya Aqila dengan suara mulai bergetar.


Selama ini semua keluarga juga begitu paham bila siklus menstruasi Aqila tak selancar wanita biasanya. Terkadang jadwal mens Aqila menjadi mundur dan bisa maju. Namun, semua berpikiran bila itu disebabkan karena Aqila adalah gadis yang energic dan mungkin juga karena kelelahan.


"Iya, Nyonya. Bagaimanapun saya harus menyampaikan ini pada, Anda," ucap Dokter Tia menatap Aqila dengan wajah yang sulit diartikan.


Sebenarnya dia juga sama gugup dan takutnya. Bagaimanapun selama mereka menikah, Khali tak pernah curiga akan menstruasi istrinya yang sering telat. Namun, jika benar karena ini, mungkin dia akan menjadi pria yang paling menyesal.


"Dengan berat hati saya menyampaikan jika Anda mengidap Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS)," jeda Dokter Tia sambil menatap kertas di tangannya sekilas.


"Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. Penderita PCOS mengalami gangguan menstruasi dan memiliki kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan."


Sakit? Tentu saja.

__ADS_1


Apa lagi ini, Ya Allah?


Kenapa kau mengujiku lagi saat ini, batin Aqila menjerit. 


Sungguh tubuhnya mendadak kaku dengan lidah kelu tak mampu menjawab perkataan Dokter Tia. Dipikirannya hanya terngiang perkataan tentang 'Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS.)'


Bukan hanya Aqila yang kaget. Khali yang menunggu pun sama terkejutnya. Pria itu baru pertama kali mendengar penyakit itu hingga membuatnya begitu penasaran.


"Bagaimana bisa, Dok? Bagaimana bisa istri saya mengalami penyakit itu?" tanya Khali setelah tersadar akan keterkejutannya.


"Penyebab PCOS ada beberapa faktor, Tuan. Salah satunya yaitu bisa jadi ada keturunan dari anggota keluarga lain, atau kelebihan hormon insulin. Hormon insulin adalah hormon yang menurunkan kadar gula dalam darah. Insulin yang berlebih akan membuat tubuh meningkatkan produksi hormon androgen dan mengurangi sensitivitas tubuh terhadap insulin," ucap Dokter Tia menjelaskan. 


Jujur semua penjelasan itu seakan angin lalu untuk Aqila. Wanita itu seperti merasuk dan terperangkap dalam fikirannya yang bergulat begitu keras.


Aqila mulai takut. Dia takut menjadi wanita mandul. Dirinya takut tak bisa memberikan keturunan pada sang suami. Bila itu semua terjadi, entah apakah dia mampu untuk melewati semuanya atau mungkin akan menyerah dengan keadaan ini.


~Bersambung~


Hiks maafkan aku.


Bagaimanapun semua yang udah kutulis sudah kerencanakan. Jan ngamok kalian yah.

__ADS_1


Jangan lupa like~~~


__ADS_2