Dua Garis Merah

Dua Garis Merah
BAB 62


__ADS_3


Entah kenapa aku merasakan perasaan asing yang tak bisa kujelaskan. Perasaan pertama pada perempuan pertama yang begitu menjengkelkan di hidupku. ~Ibrahim~


****


Ibra segera turun dari mobil setelah dia sampai di depan rumah sakit. Tanpa menghiraukan sekitar, segera dia buka pintu belakang dan menggendong kembali tubuh wanita yang membuatnya khawatir.


Sungguh tujuannya saat ini hanyalah Dini, Dini dan Dini. Dia segera berteriak memanggil dokter dan membaringkan tubuh wanita itu di atas brangkar. Pakaian yang selalu rapi itu mulai kusut. Diiringi wajah tegas yang biasanya datar berubah menjadi gelisah dan takut.


Tanpa Ibra sadari, jika apa yang ia lakukan sejak tadi tak lepas dari pandangan dua pasang mata yang menatapnya tak percaya. Bahkan pasangan suami istri itu sampai melongo melihat gelagat Ibra yang tak peduli pada sekitar.


"Itu Ibra 'kan, By?" tanya Aqila saat dia tersadar.


"Iya, Sayang."


"Dia bawa siapa, By? Cepet kesana!" ajak Aqila menarik tangan Khali.


Sepasang suami istri itu segera mengikuti langkah Ibra yang berjalan mengikuti brangkar di depannya. Ibra benar-benar menjadi pria lain saat ini. Pria yang biasanya acuh, datar dan dingin, saat ini menjadi pria gelisah dan penuh kekhawatiran. Hingga entah kenapa membuat Aqila menebak jika wanita yang digendong oleh asisten suaminya itu begitu berarti untuk Ibra.


"Assalamualaikum, Ibra." Salam Khali ketika mereka sudah sampai di depan ruang IGD.

__ADS_1


Tubuh Ibra menegang kaku. Otaknya serasa berhenti saat mendengar suara yang amat familiar untuknya. Tanpa ragu, segera ia balikkan tubuhnya dan ternyata benar bukan.


Tuannya, Khali Mateen. Berdiri di depannya memandang penuh tanya.


"Ada apa, Ibra? Kamu kenapa? Siapa wanita itu?" tanya Khali cepat dengan pandangan tajam ke arah asistennya.


Pria itu memang baru kali ini melihat Ibra bersentuhan dengan wanita lain. Bagaimanapun, jangan lupakan jika hubungan Ibra dan Khali lebih dari asisten dan majikannya. Mereka sudah besar bersama dan tumbuh bersama. Hingga tak ada rahasia apapun di antara mereka berdua.


"Itu, Tuan," jawab Ibra ragu dengan pandangan tertunduk. 


"Angkat kepalamu, Ibra! Katakan!" ujar Khali tegas hingga membuat Ibra menegakkan kepalanya.


Dia tatap wajah tuan sekaligus sahabatnya dengan pandangan mata lemah. Ini bukanlah dirinya, dan Ibra tahu. Tapi entah kenapa dia menjadi selemah ini.


"Astagfirullah. Terus gimana keadaan wanita tadi? Apa dia terluka parah?" tanya Aqila tak sabaran.


Kepala Ibra menggeleng. Pria itu menarik nafas berat dan menghembuskannya.


"Tidak, Ratu. Saya lebih cepat menekan rem mobil dan tak sampai melukainya. Tapi, keadaan wanita itu memang sedang kacau sampai dia pingsan," ucap Ibra dengan suara tegas.


"Siapa wanita itu?" tanya Khali dengan tatapan tak mengendur sedikitpun.

__ADS_1


"Dini, sahabat Ratu Aqila."


Deg.


Jantung Aqila berdebar kencang. Bahkan tubuhnya sampai terhuyung ke belakang karena terkejut mendengar kabar yang baru ia dengar. Jika Khali tak menangkap tubuhnya barusan. Bisa diyakini Aqila akan terjatuh ke lantai.


"Kamu bercanda, Ibra?" tanya Aqila menatap asisten suaminya dengan mata memerah.


Tubuhnya sudah gemetaran dengan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Dia masih tak menyangka jika wanita yang ia lihat berantakan dalam gendongan Ibra adalah sahabatnya.


"Saya tidak bercanda, Ratu." 


"Aku ingin disini, By," pinta Aqila menatap wajah suaminya. 


"Baiklah," jawab Khali lalu beralih menatap Ibra. "Tolong tebus obat istriku dulu, Ibra. Biar kami yang menjaga disini."


Ibra mengangguk. Perasaannya sedikit lebih lega ketika melihat ada wanita yang dekat dengan Dini ikut menjaga. Berpamitan, akhirnya Ibra berjalan meninggalkan sepasang suami istri itu dan menjalankan tugasnya untuk menebus obat dengan cepat. Entah kenapa dia tak mau meninggalkan ruang IGD begitu lama dan takut tak bisa mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Dini, si pengacau hatinya.


~Bersambung~


Khawatir oh khawatir.

__ADS_1


Jangan lupa tekan like ya guys. Yang bab sebelumnya belum di like, yok di like. Like nya jomplang banget eh, hiks.


__ADS_2