Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 41


__ADS_3


Orang jahat akan merasakan kebahagiaan yang singkat karena kebahagiaan yang dirasakan hasil dari merebut milik orang lain. ~JBlack~


****


Di Malaysia.


Tawa bahagia begitu kencang dikeluarkan oleh salah satu gadis yang membuat ulah. Dia tak menyangka bila rencananya berhasil untuk membuat citra seorang Aqila jatuh di hadapan publik. 


Tujuan utama untuk menurunkan mental perempuan itu pun juga berhasil. Melihat banyaknya hujatan dan umpatan serta rayuan para wanita di akun sosial media Khali maupun Aqila. Rafiena yakini jika wanita itu akan terganggu mentalnya.


Setelah ini, dia yakin bila Aqila akan gila dan dirinya akan maju untuk mendaftar sebagai istri dari seorang Khali Mateen. Tingkat kepercayaan yang tinggi, tentu membuat Rafiena begitu percaya diri. Namun, perlu diingat. Jangan terlalu mengharapkan hal tinggi, bila tak siap jatuh ke dasar yang paling dalam. 


Saat ini, gadis yang tengah bahagia itu sedang berguling-guling di atas ranjang besarnya. Dia sedang menikmati siaran televisi dengan berita trending topic yang begitu panas. 


Tawa mengerikan yang begitu mengandung banyak maksud tentu menggelegar di seluruh penjuru kamar. Ia sudah tak sabar untuk melihat berita apalagi yang akan muncul setelah ini.


Apakah berita ini, akan membuat terjadinya perceraian?


Apakah berita ini, akan membuat wanita itu gila?


Yang pasti Rafiena sudah tak sabar.


"Aku akan melakukan perawatan untuk mempercantik diri sambil menunggu kabar bagus dari mereka," ujarnya sambil bertepuk tangan. 

__ADS_1


Akhirnya Rafiena segera turun dari ranjang dan memanggil para pelayan untuk membantunya perawatan. Perlu diingat, seorang putri kerajaan seperti dia, tidak perlu melakukan perawatan tubuh di luar. Karena di dalam Istana saja, semuanya sudah lengkap dan bisa segera dipakai.


****


Ditempat lain.


Di sebuah ruangan besar dengan banyaknya komputer di depannya. Terdapat banyak pria yang duduk menghadap alat elektronik itu masing-masing. Mereka begitu fokus menunggu perintah dari seorang pria tampan yang tengah berdiri menatap ke arah mereka dengan tajam.


Tak ada suara apapun disana. Hanya keheningan dengan deru nafas mereka yang terdengar. Hingga sebuah suara tegas dari sang pemimpin membuat jari lentik kesepuluh orang itu bergerak begitu beraturan dan cepat.


"Kerjakan!"


Hanya satu kata, tapi mengandung arti yang besar. Kabar ini mungkin akan membuat perpecahan besar di antara dua negara yang saling kerja sama dan menimbulkan permusuhan besar. 


"Aku tak pernah memancing permusuhan. Namun, mereka sendiri yang mengobar maka aku akan semakin menumpahkan bensin agar semakin besar." 


Dia segera keluar dan berjalan menyusuri istana yang terasa ramai. Kedatangan keluarga besar tentu membuat suasana yang biasanya sepi dan hening menjadi lebih hidup. 


Senyuman khas terbit di bibirnya tatkala dia melihat wajah sang istri tak semuram tadi. Tawa bahagia yang ditimbulkan dari candaan keluarga, membuat Aqila ikut terbawa suasana.


Tak ada lagi kebahagiaan seorang suami kecuali melihat senyuman di wajah belahan jiwanya.


Khali hanya ingin kebahagiaan ada di dalam keluarganya dan dia berjanji akan membalas siapapun yang berani merusaknya.


"Hubby," panggil suara lembut yang memanggilnya sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Khali mendekat. Dia memberikan ciuman di dahi sang istri lalu duduk di sampingnya. Tentu sikap manis itu, sontak mendapatkan godaan dari yang melihat. 


"Ya Allah. Mataku panas liat pemandangan ini," celetuk Axel sambil mengelus matanya.


"Apalagi aku, huhu. Suamiku kemana yah?" drama Adel sambil beranjak berdiri celingukan mencari kemana suami tercintanya, Kevin. 


"Hati-hati Kak Kevin ilang. Pelayan disini banyak yang cantik loh," canda Aqila sambil terkekeh.


Adel mendelik tak suka. Namun, sedetik kemudian dia tertawa melihat adiknya yang sudah bisa bercanda lagi. 


"Emangnya siapa yang mau sama laki orang? Apalagi udah punya anak tiga?"


"Yakali ada yang ambil, gimana?" tanya Aqila membuat Adel menggeleng.


"Kalau ada yang berani. Nanti dia bakalan tak bawa ke tukang sunat."


Akhirnya canda tawa mereka terdengar begitu membahagiakan. Mereka seakan lupa dengan kekacauan yang ada di luar sana hingga lupa bila akan ada berita besar yang mungkin akan terjadi sebentar lagi. Tunggu saja, tunggu saja pembalasan yang akan membuat lawan mereka menangis tersedu-sedu.


~Bersambung~


Aku makin cinto sama Prince Khali.


Setia bener woyy.


Jangan lupa like dan komen yah~~

__ADS_1


__ADS_2